Di balik kecanggihan drone, rudal, hingga jet tempur F-15E dan sistem radar miliaran dolar, tersimpan fakta kelam tentang ketidaksiapan sistemik Pentagon. Bahkan banyak prajurit AS kecapekan dan ketakutan.
WWW.JERNIH.CO – Serangan militer besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang dikenal dengan sandi Operation Epic Fury, sering kali dicitrakan oleh Gedung Putih sebagai operasi yang “presisi dan dominan.”
Namun, di balik retorika kemenangan tersebut, muncul fakta-fakta mengkhawatirkan mengenai ketidaksiapan sistemik, kerentanan logistik, dan dampak psikologis yang mendalam pada para prajurit Amerika yang bertugas di garis depan.
Meskipun Presiden Donald Trump mengklaim memiliki pasokan senjata yang “nyaris tak terbatas,” kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Dalam minggu-minggu awal konflik, intensitas penggunaan rudal balistik dan amunisi presisi melampaui kapasitas produksi harian industri pertahanan AS.

Banyak analis militer menyoroti bahwa AS terlalu mengandalkan serangan udara tanpa kesiapan untuk perang darat jangka panjang. Laporan dari The Washington Institute mencatat bahwa ketergantungan pada kekuatan udara tanpa pengerahan pasukan darat menunjukkan keraguan strategis yang berakar pada ketakutan akan terulangnya tragedi seperti Perang Irak dan Afghanistan.
Ketidaksiapan Amerika paling terlihat pada bagaimana pangkalan-pangkalan mereka di kawasan Teluk menjadi sasaran empuk bagi balasan Iran. Pentagon mengonfirmasi bahwa dalam sepuluh hari pertama, 140 personel militer AS terluka, dengan beberapa di antaranya menderita luka permanen akibat serangan drone Shahed. Lalu, 7 prajurit tewas dalam gelombang serangan balasan awal di Kuwait dan Arab Saudi.
Ditambah kerusakan infrastruktur pangkalan-pangkalan di Qatar, UEA, dan Bahrain terbukti tidak sepenuhnya mampu menangkal rudal hipersonik Iran, meninggalkan para prajurit dalam posisi yang sangat rentan.
BACA JUGA: Cetak Biru Perang Iran, Saat Geografi Timur Tengah Disiapkan untuk Menjebak Amerika
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, memberikan pernyataan yang mendua. Di satu sisi, ia memuji keberhasilan penghancuran aset angkatan laut Iran, namun di sisi lain ia mengakui adanya risiko signifikan.
“Ini adalah hasil dari perencanaan berbulan-bulan, namun kita menghadapi musuh yang memiliki ketahanan luar biasa. Ketidakpastian mengenai seberapa lama mereka bisa bertahan menciptakan risiko miskalkulasi yang besar bagi pasukan kita di lapangan,” ujar sang Jenderal.
Sentimen ini diperparah oleh pernyataan dari para veteran dan pejabat menengah di Pentagon yang menyebut bahwa moral pasukan menurun karena mereka merasa menjadi “sasaran diam” bagi serangan drone yang sulit dideteksi.
Contoh nyata ketakutan prajurit muncul dari laporan-laporan lapangan di pangkalan Al-Udeid dan pangkalan di perbatasan Kuwait. Para prajurit melaporkan kecemasan tinggi setiap kali mendengar suara dengungan drone—sebuah trauma yang kini dikenal sebagai “Shahed Anxiety.”
Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Berbeda dengan perang konvensional masa lalu, prajurit Amerika di tahun 2026 menghadapi teknologi yang mampu menembus pertahanan paling canggih sekalipun.
Seorang sersan yang bertugas di Arab Saudi menyatakan secara anonim, “Kami memiliki teknologi terbaik, tapi rasanya seperti menunggu petir menyambar. Kami tidak tahu kapan atau dari mana serangan berikutnya akan datang.”
