Dari ruang perawatan jiwa hingga panggung seni global, simak kisah perjalanan sang “Ratu Polkadot” yang berhasil mengubah pergulatan mentalnya menjadi mahakarya bernilai jutaan dolar.
WWW.JERNIH.CO – Dunia seni kontemporer kehilangan salah satu ikon paling berpengaruh sepanjang masa. Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang yang dijuluki “Ratu Polkadot” (Polka Dot Queen), mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026 di usia 97 tahun akibat gagal organ multipel. Pihak studio dan perwakilannya mengonfirmasi bahwa hingga hari-hari terakhirnya, Kusama tidak pernah melepaskan kuas dan terus melukis dengan penuh dedikasi.
Lahir di Matsumoto, Nagano, pada 22 Maret 1929, Kusama tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kaku. Sejak berusia 10 tahun, ia mulai mengalami halusinasi visual yang memperlihatkan pola bunga dan bintik-bintik menutupi penglihatannya seolah menelan dirinya.
Seni pun menjadi mekanisme utamanya untuk bertahan hidup dan mengolah trauma ketakutan tersebut. Pada akhir tahun 1950-an, ia nekat pindah ke New York dan menjadi bagian dari pergerakan pop art serta minimalism bersama seniman besar seperti Andy Warhol dan Donald Judd.
Kemudian pada tahun 1977, karena pergulatan kesehatan mental yang parah, Kusama secara sukarela memilih tinggal di rumah sakit jiwa di Tokyo, sambil terus berkarya setiap hari di studio pribadinya yang terletak tidak jauh dari sana.

Gaya seni Kusama berakar kuat pada motif pengulangan obsesif (obsessive repetition) dan konsep self-obliteration atau penghapusan diri ke dalam alam semesta.
Ciri khas utamanya tecermin dari penggunaan bintik-bintik polkadot berbagai ukuran yang menjadi tanda tangannya, serta Infinity Nets yang menampilkan jaring guratan cat berulang tanpa batas di atas kanvas. Karya-karyanya memadukan unsur surealisme dan avant-garde yang mengombinasikan lukisan, patung tekstil lunak (soft sculpture), instalasi cermin, hingga pertunjukan seni konseptual.
Sepanjang kariernya, Kusama melahirkan berbagai karya ikonik yang mendunia. Salah satu yang paling fenomenal adalah Infinity Mirror Rooms, yaitu instalasi ruangan berdinding cermin dengan pencahayaan warna-warni berulang tanpa akhir yang menjadi atraksi populer di media sosial.
Selain itu, ia menciptakan Pumpkin, patung labu raksasa kuning berhiaskan polkadot hitam yang berdiri di Pulau Naoshima, serta lukisan kanvas monumental White No. 28 dari era awal kariernya di New York.
Kehebatannya juga merambah dunia busana melalui kolaborasi legendaris bersama rumah mode mewah Louis Vuitton yang menghiasi gerai-gerai global dengan motif bintik-bintik khasnya.
Keberhasilan artistik ini mengantarkan Yayoi Kusama memegang rekor sebagai salah satu seniman perempuan paling sukses secara komersial dalam sejarah. Lukisannya, White No. 28 (1960), pernah terjual di balai lelang Christie’s seharga 7,1 juta dolar dan memecahkan rekor dunia tahun 2014 untuk harga lelang tertinggi bagi karya seniman perempuan hidup.
Sementara itu, karya patung labu dan instalasinya kerap menembus angka lelang antara 5 juta hingga 8 juta dolar. Ia juga mencatatkan rekor sebagai seniman kontemporer dengan pameran paling banyak dikunjungi di dunia, berhasil menarik jutaan pengunjung dari Museum MACAN di Jakarta hingga MoMA di New York. Kepergian Yayoi Kusama meninggalkan warisan abadi tentang bagaimana kerentanan jiwa dan halusinasi mampu diubah menjadi mahakarya visual indah yang memikat dunia. (*)
BACA JUGA: Rekor Baru Lukisan Tertua di Dunia: Cetakan Tangan di Gua di Sulsel Berusia 67.800 Tahun