Ambisi Trump Caplok Greenland Memanas di KTT NATO

Lepas dari ketegangan Iran, Donald Trump langsung menghentak KTT NATO di Ankara dengan menghidupkan kembali obsesinya menguasai Greenland.
WWW.JERNIH.CO – Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menguasai Greenland mencuat kembali, setelah urusan dengan Iran mereda. Obsesi ini justru naik cetak menjadi salah satu krisis diplomatik paling panas antara AS dan Eropa. Di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Trump kembali menegaskan bahwa pulau terbesar di dunia yang merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark tersebut harus berada di bawah kendali Washington.
Jika sebelumnya Trump melihat Greenland dari kacamata transaksi real estate, wacana baru yang ia gaungkan lebih agresif dan bernuansa geopolitik pertahanan. Trump kini menggunakan narasi ancaman poros Rusia-China di kawasan Arktik.
“Greenland saat ini dikelilingi oleh kapal-kapal China dan Rusia. Denmark tidak punya kemampuan atau anggaran untuk mengamankannya, tapi AS punya segalanya,” ujar Trump di hadapan media.
Wacana baru yang paling mengejutkan adalah pengaitan isu Greenland dengan komitmen AS di NATO dan konflik global lainnya (seperti ketegangan dengan Iran). Trump merasa frustrasi karena negara-negara Eropa enggan mendukung penuh kebijakan militernya.
Sebagai gantinya, ia melemparkan ancaman ekstrem: AS akan menarik seluruh pasukannya dari Eropa jika sekutunya terus menghalangi ambisi AS mengambil alih Greenland. Bagi Trump, kontrol atas Greenland adalah harga mati untuk kompensasi biaya pertahanan yang selama ini dikeluarkan AS untuk melindungi Eropa.
BACA JUGA: Pedemo pro-Greenland Plesetkan Slogan MAGA Jadi ‘Make America Go Away’
Secara historis, saat ide ini muncul pada tahun 2019, pemerintah AS sempat mengkaji pembayaran tahunan sebesar Rp 10,74 triliun secara berkelanjutan kepada Denmark sebagai kompensasi biaya operasional wilayah tersebut.
Namun, dalam eksekusi terbarunya, strategi pendanaan Trump bergeser menjadi pemerasan ekonomi lewat tarif. Trump tidak lagi sekadar menawarkan tumpukan uang tunai di meja negosiasi, melainkan memaksa Denmark dan sekutunya membayar harga yang mahal jika menolak kesepakatan.
Trump mengumumkan ancaman penerapan tarif impor tambahan sebesar 10% hingga 25% bagi barang-barang dari Denmark, Inggris, serta negara Eropa lainnya (seperti Prancis, Jerman, dan Swedia).
Guna membendung tekanan AS sekaligus memperkuat pertahanan mereka sendiri tanpa bergantung pada Washington, negara-negara Uni Eropa sampai harus menggalang dana pasar modal hingga Rp 3.043 triliun) untuk pembiayaan pertahanan mandiri dan proyek militer baru di Arktik.
Ancaman ini tidak berhenti di atas kertas. Beberapa langkah taktis telah dijalankan oleh pemerintahan Trump:
Trump telah resmi menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus (special envoy) untuk Greenland dengan misi diplomasi agresif guna mencari celah hukum dan politik agar pulau tersebut bisa masuk ke dalam wilayah administrasi AS.
Trump sempat menyatakan bahwa ia siap menempuh “the hard way” (jalur kekerasan/militer) jika “the easy way” (jalur kesepakatan dagang) buntu. Meski sempat melunak di Forum Ekonomi Dunia (Davos), ia kembali memanaskan situasi di pertengahan tahun ini dengan menggretak akan mengosongkan pangkalan-pangkalan militer AS di Eropa.
AS memaksimalkan operasional Pituffik Space Base (sebelumnya dikenal sebagai Thule Air Base) di Greenland utara sebagai pusat pengawasan rudal dan ruang angkasa, sekaligus sebagai titik pancang pengaruh militer mereka secara sepihak.
Merespons eksekusi agresif ini, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bersikap tegas. Denmark menggarisbawahi bahwa berdasarkan konstitusi mereka, Greenland tidak untuk dijual dan kedaulatannya berada di tangan masyarakat Greenland sendiri.
Konflik ini pun kini memicu penumpukan pasukan latihan gabungan NATO di wilayah Arktik untuk menjaga sejengkal tanah Eropa dari caplokan sekutunya sendiri.(*)
BACA JUGA: Apa Yang Dicari Presiden Trump di Greenland?






