Jernih.co

Tangan Dingin Mirwan Suwarso Bawa Como 1907 Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions

Berawal dari klub bangkrut seharga Rp10 miliar tanpa pemain, Como 1907 kini sah mengunci tiket UCL setelah finis di peringkat ke-4 Serie A. Inilah kisah sukses Mirwan Suwarso, presiden klub asal Madiun yang merombak total tim tepi Danau Como menjadi raksasa baru.

WWW.JERNIH.CO –  Como 1907, klub yang bermarkas di tepi Danau Como yang indah, resmi mengamankan satu tiket otomatis untuk berkompetisi di UEFA Champions League (UCL) musim depan.

Kepastian ini diraih setelah tim asuhan Cesc Fabregas tersebut menumbangkan tuan rumah Cremonese dengan skor telak 4-1 pada pekan terakhir Serie A, dibarengi dengan kekalahan AC Milan dan hasil imbang Juventus yang membuat Como finis kokoh di zona empat besar.

Keberhasilan ini menjadi puncak dari transformasi radikal sebuah klub yang beberapa tahun lalu bahkan hampir hilang dari peta sepak bola profesional.

Perjalanan Como 1907 menuju panggung tertinggi Eropa bukanlah cerita instan, melainkan sebuah proses panjang yang penuh air mata. Didirikan pada tahun 1907, klub ini sempat merasakan pahitnya kebangkrutan finansial pada tahun 2004 hingga terlempar ke Serie D—kasta amatir terbawah dalam sistem liga Italia. Mereka sempat bangkit, namun kembali dihantam krisis keuangan.

Titik balik Como terjadi pada tahun 2019 ketika Grup Djarum asal Indonesia melalui SENT Entertainment mengakuisisi klub ini dengan harga yang sangat murah, di bawah Rp10 miliar karena kondisinya yang compang-camping dan tidak memiliki pemain sama sekali.

Namun di bawah pengelolaan manajemen baru, Como merangkak naik dengan sangat terstruktur. Di musim 2019–2021 mulai naik kelas dengan promosi dari Serie D ke Serie C, lalu melompat ke Serie B.

Lantas pada 2023–2024 berhasil mengunci tiket promosi ke Serie A setelah menanti selama 21 tahun. Dan pada 2025–2026 di bawah tangan dingin pelatih Cesc Fabregas, dengan skuad yang mengandalkan 15 pemain di bawah usia 23 tahun (termasuk pilar muda seperti Lucas Da Cunha), Como langsung menggebrak papan atas Serie A dan mengunci tiket sejarah ke Liga Champions.

Di balik kesuksesan luar biasa ini, ada sosok penting asal Indonesia yang bertindak sebagai arsitek bisnis dan manajemen klub, yaitu Mirwan Suwarso. Ia pria pebisnis asal Indonesia kelahiran Madiun, 18 Februari 1971.

Sempat kuliah di Purdue University, Amerika Serikat (Consumer Science & Retail Management). Mirwan resmi menjabat sebagai Presiden Como 1907 sejak tahun 2023, setelah sebelumnya bertindak sebagai perwakilan resmi pemilik sejak 2019.

Sebelum menceburkan diri ke industri sepak bola global, Mirwan adalah seorang eksekutif kreatif dan pebisnis media yang kawakan. Ia pernah menjadi Account Director di agensi periklanan global Saatchi & Saatchi, menyutradarai berbagai proyek film di Destiny Films (2007–2012), hingga memimpin unit bisnis kreatif dan olahraga di bawah bendera Djarum, termasuk menjabat sebagai CEO Mola TV.

Pengalaman panjang di dunia hiburan, media, dan branding inilah yang ia bawa untuk merombak total identitas Como 1907. Ketika pertama kali dibeli oleh Grup Djarum pada 2019, nilai akuisisinya sangat kecil.

Namun, untuk membangun infrastruktur, memperkuat tim, merenovasi stadion, hingga membangun ekosistem komersial modern, total investasi yang telah digelontorkan Grup Djarum ke Como 1907 kini telah menyentuh angka sekitar Rp7,57 triliun.

Mirwan melihat Como bukan sekadar klub sepak bola biasa, melainkan sebuah merek gaya hidup (lifestyle brand). Danau Como adalah destinasi wisata premium dunia yang dikunjungi lebih dari 3,2 juta turis setiap tahunnya. Mirwan memanfaatkan ini untuk mengintegrasikan sepak bola dengan ekosistem pariwisata, fashion, kuliner, dan konten media digital.

Ia ingin membangun klub dengan fondasi finansial mandiri yang tidak hanya bergantung pada hasil pertandingan di lapangan. Pendapatan Como digenjot melalui penjualan merchandise premium, kerja sama konten dengan platform media, hingga menarik turis kaya untuk datang ke stadion sebagai bagian dari pengalaman liburan mereka.

Pada awal akuisisi, Como diproyeksikan menjadi wadah bagi pengembangan talenta muda, termasuk menjadi “rumah” bagi program pelatihan pemain muda Indonesia di Eropa (seperti proyek Garuda Select).

Tahun ini adalah pencapaian amat istimewa. Como berada di rank 4 Serie A di bawah Inter Milan, Napoli dan AS Roma.

Keberhasilan Como 1907 lolos ke Liga Champions membuktikan bahwa pendekatan bisnis yang rasional, pemanfaatan data analitik yang tepat, serta pemisahan yang jelas antara urusan teknis lapangan (yang dipimpin Fabregas) dan strategi bisnis (yang dipimpin Mirwan Suwarso) mampu mengubah klub kecil yang hampir mati menjadi raksasa baru di panggung tertinggi Eropa.(*)

BACA JUGA: Dilema Mikel Arteta, Di Ambang Juara atau Akhir dari “The Process”?

Exit mobile version