
Rekaman foto di bawah Jembatan Kalahien mendadak memicu kehebohan publik saat Sungai Barito—urat nadi Kalimantan sepanjang 900 kilometer—tampak berubah wujud menjadi hamparan pasir menyerupai gurun.
WWW.JERNIH.CO – Pemandangan tak biasa membentang di bawah kemegahan Jembatan Kalahien, Barito Selatan. Rekaman udara yang memaparkan lanskap kecokelatan nan luas mendadak viral di pertengahan Agustus 2026, memicu kehebohan publik. Bagaimana tidak, Sungai Barito—salah satu urat nadi hidrologi terbesar di Pulau Kalimantan yang memiliki panjang melampaui 900 kilometer dengan lebar mencapai ratusan meter—tampak berubah wujud. Dasar sungai yang biasanya tersembunyi jauh di balik alirannya yang deras, kini menyulap area tersebut menjadi hamparan serupa gurun pasir.
Munculnya daratan pasir luas yang dikenal warga lokal sebagai gosong ini dengan cepat memantik kekhawatiran akan terjadinya pengeringan total pada Sungai Barito. Namun, kajian teknis dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III segera memberikan klarifikasi mendasar.
Sungai raksasa ini sebenarnya tidak sepenuhnya mengering. Penurunan muka air yang signifikan memang mengakhiri dominasi aliran permukaan di sebagian besar tepi dan tengah badan sungai, tetapi alur utama selebar kurang lebih 100 meter tetap aktif dialiri air.
Meski begitu, fenomena ini tetap menandai krisis hidrologis yang serius. Di kawasan Muara Teweh, misalnya, tinggi muka air yang biasanya berada pada rentang normal 5 hingga 11,5 meter terpuruk drastis hingga menyisakan kedalaman hanya 0,6 meter.
Anomali Pasifik dan Terputusnya Awan Hujan
Krisis air yang melanda Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari himpitan musim kemarau regional dan dinamika iklim global yang dipicu oleh fenomena El Nino. Ketika El Nino berkuasa, terjadi peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah.

Pemanasan ini menggeser pusat konveksi massa udara hangat jauh ke arah timur Pasifik. Dampaknya terhadap wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan, sangat nyata: terbentuk sirkulasi sel Walker yang menekan konveksi udara lokal sehingga pembentukan awan-awan hujan terhambat secara drastis.
Imbasnya terlihat pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat intensitas curah hujan berada pada kriteria Bawah Normal, yaitu berada di bawah kisaran 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Ketiadaan pasokan air hujan dalam rentang waktu yang panjang memutus limpasan permukaan secara total. Pada titik ini, alur sungai hanya mengandalkan aliran alas dari akuifer tanah yang cadangannya pun menyusut ke tingkat minimum.
Kondisi kekeringan meteorologis yang bertransformasi menjadi kekeringan hidrologis ini semakin diperparah oleh kerentanan lingkungan di daratan Kalimantan. Degradasi tutupan hutan serta pembukaan lahan secara masif di daerah hulu DAS Barito telah menurunkan tingkat infiltrasi air ke dalam tanah (infiltration rate).
Akibatnya, ketahanan alami DAS melemah; cadangan air tanah yang seharusnya menjadi penopang debit sungai saat kemarau panjang melanda menjadi sangat terbatas.
Siklus Berulang dan Luasan Lahan yang Tersingkap
Melihat hamparan pasir yang membentang luas, timbul pertanyaan: apakah ini kali pertamanya Sungai Barito mengering?
Catatan historis menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru. Surutnya air hingga memunculkan gosong pasir di tengah sungai merupakan bagian dari siklus musiman yang berulang setiap kali Kalimantan diterpa El Nino kuat.

Kejadian serupa pernah terdokumentasikan pada periode kemarau ekstrem tahun 1997/1998, 2015, dan 2023. Kawasan di sekitar Kalahien dan Muara Teweh memang rentan memperlihatkan endapan sedimen dasar sungai saat volume air berada di titik terendah.
Secara spasial, pemandangan menyerupai gurun pasir ini terpusat di koridor perairan Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan. Di lokasi ini, hamparan gosong pasir yang tersingkap mencapai luasan puluhan hektar, menampilkan akumulasi sedimen yang telah mengendap selama bertahun-tahun di dasar sungai.
Meskipun area berupa gurun pasir tersebut terlihat terkonsentrasi di beberapa titik, fenomena penurunan debit air ini sebenarnya melingkupi dampak yang sangat luas, memengaruhi ratusan kilometer koridor utama DAS Barito mulai dari wilayah hulu di Barito Utara hingga kawasan hilir.
Surutnya Sungai Barito hingga menampakkan dasar sedimen pasirnya menjadi cermin dari rapuhnya keseimbangan antara iklim global dan tata kelola lingkungan lokal. Pembuktian teknis BWS Kalimantan III menegaskan bahwa sungai tidak sepenuhnya mati, melainkan mengalami pendangkalan ekstrem pada alur sekunder serta penyingkapan gosong pasir. Kendati demikian, peringatan dari alam ini tidak bisa diabaikan.
Langkah mitigasi jangka panjang tidak boleh hanya berfokus pada penanganan darurat saat kemarau tiba. Diperlukan upaya restorasi menyeluruh pada kawasan resapan air di hulu DAS Barito, pengetatan pemantauan tata ruang, serta penghentian deforestasi.
Hanya dengan memulihkan daya retensi air tanah dan menjaga kelestarian DAS, wilayah Kalimantan dapat meningkatkan resiliensi dan daya tahannya dalam menghadapi krisis iklim yang kian ekstrem di masa depan.(*)
BACA JUGA: Bara Kalimantan: Ketika El Niño Bertemu Ulah Tamak Manusia






