Di tengah tekanan emisi, biaya, dan lonjakan permintaan global, Natilus menawarkan visi radikal lewat pesawat sayap menyatu yang berpotensi mengubah cara manusia dan barang terbang di langit.
WWW.JERNIH.CO – Industri penerbangan global sedang berada di persimpangan jalan. Selama puluhan tahun, desain pesawat nyaris tidak berubah secara fundamental: badan berbentuk tabung, dua sayap terpisah, dan mesin yang terus ditingkatkan efisiensinya secara bertahap.
Namun tekanan zaman—mulai dari tuntutan penurunan emisi karbon, kenaikan harga bahan bakar, hingga lonjakan permintaan penumpang dan kargo—membuat pendekatan inkremental ini semakin terasa mencapai batasnya.
Dalam hal inilah Natilus, perusahaan rintisan asal California, muncul dengan tawaran yang tidak sekadar memperbaiki, tetapi mendefinisikan ulang bentuk pesawat melalui dua produk utamanya: Horizon untuk penumpang dan Kona untuk kargo.

Inti dari pendekatan Natilus terletak pada konsep blended-wing body (BWB), sebuah desain yang menyatukan badan pesawat dan sayap menjadi satu struktur aerodinamis yang menyatu. Tidak ada lagi pemisahan tegas antara fuselage dan sayap seperti pada pesawat konvensional.
Kabin, tangki bahan bakar, dan struktur utama seluruhnya terintegrasi di dalam sayap yang melebar. Secara ilmiah, pendekatan ini menawarkan keuntungan mendasar: daya angkat tersebar lebih merata di seluruh permukaan pesawat, hambatan udara berkurang secara signifikan, dan rasio lift-to-drag meningkat. Artinya, lebih sedikit energi yang terbuang untuk melawan udara, dan lebih banyak yang digunakan untuk terbang secara efisien.
Konsep BWB sebenarnya bukan gagasan baru. Dunia militer dan riset telah lama mengeksplorasinya, dengan contoh paling terkenal adalah pembom siluman Northrop B-2 Spirit. Namun selama bertahun-tahun, kompleksitas teknis dan tantangan sertifikasi membuat BWB dianggap terlalu berisiko untuk penerbangan komersial. Baru dalam dekade terakhir, dengan kemajuan simulasi digital, material komposit, dan metode desain struktural, konsep ini mulai dipandang cukup matang untuk dibawa ke langit sipil.
Horizon Penumpang
Horizon menjadi perwujudan paling ambisius dari visi tersebut di sektor penumpang. Pesawat ini dirancang untuk membawa hingga 240 orang, menempatkannya di kelas yang selama ini didominasi Boeing 737 dan Airbus A320.
Meski tampil futuristik, Horizon tidak dimaksudkan sebagai pesawat eksperimental yang menuntut bandara baru atau infrastruktur khusus. Natilus menekankan bahwa pesawat ini tetap kompatibel dengan landasan pacu, gate, dan sistem penanganan darat yang ada saat ini. Namun di balik kompatibilitas itu, Horizon menawarkan sesuatu yang sangat berbeda di dalam kabin: ruang yang jauh lebih luas.
Bentuk pesawat yang melebar memungkinkan hingga tiga lorong, dengan volume kabin sekitar 40 persen lebih besar dibandingkan pesawat sekelasnya. Ruang ekstra ini membuka kemungkinan desain interior yang selama ini sulit diwujudkan, seperti area santai, zona keluarga, atau ruang bermain anak.
Dalam visi Natilus, penerbangan jarak menengah tidak lagi sekadar soal memindahkan penumpang dari titik A ke B, tetapi tentang menciptakan pengalaman ruang sosial di udara.
Keunggulan bentuk ini juga tercermin dalam kinerja. Natilus mengklaim Horizon mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 30 persen dan menekan biaya operasional hingga 50 persen.
Klaim ini bertumpu pada prinsip aerodinamika dasar: permukaan sayap yang lebih luas menghasilkan daya angkat dengan energi lebih kecil, struktur yang menyatu mengurangi bobot total, dan distribusi beban yang lebih efisien mengurangi tekanan struktural. Dalam industri yang margin keuntungannya tipis, perbedaan efisiensi semacam ini bisa menjadi faktor penentu.
Meski demikian, desain yang radikal tidak datang tanpa konsekuensi. Salah satu kritik paling sering diarahkan pada pesawat BWB adalah potensi rasa klaustrofobia, terutama bagi penumpang yang duduk jauh dari sisi kabin.
Kekhawatiran tentang minimnya jendela dan cahaya alami menjadi isu serius. Natilus mencoba menjawabnya dengan tetap menghadirkan jendela samping, menambahkan skylight, serta sistem pencahayaan adaptif yang meniru kondisi di luar pesawat. Dari sisi keselamatan, kabin yang lebih lebar juga menantang logika evakuasi konvensional. Natilus menyatakan bahwa Horizon dirancang untuk memenuhi, bahkan melampaui, standar sertifikasi global, meski detail implementasinya masih menunggu pembuktian di tahap uji dan sertifikasi.
Kona Kargo
Jika Horizon mewakili masa depan penerbangan penumpang, Kona menunjukkan bagaimana konsep BWB dapat lebih cepat diterima di dunia kargo. Pasar kargo udara secara historis memang lebih terbuka terhadap desain baru, karena keputusan bisnis lebih ditentukan oleh efisiensi ekonomi daripada kenyamanan manusia.
Dengan desain BWB, Kona mampu menawarkan volume kargo yang lebih besar tanpa harus memperpanjang badan pesawat, lantai kargo yang lebih luas dan datar, serta penghematan bahan bakar yang signifikan per ton-kilometer. Tidak mengherankan jika Kona lebih dulu menarik minat operator besar seperti Ameriflight, mitra FedEx, DHL, UPS, dan maskapai Kanada Norlinor.
Minat pasar terhadap Kona dan Horizon telah mendorong buku pesanan Natilus melampaui nilai puluhan miliar dolar, menjadikan pesawat kargo sebagai tulang punggung awal strategi komersial perusahaan.
Ini mencerminkan pola yang sering terjadi dalam sejarah aviasi: inovasi besar kerap diuji lebih dulu di sektor kargo sebelum akhirnya merambah penerbangan penumpang.
Secara global, kebangkitan minat terhadap BWB bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Industri penerbangan menghadapi tekanan simultan untuk mencapai target net-zero emission, menghadapi volatilitas harga bahan bakar, dan melayani pertumbuhan pasar yang pesat, terutama di Asia.
Airbus melalui program ZEROe dan startup lain seperti JetZero juga mengembangkan pesawat dengan filosofi serupa. Ini menandakan bahwa BWB tidak lagi dipandang sebagai eksperimen eksotis, melainkan sebagai salah satu arah evolusi desain pesawat yang paling serius.
Jika berhasil disertifikasi dan dioperasikan secara luas, Horizon dan Kona dapat menandai perubahan paradigma dalam cara manusia memandang pesawat. Horizon berpotensi mengubah pengalaman terbang jarak menengah dari sekadar perjalanan fungsional menjadi pengalaman ruang yang lebih manusiawi.
Kona, di sisi lain, dapat menetapkan standar baru efisiensi logistik udara. Bersama-sama, keduanya menyampaikan pesan yang jelas: masa depan penerbangan bukan hanya soal mesin yang lebih kuat, tetapi tentang bentuk yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih selaras dengan tuntutan zaman.(*)
BACA JUGA: Pesawat Nirawak Sering Langgar Wilayah Udara, Uni Eropa Kembangkan Perisai Drone