UpScrolled telah menetapkan standar baru; sebuah masa depan di mana pengguna adalah partisipan aktif, bukan sekadar subjek data yang dieksploitasi.
WWW.JERNIH.CO – Nama UpScrolled mendadak menjadi pusat perhatian di jagat maya, muncul sebagai kekuatan baru yang menantang hegemoni platform raksasa. Momentum ini memuncak terutama setelah TikTok terjerat dalam dinamika politik yang pelik dan ketidakpastian perubahan kepemilikan di Amerika Serikat.
Namun, UpScrolled tak sekadar sebuah “sekoci” bagi pengungsi digital. Namun hadir sebagai oase bagi mereka yang mendambakan transparansi, privasi, dan kebebasan berekspresi tanpa bayang-bayang algoritma yang mengekang.
UpScrolled adalah platform media sosial hibrida yang secara cerdas menggabungkan elemen-elemen terbaik dari raksasa pendahulunya: aspek visual Instagram, kecepatan informasi X (Twitter), dan daya tarik video pendek TikTok.

Diluncurkan secara resmi pada Juli 2025, aplikasi ini awalnya berkembang secara organik di kalangan komunitas teknologi. Namun, pada Januari 2026, aplikasi ini meledak ke arus utama.
Perbedaan fundamentalnya terletak pada filosofi penyajian konten. Di saat platform lain memprioritaskan “viralitas” melalui algoritma hitam yang rumit, UpScrolled mengedepankan pengalaman pengguna yang lebih manusiawi, organik, dan adil.
Di sini, popularitas tidak ditentukan oleh seberapa baik Anda “menyenangkan” mesin, melainkan seberapa relevan konten Anda bagi manusia nyata.
Keberhasilan sebuah platform seringkali mencerminkan integritas penciptanya. UpScrolled lahir dari pemikiran tajam Issam Hijazi, seorang teknolog dan pengembang berpengalaman keturunan Palestina-Yordania-Australia.
Hijazi bukanlah orang baru di industri ini; rekam jejaknya di perusahaan raksasa seperti IBM dan Oracle memberinya perspektif unik tentang bagaimana data pengguna sering kali dieksploitasi.
Membangun UpScrolled adalah misi emosional bagi Hijazi. Ia bercita-cita menciptakan ruang digital yang setara setelah menyaksikan bagaimana suara-suara tertentu sering kali dibungkam oleh moderasi otomatis di platform arus utama.
Dengan dukungan inisiatif Tech for Palestine, UpScrolled mengukuhkan posisinya sebagai platform yang memiliki komitmen moral kuat, menjadikannya pilihan utama bagi pengguna yang peduli pada isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial.
UpScrolled menawarkan antarmuka yang terasa familiar bagi pengguna TikTok atau Instagram, namun dengan sentuhan yang lebih segar dan bersih. Beberapa fitur kuncinya meliputi:
Feed Kronologis Sejati: Secara default, pengguna melihat konten berdasarkan urutan waktu unggahan. Tidak ada manipulasi umpan yang memaksa Anda melihat konten yang sudah berumur tiga hari hanya karena dianggap viral.
Multiversatilitas Multimedia: Pengguna tidak terbatas pada satu format. Anda bisa mengunggah video pendek (Shorts), foto beresolusi tinggi, hingga utas teks panjang untuk diskusi mendalam.
Trending Topic yang Jujur: Daftar tren di UpScrolled mencerminkan apa yang benar-benar dibicarakan secara global, tanpa filter politik atau intervensi dari pihak sponsor.
Ekosistem Komunitas yang Privat: Fitur pesan langsung (DM) yang stabil dan enkripsi yang kuat memungkinkan interaksi antar komunitas berlangsung dengan aman dan intim.
Pertarungan antara UpScrolled dan TikTok sebenarnya lebih kepada soal prinsip. Ada empat pilar utama yang membuat jutaan orang mulai menghapus TikTok dan beralih ke UpScrolled:
1. Perlawanan Terhadap Sensor dan Shadowban
Di tengah isu akuisisi TikTok oleh konsorsium investor Amerika Serikat, kekhawatiran akan sensor konten demi kepentingan politik semakin menguat. UpScrolled hadir dengan janji lingkungan yang “bebas shadowban”.
Selama sebuah konten legal secara hukum dan tidak melanggar norma dasar kemanusiaan, platform ini menjamin suara pengguna akan terdengar.
2. Kedaulatan dan Privasi Data
Jika TikTok dikenal dengan algoritma yang sangat “lapar” data—mengumpulkan mulai dari lokasi presisi hingga pola ketukan layar—UpScrolled mengusung konsep Minimalist Data Collection. Mereka hanya mengumpulkan data yang mutlak diperlukan untuk menjalankan aplikasi.
Hal ini menjawab kekhawatiran besar di tahun 2026 mengenai bagaimana data pribadi dipetakan untuk kepentingan intelijen atau iklan prediktif yang agresif.
3. Kesetaraan bagi Kreator Kecil
Di TikTok, algoritma sering kali menciptakan jurang pemisah yang lebar antara “mega-influencer” dan pemula. Di UpScrolled, setiap unggahan diklaim memiliki peluang yang sama untuk muncul di beranda publik.
Hal ini mendorong tumbuhnya kreativitas yang lebih murni daripada sekadar mengikuti tren tarian yang repetitif.
4. Transparansi Kepemilikan
TikTok terjebak dalam pusaran geopolitik antara Tiongkok dan AS. Sebaliknya, UpScrolled beroperasi di bawah struktur yang lebih independen dengan dukungan komunitas internasional. Fokus pada “Kedaulatan Digital” berarti kontrol data dikembalikan sepenuhnya ke tangan pengguna.
Lonjakan popularitas UpScrolled pada akhir Januari 2026 tercatat sebagai salah satu pertumbuhan tercepat dalam sejarah media sosial. Hanya dalam jendela waktu tiga hari (21–24 Januari 2026), aplikasi ini mencatat lebih dari 41.000 unduhan baru.
Hingga penutupan bulan Januari, total pengguna aktif telah melampaui angka 140.000 dan terus meroket. Prestasi puncaknya terjadi ketika UpScrolled berhasil menduduki peringkat pertama dalam kategori media sosial di App Store Amerika Serikat, menggeser dominasi WhatsApp, Threads, dan TikTok sendiri. Ini adalah pesan jelas dari pasar: pengguna menginginkan perubahan.
Psikologi pengguna media sosial telah bertransformasi. Di tahun 2026, kesadaran bahwa “gratis” berarti “data Anda adalah produknya” telah memicu resistensi massal. UpScrolled hadir bukan hanya sebagai aplikasi, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi algoritma Big Tech.
Meskipun masih menghadapi tantangan besar—seperti skalabilitas infrastruktur server akibat lonjakan pengguna yang tiba-tiba—antusiasme global menunjukkan bahwa kejujuran adalah komoditas paling berharga saat ini.
Jika momentum ini terjaga, kita mungkin sedang menyaksikan akhir dari era media sosial manipulatif dan awal dari demokrasi digital yang sesungguhnya. Membaca Upscrolled baru sadar bahwa tidak ada demokratisasi digital di Tiktok yang kian komplikatif.(*)
BACA JUGA: Drama TikTok: Antara Perang Dagang, Politik Trump, dan “Kekuatan Lunak” China