Semua fakta di atas menunjukkan betapa militer AS tidak siap dalam serangan ini. Pemerintah AS seperti tutup mata pada kondisi prajuritnya. Kebanyakan militer AS mengalamai overstretch (kelelahan pasukan). Militer AS telah tersebar di berbagai konflik global, membuat rotasi pasukan ke Timur Tengah menjadi terburu-buru dan minim pelatihan adaptasi lokal.
BACA JUGA: Perang Siber Memanas, Hacker Iran Infiltrasi Perbankan dan Industri Pertahanan AS
Meskipun serangan awal berhasil membunuh beberapa pemimpin tinggi, Iran terbukti telah mendesentralisasikan komando militernya, sehingga serangan udara tidak langsung melumpuhkan kemampuan balas dendam mereka. Hal ini menunjukkan kegagalan intelijen AS dan Israel.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA sangat khawatir akan dampak ekonomi dan keamanan, sehingga mereka membatasi penggunaan wilayah udara mereka untuk operasi tertentu, yang menghambat fleksibilitas militer AS.
Perang ini secara keseluruhan membuat kerugian finansial militer AS. Bagaimana tidak, kecepatan pengeluaran anggaran dalam Operation Epic Fury telah mencetak rekor baru dalam sejarah militer modern, melampaui standar efisiensi operasional militer konvensional mana pun.
Hanya dalam sepuluh hari pertama konflik, total biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat diperkirakan telah mencapai angka fantastis Rp173,88 triliun. Hal ini berarti Pentagon secara rata-rata membakar dana antara Rp16,8 triliun hingga Rp24,02 triliun setiap harinya.
Kondisi paling kritis terlihat pada 48 jam pertama, di mana pengeluaran untuk rudal presisi dan sistem interseptor pertahanan udara saja sudah menelan biaya sebesar Rp94,08 triliun, sebuah laju konsumsi amunisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Beban finansial bagi pembayar pajak Amerika semakin diperparah oleh kehancuran aset-aset strategis akibat serangan balik Iran yang tak terduga. Salah satu kerugian terbesar dialami di Qatar, di mana kehancuran sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 di pangkalan Al-Udeid menyebabkan kerugian senilai Rp18,48 triliun.
Selain itu, kekuatan udara AS juga terpukul dengan jatuhnya tiga jet tempur F-15E Strike Eagle yang bernilai total Rp5,04 triliun, serta kerusakan berat pada dua komponen radar sistem pertahanan THAAD di Uni Emirat Arab dan Yordania yang jika ditotalkan mencapai Rp16,8 triliun.
Di koridor kekuasaan Kongres AS, kritik tajam muncul mengenai ketidaksiapan ekonomi dalam menghadapi perang asimetris ini. Mantan pejabat kebijakan Pentagon, Colin Kahl, menyoroti ketidakseimbangan biaya yang sangat ekstrem sebagai bukti ketidaksiapan strategis.
Ia memaparkan fakta bahwa militer AS terpaksa menembak jatuh drone Iran yang hanya seharga Rp588 juta menggunakan rudal pencegat yang harganya mencapai Rp33,6 miliar per unit. Rasio pertukaran ekonomi yang tidak berkelanjutan ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi keberlangsungan cadangan amunisi nasional.
Dampak dari ketidaksiapan dan eskalasi konflik ini akhirnya merambat ke stabilitas ekonomi global melalui kekacauan di Selat Hormuz. Ketidakpastian rute pasokan energi menyebabkan harga minyak dunia melonjak drastis hingga melampaui Rp1,68 juta per barel. Kondisi ini memicu guncangan finansial yang melumpuhkan pasar internasional dengan estimasi kerugian global menembus angka mengerikan sebesar Rp58.800 triliun hanya dalam satu minggu pertama. Data-data ini memperjelas mengapa banyak pengamat kini menyebut perang tersebut sebagai “lubang hitam finansial” yang sangat membahayakan stabilitas Amerika Serikat.
Meneruskan hegemoni AS yang MAGA hanya akan membawa negara ini ke jurang kebangkrutan.(*)
BACA JUGA: Trump Tukang Bohong, Pembantaian 165 Siswi di Iran Akibat Serangan AS