Karir Cemerlang Sang Jendral Tergerus Korupsi dan Suap

Widi Prasetijono kini harus melangkah di bawah bayang-bayang peradilan. Rekam jejak pengabdian dan kedekatannya dengan lingkaran inti kekuasaan terancam sirna seiring terkuaknya dugaan aliran dana fantastis dan skandal pengadaan lahan BUMD di Jawa Tengah.
WWW.JERNIH.CO – Tanda pangkat Letnan Jenderal yang berkilau di pundak tak lagi mampu menutupi dinginnya kursi pesakitan peradilan. Pemandangan kontras inilah yang kini melekat pada sosok Widi Prasetijono. Seorang perwira tinggi yang dahulunya berada di barisan terdepan penjaga kedaulatan serta lingkaran inti kekuasaan, kini melangkah di bawah bayang-bayang dugaan skandal korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Takdir seolah memutarbalikkan kenyataan: rekam jejak kepemimpinan militer yang melesat bak komet, kini berisiko padam tergulung pusaran uang panas.
Lahir di Trenggalek, Jawa Timur, pada 4 Juni 1971, Widi memulainya dari kawah candradimuka Akademi Militer lulusan 1993. Sebagai perwira dari kecabangan Infanteri, sebagian besar masa mudanya ditempa dalam disiplin baja satuan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Namanya kian melambung ketika ia menjabat Komandan Kodim 0735/Surakarta pada 2011–2012, membina hubungan kerja erat dengan Joko Widodo yang saat itu menjabat Wali Kota Surakarta. Kedekatan profesional ini mengantarkannya ke lingkaran dalam Istana Negara sebagai Ajudan Presiden RI pada 2014–2016.
Sejak saat itu, tangga karier Widi seolah tak terbendung. Karier teritorial dan komandonya melesat mulus melalui berbagai posisi strategis: Danrem 074/Warastratama di Solo, Danrem 091/Aji Surya Natakesuma di Samarinda, hingga Kasdam IV/Diponegoro. Puncak kepercayaan korps Baret Merah diraihnya pada awal 2022 saat ia ditunjuk menjadi Danjen Kopassus ke-34.
Tak berhenti di situ, ia kemudian dipercaya memimpin wilayah pertahanan Jawa Tengah dan DIY sebagai Pangdam IV/Diponegoro (2022–2023), hingga akhirnya meraih bintang tiga saat dipromosikan sebagai Komandan Kodiklat TNI AD (Dankodiklatad) pada akhir 2023, sebelum kini bertugas sebagai Dosen Tetap Universitas Pertahanan.
Namun, di balik rentetan prestasi dan kilau bintang di pundaknya, sebuah narasi kelam berembus dari Pengadilan Tipikor Semarang dan Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta. Nama jenderal bintang tiga ini terseret dalam skandal korupsi pengadaan lahan BUMD Kabupaten Cilacap, PT Cilacap Segara Artha (CSA), senilai Rp237 miliar. Dugaan mark-up harga dan persekongkolan dalam transaksi lahan seluas 700 hektare di Carui, Cilacap, perlahan membuka kotak pandora yang mencoreng citra sang perwira tinggi.
Ironi terbesar terungkap di hadapan majelis hakim melalui kesaksian Andhi Nur Huda, mantan Direktur PT Rumpun Sari Antan. Di persidangan, terkuak dugaan permintaan dana fantastis sebesar Rp21,5 miliar yang diklaim untuk menyokong kebutuhan Pemilihan Presiden.
Fakta persidangan semakin memanas ketika Widi membenarkan adanya aliran dana sekitar Rp21 miliar dari transaksi lahan tersebut yang mengalir masuk ke rekening dua adiknya secara bertahap sepanjang 2023. Jaksa penuntut umum menengarai uang tersebut mengalir ke berbagai aset pribadi, mulai dari pembangunan bisnis rumah kos di Semarang hingga pembelian kendaraan mewah.(*)
BACA JUGA: Jokowi dan Para Jenderalnya [2]: Tentang Prabowo






