Setelah mendominasi lapangan selama satu dekade, Viktor Axelsen resmi mengakhiri kariernya. Di usia 32 tahun akibat cedera yang berkepanjangan.
WWW.JERNIH.CO – “The Great Dane” Viktor Axelsen resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia bulu tangkis profesional di usia 32 tahun. Keputusan ini mengakhiri era dominasi yang hampir tanpa celah selama satu dekade terakhir.
Pengumuman emosional ini disampaikan Axelsen melalui akun media sosial pribadinya. Alasan utama di balik keputusan berat ini bukanlah hilangnya motivasi, melainkan cedera punggung kronis yang dideritanya sejak April 2025.
Meskipun telah menjalani operasi endoskopi, berbagai metode pemulihan terbaru, dan rehabilitasi intensif selama setahun terakhir, tim medis menyarankan Axelsen untuk berhenti demi kesehatan jangka panjang. Ia mengaku tidak lagi mampu berlatih dan bertanding di level tertinggi tanpa rasa sakit yang luar biasa.
“Hari ini bukan hari yang mudah. Tubuh saya akhirnya memberikan sinyal bahwa saya tidak bisa lagi memaksanya. Saya telah memberikan segalanya untuk olahraga ini, dan bulu tangkis telah memberikan segalanya kembali kepada saya,” ungkap Axelsen.
Lahir di Odense, Denmark, pada 4 Januari 1994, Axelsen adalah anomali di dunia tunggal putra yang selama puluhan tahun didominasi pemain Asia. Dengan tinggi badan mencapai 1,94 meter, ia merevolusi gaya bermain tunggal putra.
Jika dulu pemain jangkung dianggap lamban, Axelsen membuktikan sebaliknya. Ia menggabungkan jangkauan langkah yang luas, pertahanan yang rapat, serta smash tajam yang menukik dari sudut yang sulit dijangkau lawan. Kemampuannya berbahasa Mandarin juga membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati dan dicintai oleh penggemar bulu tangkis di seluruh dunia, terutama di Tiongkok.
Viktor Axelsen pensiun dengan status sebagai salah satu pemain tunggal putra terbaik sepanjang masa, bersanding dengan nama besar seperti Lin Dan dan Lee Chong Wei. Ia pernah meraih medali emas Olimpiade (Back-to-Back) pada Tokyo 2020 dan Paris 2024. Ia menjadi pemain tunggal putra kedua dalam sejarah (setelah Lin Dan) yang berhasil mempertahankan emas Olimpiade. Juga medali perunggu Olimpiade di Rio 2016. Selain itu Axelsen adalah juara dunia BWF pada 2017 (Glasgow) dan 2022 (Tokyo).
Yang juga layak dicatata adalah peraih juara BWF World Tour Finals sebanyak 5 kali (termasuk hattrick beruntun pada 2021, 2022, dan 2023). Ia peraih gelar Super 1000 dengan mengoleksi 10 gelar turnamen kasta tertinggi (All England, Indonesia Open, China Open, Malaysia Open).
Peringkatnya juga tak main-main. Axelsen menduduki posisi puncak selama lebih dari 100 minggu berturut-turut, rekor yang hanya bisa dilampaui oleh Lee Chong Wei dalam sejarah sistem peringkat modern.
Dalam pertemuan dengan pebulutangkis Indonesia ia lebih unggul. Seperti Anthony Ginting (14-5) dan Jonatan Christie (11-2).
Generasi penerus dari Denmark tampaknya sudah muncul. Setidaknya ada tiga nama; Anders Antonsen Magnus Johannesen dan Mads Christophersen.(*)
BACA JUGA: Empat Sektor Bulutangkis Indonesia Terlalu Lama Puasa Gelar All England
