Kebijakan baru Menteri Pertahanan AS memicu perdebatan. Demi meningkatkan daya tempur, ribuan prajurit akan diperiksa kadar testosteronnya. Namun para dokter memperingatkan, terapi hormon ini bisa berujung pada kemandulan hingga ketergantungan seumur hidup.
WWW.JERNIH.CO – Kemampuan seorang prajurit tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan senjata atau strategi perang. Kondisi fisik, daya tahan, kekuatan otot, hingga ketajaman mental menjadi faktor yang sama pentingnya. Berangkat dari pemikiran itulah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, meluncurkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh prajurit pria berusia 30 tahun ke atas menjalani pemeriksaan kadar testosteron secara rutin.
Bagi Pentagon, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kesiapan tempur pasukan. Namun, di balik ambisi tersebut, sejumlah pakar kesehatan justru mengingatkan bahwa pemeriksaan massal dan terapi hormon yang menyertainya bisa membawa konsekuensi medis yang tidak sederhana.
Testosteron merupakan hormon utama pada pria yang berperan besar dalam pembentukan massa otot, kepadatan tulang, produksi sel darah merah, hingga gairah seksual. Lebih dari itu, hormon ini juga memengaruhi tingkat energi, motivasi, kemampuan pemulihan setelah aktivitas berat, serta fungsi kognitif seperti konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Bagi seorang prajurit, seluruh aspek tersebut memiliki kaitan langsung dengan performa di lapangan. Latihan fisik yang berat, patroli jarak jauh, membawa perlengkapan puluhan kilogram, hingga tuntutan mengambil keputusan dalam situasi berisiko tinggi membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima.
Kadar testosteron yang terlalu rendah atau hipogonadisme memang dapat menyebabkan kelelahan kronis, berkurangnya kekuatan otot, lambatnya pemulihan tubuh setelah latihan, menurunnya motivasi, serta gangguan suasana hati. Pada kondisi seperti itu, performa seorang prajurit bisa ikut menurun.
Namun, para ahli menekankan bahwa testosteron bukanlah “obat peningkat performa” yang otomatis membuat seseorang menjadi lebih kuat atau lebih siap bertempur. Pada pria yang kadar hormonnya normal, pemberian testosteron tambahan belum tentu meningkatkan kemampuan fisik secara bermakna, justru berpotensi menimbulkan berbagai efek samping.
“Keunggulan taktis kami yang paling menentukan akan selalu bertumpu pada diri prajurit itu sendiri. Kami memiliki kewajiban menjaga keunggulan itu dan terus mencari cara untuk mengoptimalkan performa mereka,” ujar Hegseth.
Melalui kebijakan tersebut, prajurit yang diketahui memiliki kadar testosteron rendah akan ditawari menjalani Testosterone Replacement Therapy (TRT) atau terapi penggantian testosteron.
Pentagon belum mengungkap secara rinci bagaimana mekanisme pemeriksaan akan dilakukan terhadap sekitar 1,3 juta personel aktifnya. Berdasarkan data militer tahun 2024, terdapat lebih dari 375.000 prajurit pria aktif berusia di atas 30 tahun, ditambah sekitar 305.500 personel Garda Nasional dan pasukan cadangan yang juga masuk kelompok usia tersebut.
Menurut studi yang dipublikasikan di JAMA Network pada Mei 2026, sekitar satu dari sepuluh pria di Amerika Serikat mengalami hipogonadisme klinis. Angka tersebut memang meningkat seiring bertambahnya usia. Setelah usia 30 tahun, kadar testosteron secara alami mulai menurun, dan berbagai penelitian menunjukkan sekitar 38% pria berusia di atas 45 tahun mengalami penurunan hormon tersebut.
Seseorang baru dapat didiagnosis mengalami defisiensi testosteron apabila memenuhi dua syarat sekaligus, yaitu kadar hormon yang rendah dalam pemeriksaan darah dan munculnya gejala klinis seperti penurunan libido, kelelahan berkepanjangan, hilangnya massa otot, atau gangguan suasana hati.
“Jika mereka merasa normal, mereka tidak membutuhkan testosteron,” kata Dr. James Anaissie, urolog asal Texas yang ikut meneliti defisiensi testosteron.
Di media sosial, terapi testosteron kerap dipromosikan sebagai solusi untuk meningkatkan energi, membentuk otot, hingga memperbaiki kualitas hidup. Sebagian manfaat tersebut memang dapat dirasakan oleh pasien yang benar-benar mengalami hipogonadisme.
Namun menurut Dr. Anaissie, persepsi bahwa testosteron merupakan “obat ajaib” justru menjadi masalah. Pada orang yang sebenarnya tidak membutuhkan terapi, TRT dapat menimbulkan dampak serius. Salah satu efek samping yang paling dikhawatirkan adalah penurunan kesuburan karena tubuh akan mengurangi produksi testosteron alami setelah mendapat pasokan hormon dari luar.
“Terapi ini justru akan menurunkan kesuburan Anda dan memangkas jumlah sperma secara signifikan. Efek lainnya, testis akan mengecil,” ujarnya.
Dalam beberapa kasus, dibutuhkan waktu hingga satu tahun atau lebih agar produksi sperma kembali normal setelah terapi dihentikan.
Selain itu, TRT juga dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung (aritmia), penggumpalan darah, pembengkakan payudara pada pria, serta berbagai komplikasi medis lainnya.
Bagi Pentagon, kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga kesiapan tempur pasukan. Namun bagi kalangan medis, menjaga performa prajurit tidak cukup hanya dengan meningkatkan kadar hormon. Ketepatan diagnosis, keselamatan pasien, dan pertimbangan manfaat jangka panjang tetap menjadi faktor yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar performa maksimal.(*)
