Penjualan mobil turun, tapi persaingan justru memanas. Tahun 2025 menjadi momen ketika dominasi Jepang mulai terusik, dan merek-merek mobil listrik pendatang baru menyerang pasar Indonesia.
WWW.JERNIH.CO – Tahun 2025 menandai fase krusial bagi industri otomotif Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, data penjualan ritel Gaikindo menunjukkan bahwa pasar otomotif nasional sedang mengalami kontraksi.
Namun, di balik pelemahan tersebut, tersimpan dinamika yang jauh lebih menarik: pergeseran peta persaingan akibat pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan agresivitas pemain-pemain baru non-Jepang.
Secara agregat, penjualan ritel kendaraan roda empat sepanjang 2025 tercatat sebesar 833.712 unit, turun 6,3% dibandingkan capaian 2024 yang mencapai 889.680 unit.
Pelemahan ini mencerminkan kombinasi tekanan daya beli masyarakat, suku bunga kredit kendaraan yang masih tinggi, serta sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian mobil konvensional. Dengan kata lain, pasar sedang lesu—namun tidak stagnan.

Dominasi Toyota
Dominasi pabrikan Jepang memang masih sangat terasa dari sisi volume, tetapi data menunjukkan retakan yang semakin jelas. Toyota tetap memimpin pasar dengan penjualan 258.923 unit, meskipun harus menerima koreksi tajam sebesar 11,9% secara tahunan.
Daihatsu, yang selama ini kuat di segmen mobil terjangkau, mengalami penurunan lebih dalam hingga 18,1%. Honda bahkan mencatat kontraksi paling signifikan, yakni 30,9%, yang secara langsung memangkas pangsa pasarnya dari 11,6% menjadi hanya 8,5%.
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa keunggulan historis merek Jepang tidak lagi sepenuhnya kebal terhadap perubahan preferensi konsumen.
Di tengah tren negatif tersebut, Suzuki tampil sebagai pengecualian parsial. Meski penjualan tahunan masih turun tipis 6,6%, performa Suzuki di bulan Desember 2025 melonjak hingga 37,6% secara bulanan. Lonjakan ini menunjukkan bahwa strategi promosi dan momentum akhir tahun masih mampu menggerakkan permintaan, meskipun tidak cukup untuk menahan pelemahan sepanjang tahun.
Pertumbuhan EV
Kontras paling mencolok justru datang dari merek-merek baru yang berfokus pada elektrifikasi. Segmen EV menjadi motor pertumbuhan utama di pasar yang sedang menyusut.
BYD, misalnya, mencatatkan pertumbuhan Year-on-Year sebesar 217,5% dan langsung menembus posisi keenam nasional dengan penjualan 44.342 unit atau 5,3% pangsa pasar. Dalam waktu singkat, BYD tidak hanya hadir sebagai alternatif, tetapi sebagai ancaman nyata bagi pemain mapan.
Fenomena serupa terlihat pada VinFast dan AION. VinFast mencatat lonjakan ekstrem di penghujung tahun, dengan penjualan Desember mencapai 7.673 unit atau tumbuh lebih dari 4.400% secara bulanan. Meski pangsa pasar tahunan mereka masih relatif kecil, kecepatan penetrasi ini menandakan strategi ekspansi yang sangat agresif.
AION pun menunjukkan sinyal serupa dengan pertumbuhan tahunan mencapai 622,9%, mempertegas bahwa konsumen Indonesia semakin terbuka terhadap merek EV asal Tiongkok dan Vietnam.
Momentum Desember 2025 menjadi cerminan perubahan perilaku pasar. Secara total, penjualan bulan tersebut naik 18,3% dibandingkan November, didorong oleh promo akhir tahun dan kehadiran model EV serta hybrid yang lebih terjangkau.
Namun, perbedaan strategi tampak jelas: merek-merek tradisional cenderung mencatatkan kenaikan moderat, sementara pendatang baru melakukan “sprint” agresif untuk mengamankan posisi dan visibilitas merek.
Jika dilihat secara keseluruhan, tahun 2025 dapat dibaca sebagai titik balik industri otomotif Indonesia. Merek Jepang memang masih menguasai lebih dari 70% pasar, tetapi dominasi tersebut tidak lagi absolut.
Pangsa pasar merek non-Jepang—khususnya yang mengusung teknologi listrik—tumbuh dari hampir nol menjadi lebih dari 10% dalam waktu singkat. Tren ini menegaskan bahwa kompetisi tidak lagi semata soal volume, melainkan soal kecepatan adaptasi terhadap elektrifikasi, teknologi, dan perubahan selera konsumen.
Dengan demikian, masa depan pasar otomotif Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemain lama untuk bertransformasi. Tanpa strategi elektrifikasi yang agresif dan harga yang kompetitif, dominasi tradisional berisiko terus tergerus.
Tahun 2025 bukan sekadar tahun penurunan penjualan, melainkan awal dari redistribusi kekuatan menuju era kendaraan listrik dan mobilitas cerdas.(*)
BACA JUGA: Toyota Urban Cruiser EV: SUV Kompak Masa Depan dengan Jarak Tempuh Panjang