Site icon Jernih.co

Warga Korsel yang Berdemo Menentang Darurat Militer Dinominasikan Menerima Nobel Perdamaian

JERNIH — Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung menyambut baik kabar yang menyebutkan warga penentang upaya darurat militer Presiden Yoon Suk Yeol dinominasikan menerima Nobel Perdamaian.

“Ini dimungkinkan karena ini adalah Republik Korea, sebuah negara besar dengan rakyat yang menjadi teladan dalam sejarah manusia,” tulis Presiden Lee dalam unggahan X, Rabu 18 Februari.

Kabar warga dinominasikan menerima Nobel Perdamaian muncul di surat kabar lokal Hankyoreh. Menurut surat kabar itu, empat presiden asosiasi ilmu politik dan mantan presiden — termasuk Kim Eui-young, profesor ilmu politik di Universitas Nasional Seoul — layak dinominasikan menerima Nobel Perdamaian karena menentang upaya darurat militer pada 3 Desember 2024 melalui demontrasi damai.

“Ilmuwan politik datang dan melihat demo itu,” kata Kim Eui-young. “Saat demokrasi di seluruh dunia sedang suram, saya pikir Korsel memimpin dan memainkan peran agar negara-negara lain dapat menemukan jalan mereka.”

Kim melanjutkan; “Di era yang disebut kemunduran demokrasi, saya pikir demo damai menentang darurat militer adalah preseden dan model yang harus dipelajari dan diikuti dunia. Kudeta internal berhasil diatasi melalui demonstrasi damai dengan tongkat cahaya dan tatanan damai yang demokratis telah dipulihkan.”

Kelompok tersebut mendefinisikan upaya warga untuk menghalangi darurat militer sebagai Revolusi Cahaya, sebuah istilah yang melambangkan warga yang turun ke jalan sambil memegang tongkat cahaya.

Lee sebelumnya menyatakan harapan bahwa rakyat Korea akan menerima Hadiah Nobel Perdamaian selama pidato yang disampaikan pada 3 Desember tahun lalu.

“Fakta bahwa rakyat kita menolak darurat militer ilegal dan menyingkirkan kekuasaan yang tidak adil melalui cara damai sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Konstitusi dan undang-undang adalah peristiwa bersejarah yang akan dikenang sejarah demokrasi global,” kata Lee.

“Saya yakin bahwa rakyat Korea, yang mengatasi krisis demokrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia secara damai, sepenuhnya layak untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian.”

Exit mobile version