Site icon Jernih.co

WSJ: Trump Pertimbangkan Bunuh Seluruh Pemimpin Iran

JERNIH — Surat kabar The Wall Street Journal (WSJ), Rabu 18 Februari, memberitakan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan kemungkinan membunuh para pemimpin Iran dengan harapan memicu perubahan rezim.

Mengutip sejumlah pejabat AS dan asing, WSJ memberitakan Trump belum membuat keputusan akhir dan masih menerima beberapa pengarahan tentang opsi serangan, termasuk kampanye udara yang berpotensi berlangsung beberapa pekan karna terget yang harus dibunuh — terdiri dari pemimpin politik dan militer — cukup banyak. Tujuan akhir pembunuhan adalah menggulingkan pemerintahan. Opsi lain yang juga dilaporkan WSJ adalah serangan terhadap situs nuklir dan rudal Iran.

CBS, mengutip sumbernya, memberitakan Trump diberi pengarahan bahwa militer AS siap menyerang Iran paling cepat Sabtu pekan ini. Jangka waktu untuk kemungkinan aksi militer, menurut CBS, kemungkinan akan melampaui akhir pekan.

WSJ mengatakan penasihat keamanan nasional Trump membahas Iran di Ruang Situasi Gedung Putih pada hari Rabu, dengan presiden masih berharap menggunakan tekanan diplomatik untuk memaksa negara Tehran membongkar program nuklir dan rudal balistiknya. Namun, Iran menolak tuntutan ini sebagai tidak dapat diterima.

Meskipun kedua pihak menggambarkan pembicaraan yang dimediasi Oman di Jenewa pada hari Selasa sebagai langkah positif, tidak ada terobosan yang dicapai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kembali hak yang “melekat, tidak dapat dinegosiasikan, dan mengikat secara hukum” untuk memperkaya uranium untuk tujuan sipil dan untuk menggunakan energi nuklir.

AS telah mengirimkan dua kelompok serang kapal induk dan pesawat pembom tambahan ke Timur Tengah, dengan WSJ menggambarkan peningkatan kekuatan tersebut sebagai yang terbesar sejak invasi Irak yang dipimpin Amerika pada tahun 2003.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya yang ditayangkan pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh AS “bermain api” dan memperingatkan bahwa serangan terhadap situs nuklir Iran dapat menyebabkan bencana nuklir.

Lavrov mengatakan Rusia mendukung hak Iran untuk pengayaan uranium secara damai, menambahkan bahwa ketegangan saat ini berasal dari tindakan AS yang membatalkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 selama masa jabatan pertama Trump.

AS menyerang situs nuklir Iran selama perang udara Israel-Iran yang berlangsung selama 12 hari pada Juni 2025. Iran kemudian menyatakan bahwa serangan tersebut tidak akan menghancurkan program nuklirnya.

Exit mobile version