Ketika seorang veteran perang dengan 11 kali penugasan tempur dan gelar Gold Star husband memilih angkat kaki, Washington seharusnya gemetar. Tapi Trump keras kepala.
WWW.JERNIH.CO – Langkah Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC) Amerika Serikat, yang secara mengejutkan mengundurkan diri pada 17 Maret 2026, telah memicu gelombang guncangan politik di Washington.
Keputusan tersebut adalah protes keras dari dalam lingkaran keamanan nasional terhadap eskalasi militer pemerintahan Donald Trump di Timur Tengah, khususnya terkait perang dengan Iran yang baru saja pecah.
Joseph “Joe” Kent adalah sosok yang selama ini dikenal sebagai loyalis garis keras Donald Trump dan pendukung setia gerakan “America First”. Sebelum menjabat sebagai Direktur NCTC pada Juli 2025, Kent memiliki karier militer yang sangat mentereng.
Ia adalah veteran Pasukan Khusus (Green Beret) Angkatan Darat AS dengan 20 tahun masa pengabdian dan telah menjalani 11 kali penugasan tempur, mayoritas di Irak dan titik panas Timur Tengah lainnya.
Sisi personal Kent juga sangat emosional bagi publik Amerika. Ia adalah seorang Gold Star husband; istrinya, Shannon Kent, seorang kriptolog Angkatan Laut, gugur dalam serangan bom bunuh diri ISIS di Suriah pada tahun 2019.
Pengalaman kehilangan ini membentuk pandangan politik Kent yang sangat anti terhadap “perang tanpa akhir” (endless wars), sebuah narasi yang awalnya membuatnya sangat klop dengan visi politik luar negeri Trump.
Alasan utama mundurnya Kent adalah penentangan moral dan strategis terhadap perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Dalam surat pengunduran dirinya yang tajam, Kent menyatakan bahwa ia “tidak dapat dengan kesadaran penuh mendukung perang di Iran.” Ia menegaskan bahwa Iran tidak menghadirkan ancaman nyata bagi keamanan nasional Amerika Serikat.
Kent menuduh bahwa pemerintahan Trump telah terjebak dalam kampanye misinformasi yang didorong oleh kepentingan lobi Israel. Menurutnya, AS ditarik ke dalam konflik ini bukan karena kepentingan domestik, melainkan karena tekanan eksternal.
Ia bahkan membandingkan propaganda yang memicu perang Iran ini dengan taktik yang digunakan untuk menjerumuskan AS ke dalam invasi Irak tahun 2003—sebuah kesalahan sejarah yang menurutnya tidak boleh terulang.
BACA JUGA: Barisan Selebritis Amerika Penentang Donald Trump
Mundurnya Kent memberikan dampak signifikan bagi stabilitas internal pemerintahan Trump. Sebagai kepala lembaga yang menganalisis ancaman terorisme, pengunduran dirinya menunjukkan adanya keretakan besar dalam komunitas intelijen. Hal ini memperkuat keraguan publik mengenai pembenaran legal dan bukti intelijen yang digunakan pemerintah untuk menyerang Iran.
Bagi kebijakan luar negeri AS, langkah Kent ini menjadi simbol perlawanan dari kelompok veteran yang selama ini menjadi basis pendukung Trump. Hal ini menunjukkan bahwa doktrin “America First” kini terpecah: antara mereka yang ingin tetap melakukan intervensi militer demi sekutu, dan mereka yang—seperti Kent—percaya bahwa Amerika harus berhenti menjadi “polisi dunia” yang mengorbankan nyawa prajuritnya demi agenda asing.

Donald Trump merespons pengunduran diri ini dengan gaya khasnya yang blak-blakan. Alih-alih merasa kehilangan, Trump justru menyebut mundurnya Kent sebagai “hal yang baik.”
Trump mengkritik balik mantan anak buahnya itu dengan menyebutnya “sangat lemah dalam urusan keamanan” karena menganggap Iran bukan ancaman. Di lingkaran terdekat, seperti Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, suasana cenderung tegang namun tetap mengikuti garis komando presiden, meskipun Gabbard sendiri secara historis dikenal anti-intervensi.
Terlepas dari akhir masa jabatannya yang kontroversial, prestasi Kent tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia meraih enam medali Bronze Star atas keberaniannya di medan tempur.
Selama masa singkatnya di NCTC, ia berupaya memfokuskan kembali sumber daya intelijen untuk perlindungan domestik dan kontra-narkotika.
Ia dianggap sebagai suara moral bagi komunitas veteran, yang konsisten memperjuangkan agar keluarga militer tidak lagi kehilangan orang tercinta dalam konflik yang dianggap tidak perlu.
Mundurnya Joe Kent meninggalkan pertanyaan besar bagi masa depan Amerika: Apakah Washington sedang menuju babak baru kejayaan militer, atau justru sedang mengulangi kesalahan tragis masa lalu di Timur Tengah?(*)