Jernih.co

Gen Z Amerika Mulai “Pindah Haluan” dan Mengidolakan China

Dari megaproyek infrastruktur yang tampak seperti masa depan hingga biaya hidup yang jauh lebih murah, anak muda Amerika mulai bosan dengan sistem di negaranya sendiri.

WWW.JERNIH.CO – Seorang Gen Z Amerika bernama Reed Adams memberi minat besar terhadap China bermula dari hal yang sederhana: Google Maps!

“Saya sangat suka infrastruktur,” ujar Adams (20), seorang kreator konten perjalanan paruh waktu. “Dulu saya sering menghabiskan waktu di Google Maps dan melihat megaproyek baru yang masif di pedesaan China—menara-menara raksasa dan segalanya. Saya seolah ‘terperosok ke lubang kelinci’ saat melihat betapa pesatnya perkembangan China.”

Saat itu, Adams baru berusia 13 tahun. Baru pada tahun 2025, setelah menabung dari hasil bekerja di Walmart, ia akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri Tirai Bambu. Lewat TikTok, ia membagikan pendapatnya tentang bagaimana China jika dibandingkan dengan negara Barat.

“Media Barat sering bilang semua yang kamu lihat tentang China adalah propaganda, karena mereka tidak mau mengakui seberapa jauh kita (Barat) telah tertinggal,” kata Adams dalam video perjalanannya ke Chengdu, Chongqing, dan Shanghai.

Video Adams yang telah ditonton lebih dari 4 juta kali itu hanyalah satu contoh bagaimana media sosial membuka mata anak muda Amerika terhadap China. Di saat pandangan mereka terhadap kapitalisme mulai berubah, konten-konten tentang China menjadi magnet.

Umpamanya video tur apartemen mewah tiga kamar di Shenzhen seharga hanya sekitar Rp15,7 juta per bulan.  Gaya hidup yang lebih murah dan aman bagi pasangan di Shanghai. Semua adalah “Surga bagi introvert” berkat teknologi transaksi tanpa kontak yang sangat efisien.

Meski terpesona dengan jalanan yang bersih dan makan siang yang diantar drone, Gen Z tidak sepenuhnya menutup mata. Ally (22), mahasiswi asal New York yang belajar di Shanghai pada 2025, mencatat bahwa meski sistem kereta api dan pembayaran non-tunai di sana luar biasa, masalah hak bicara dan tingginya pengangguran pemuda tidak bisa diabaikan.

“Saya juga tidak mau bekerja dengan sistem 996 (jam 9 pagi sampai 9 malam, 6 hari seminggu),” tambahnya. Fenomena ini kontras dengan tren “lying flat” (rebahan) di kalangan pemuda China yang merasa lelah dan menyerah pada produktivitas karena tekanan ekonomi.

Christian Nemeth (26), kreator konten asal Nevada yang tinggal di Chengdu, menyebutkan bahwa sensor pemerintah adalah tantangan terbesar. Ia sempat terkejut saat mengetahui teman-temannya di China memiliki pengetahuan yang sangat samar tentang peristiwa besar dunia seperti serangan 11 September.

Gen Z Amerika tumbuh di era di mana barang murah dari China melimpah, sementara infrastruktur di dalam negeri Amerika sendiri dianggap stagnan dan biaya hidup terus melonjak.

Data Harvard Youth Poll 2025 menunjukkan penurunan dukungan terhadap kapitalisme di kalangan usia 18-29 tahun menjadi 39% (turun dari 45% di 2020). Selain itu, studi Pew Research mengungkapkan bahwa hanya 19% anak muda Amerika yang menganggap China sebagai “musuh” ternyata jauh lebih rendah dibandingkan generasi kakek-nenek mereka (47%).

Dulu, label “Made in China” identik dengan barang murah berkualitas rendah. Kini, sektor teknologi tinggi seperti mobil listrik (EV), media sosial (TikTok), dan peralatan rumah tangga menunjukkan bahwa China telah menjadi kompetitor global yang serius.

Popularitas China  juga didorong oleh streamer besar seperti IShowSpeed yang melakukan livestream perjalanannya ke China pada April 2025. Penonton terpukau melihat pemandangan kota Chongqing yang tampak seperti “Cyber City” masa depan.

Tak hanya teknologi, praktik budaya seperti pengobatan tradisional dan pakaian Hanfu juga sedang tren—sebuah fenomena yang dijuluki “Chinamaxxing”. Banyak anak muda Amerika kini mulai mengikuti kebiasaan sehat ala China, seperti minum air hangat di pagi hari untuk pencernaan.

Meski banyak Gen Z Amerika mengidolakan China sebagai alternatif dari kegagalan sistem di Barat, para ahli memperingatkan agar tidak terjebak dalam romantisisme.

Ying Zhu, profesor di Pratt Institute, berpendapat bahwa Gen Z Amerika mungkin mencari jawaban di tempat yang salah.

“Apa yang dimiliki China sekarang adalah kapitalisme negara. Kapitalisme tetaplah kapitalisme, baik itu versi Amerika maupun versi Tiongkok. Anak muda di kedua negara sama-sama merasa lelah dan kecewa.” (*)

BACA JUGA: Gen Z Kuasai Pasar Modal, Lebih dari Separuh Investor BEI Kini Anak Muda

Exit mobile version