Site icon Jernih.co

Toyota Kembangkan Transmisi ‘Manual Palsu’ untuk Mobil Listrik, Bisa Mogok Jika Salah Oper Gigi

Di saat produsen mobil listrik (EV) lain berlomba-lomba bikin kendaraan yang serba otomatis dan futuristik, Toyota justru melakukan anomali gila dengan membawa kembali romantisasi mengemudi mobil manual lengkap dengan risiko mogoknya.

JERNIH — Raksasa otomotif asal Jepang, Toyota, bersama divisi premium mereka, Lexus, dilaporkan tengah mematangkan proyek ambisius yang unik. Mereka sedang mengembangkan sistem simulasi transmisi manual khusus untuk kendaraan listrik (EV), lengkap dengan pedal kopling dan tuas perseneling tiga pedal buatan.

Langkah ini diambil demi mengembalikan esensi kesenangan berkendara konvensional (fun to drive) yang perlahan terkikis di era elektrifikasi. Menariknya, teknologi tiruan ini dirancang sangat realistis, bahkan sistem bisa membuat mobil langsung mati mesin (stall atau mogok) jika pengemudi salah mengoperasikan gigi.

Kendaraan listrik sejatinya tidak memiliki mesin pembakaran internal (ICE) yang bisa mati, ataupun kotak roda gigi aktul yang bisa rusak. Namun, berdasarkan dokumen paten terbaru yang dilansir dari Carscoops, Selasa (9/6/2026), Toyota berhasil mereplikasi sensasi mekanis tersebut lewat algoritma perangkat lunak terintegrasi.

Cara kerja sistem pintar ini yakni perangkat lunak EV akan menghitung putaran mesin virtual (revs) dan menentukan apakah posisi gigi yang dipilih pengemudi sudah sesuai dengan kecepatan mobil. Jika putaran mesin virtual terlalu rendah saat mobil mulai melaju, atau jika pengemudi melepas kopling secara kasar layaknya pemula, sistem akan langsung memotong torsi motor listrik dan menghentikan laju mobil secara total.

Guna menambah atmosfer racing, simulasi perpindahan gigi ini dipadukan dengan sintesis suara raungan mesin buatan agar EV terasa seperti mobil performa tradisional.

Proyek ini sendiri bukan barang baru bagi Toyota. Mereka telah bereksperimen sejak tahun 2022 dengan menyematkan versi prototipe awalnya pada unit Lexus UX300e.

Bisa Deteksi Tingkat Keahlian Sopir

Teknologi simulasi transmisi manual ini juga dirancang mampu menilai seberapa mahir seseorang dalam mengemudi melalui algoritma khusus, kemudian menyesuaikan fitur bantuan yang diberikan.

Sistem akan mendeteksi jika pengemudi masih canggung, lalu mengaktifkan fitur bantuan otomatis seperti penahan di tanjakan (hill-hold support) agar mobil tidak mundur.

Sementara dalam mode pengemudi mahir, dukungan elektronik akan dimatikan total. Pengemudi dibiarkan mengendalikan ritme kopling dan persneling sepenuhnya tanpa bantuan. Selain itu, tersedia fitur launch control untuk memungkinkan akselerasi agresif saat melepas kopling simulasi.

Membentur Dinding Regulasi

Meskipun disambut antusias oleh para pencinta otomotif purist, proyek inovatif Toyota dan Lexus ini ternyata membentur dinding regulasi ketat di sejumlah negara. Asisten Kepala Insinyur Lexus, Yasuyuki Terada, mengungkapkan bahwa isu regulasi internasional yang belum terselesaikan menjadi faktor utama penahan teknologi ini untuk diproduksi secara massal.

Di negara seperti Inggris dan Jepang, hukum secara ketat memisahkan Surat Izin Mengemudi (SIM) antara mobil otomatis (perluasan matik) dan mobil manual. Pengemudi dengan SIM otomatis dilarang keras membawa mobil manual.

“Jika kami menawarkan sistem tersebut dan Anda dapat mengaktifkan atau menonaktifkannya (lewat tombol), lisensi [SIM] mana yang diperbolehkan untuk mobil itu?” ujar Terada saat berdiskusi dengan media asal Australia, Drive.

Hingga saat ini belum dipastikan kapan Toyota akan resmi membawa ide unik ini ke lini produksi massal. Namun, langkah ini menegaskan posisi Toyota yang memilih arah berbeda demi menjaga tatanan kepuasan berkendara bagi para antusias otomotif dunia.

Exit mobile version