Selat ini tidak hanya mengalirkan minyak mentah, tetapi juga 20% bahan bakar jet global serta 16% pasokan bensin dunia. Kelangkaan bahan bakar pesawat dan kendaraan diprediksi akan terjadi secara global jika blokade ini bertahan lebih dari tujuh hari.
JERNIH – Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Jalur sempit yang memisahkan Oman dan Iran ini bukan sekadar perairan biasa; ia adalah ‘chokepoint’ paling vital di planet ini yang mengalirkan seperlima konsumsi minyak dunia.
Laporan terbaru dari Badan Administrasi Informasi Energi (EIA) per Senin (2/3/2026) memperingatkan bahwa penghentian lalu lintas di jalur ini akan memicu guncangan ekonomi yang mampu menyeret banyak negara ke jurang resesi dalam hitungan pekan.
Data Vortexa menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan: 84% minyak mentah dan 83% gas alam cair (LNG) yang melintasi Hormuz ditujukan ke pasar Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan adalah empat raksasa yang kini berada di garis depan krisis.
Jepang menjadi negara yang paling rentan secara struktural, dengan 72% kebutuhan minyaknya bergantung penuh pada kelancaran Selat Hormuz. Sementara itu, China mencatatkan volume impor terbesar mencapai 5,4 juta barel per hari melalui jalur ini.
“Pasar Asia akan menjadi pihak yang paling terdampak. Gangguan di sini bukan hanya soal harga yang mahal, tapi soal ketersediaan fisik energi untuk industri dan transportasi,” tulis laporan EIA.
Analis senior Kpler, Muyu Xu, melaporkan adanya penurunan tajam lalu lintas kapal sejak perang pecah akhir pekan lalu. Sebaliknya, terjadi lonjakan jumlah kapal tanker yang “menganggur” atau berlabuh statis di Teluk Oman dan Teluk Persia.
“Pemilik kapal tidak mau mengambil risiko keamanan maritim setelah peringatan keras dari Teheran. Mereka memilih menunggu di luar zona bahaya,” ujar Muyu via Al Jazeera.
Efeknya tidak main-main. Selat ini tidak hanya mengalirkan minyak mentah, tetapi juga 20% bahan bakar jet global serta 16% pasokan bensin dunia. Kelangkaan bahan bakar pesawat dan kendaraan diprediksi akan terjadi secara global jika blokade ini bertahan lebih dari tujuh hari.
Daftar Negara Pengirim & Penerima Terbesar
Penutupan ini menciptakan situasi lose-lose bagi eksportir maupun importir. Berikut adalah rincian ketergantungan negara-negara terhadap Selat Hormuz berdasarkan data terakhir:
Negara Eksportir (Pengirim Utama):
- Arab Saudi: 5,5 juta bph (38% dari total arus selat)
- Irak: 3,4 juta bph
- Uni Emirat Arab: 1,8 juta bph
- Kuwait: 1,4 juta bph
- Qatar: 600.000 bph (Hampir seluruh ekspor LNG)
Negara Importir (Ketergantungan Tertinggi):
- Jepang 72% (1,5 Juta Barel/Hari)
- Korea Selatan 65% (1,7 Juta Barel/Hari)
- India 50% (1,9 Juta Barel/Hari)
- China 50% (4,8 Juta Barel/Hari)
- Eropa 18% (700 Ribu Barel/Hari)
- Amerika Serikat 2% (500 Ribu Barel/Hari)
Ali Vaez dari International Crisis Group menilai bahwa lonjakan harga minyak saat ini bukan sekadar masalah supply and demand, melainkan didorong oleh ketakutan murni.
“Penutupan ini mengganggu seperlima perdagangan minyak global dalam semalam. Guncangan ini akan memperketat kondisi keuangan global dan memicu inflasi yang sangat sulit dikendalikan,” tegas Vaez. Berbeda dengan insiden bombardir Juni tahun lalu yang tidak menghentikan pelayaran, penutupan resmi oleh IRGC kali ini dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi ekonomi modern.
