Jernih.co

Kepala Intelijen AS Tulsi Gabbard Mendadak Mundur, Ada Apa?

Saat Amerika Serikat berada di ambang ketegangan hebat dengan Iran, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard justru memilih mundur dari jabatannya. Mulai dari vonis kanker langka sang suami hingga rumor friksi kebijakan perang di Washington.

WWW.JERNIH.CO –  Di tengah situasi global yang sedang genting, Direktur Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya. Jabatan DNI bukanlah posisi sembarangan; ia bertanggung jawab mengoordinasikan 18 lembaga intelijen AS untuk memberikan pengarahan harian kepada Presiden Donald Trump.

Tulsi Gabbard resmi menyatakan pengunduran dirinya pada hari Jumat, 22 Mei 2026.

Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Gabbard melalui surat resmi yang ditujukan kepada Presiden Donald Trump, yang kemudian ia unggah secara terbuka di akun media sosial X (Twitter) miliknya pada hari yang sama.

Meskipun pernyataannya disampaikan pada tanggal 22 Mei, pengunduran diri Gabbard baru akan efektif berlaku pada tanggal 30 Juni 2026 untuk memastikan proses transisi kepemimpinan intelijen di Gedung Putih tetap berjalan lancar.

Secara resmi, alasan utama yang disampaikan Gabbard ke hadapan publik bersifat sangat personal dan menyentuh sisi kemanusiaan. Melalui surat resmi yang ditujukan kepada Presiden Trump, ia mengungkapkan bahwa suaminya, Abraham Williams, baru saja didiagnosis menderita jenis kanker tulang yang sangat langka.

Dalam situasi medis yang berat ini, Gabbard menegaskan bahwa dirinya tidak bisa membiarkan sang suami berjuang sendirian. Sebagai seorang istri, ia memilih untuk menomorsatukan keluarga di atas karier politiknya yang sedang berada di puncak. Posisi sebagai kepala intelijen menuntut komitmen waktu, energi, dan pikiran yang luar biasa besar—sesuatu yang dirasa Gabbard tidak bisa ia jalankan secara adil sembari mendampingi suaminya melewati masa-masa kritis.

Meskipun faktor keluarga menjadi alasan resmi yang dihormati oleh Gedung Putih, para pengamat politik di Washington mencium adanya ketegangan politik di balik layar. Langkah Gabbard ini bertepatan dengan situasi luar negeri AS yang tengah genting, terutama konflik militer dan ketegangan hebat yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Sejak awal kariernya, Tulsi Gabbard dikenal sebagai sosok yang sangat vokal menentang keterlibatan militer AS dalam perang di luar negeri (intervensi asing). Perbedaan prinsip ini kabarnya memicu keretakan hubungan antara dirinya dan Presiden Trump.

Gabbard secara terbuka sempat menyampaikan penilaian intelijen yang berbeda dari narasi Gedung Putih mengenai kapabilitas nuklir Iran, dengan menyatakan bahwa Iran tidak secara aktif membangun senjata nuklir sebelum serangan militer terjadi.

Akibat pandangannya yang dinilai kurang sejalan dengan garis keras pemerintahan, Gabbard dilaporkan mulai “ditepikan” dari beberapa pertemuan krusial tingkat tinggi sebelum serangan udara AS-Israel ke Iran diluncurkan.

Perbedaan fundamental mengenai arah kebijakan perang ini memicu spekulasi kuat di kalangan media massa bahwa Gabbard mungkin menghadapi tekanan politik yang hebat, di samping beban berat dari masalah kesehatan suaminya.

Mundurnya Gabbard menambah daftar panjang pejabat wanita papan atas yang meninggalkan kabinet Trump dalam beberapa bulan terakhir, setelah pemecatan Kristi Noem (Menteri Keamanan Dalam Negeri) dan mundurnya Pam Bondi serta Lori Chavez-DeRemer.(*)

BACA JUGA: Ini Daftar Loyalis yang Dimangsa Trump

Exit mobile version