Di kota paling glamor di dunia, Pesta Valentine mempertunjukkan kemewahan tanpa batas. Sasarannya kaum ultra-rich yang berharap membeli kenangan tak terjangkau 99,9% manusia di bumi.
WWW.JERNIH.CO – Mari kita selami lebih dalam dunia para ultra-rich—sebuah semesta paralel di mana harga bukan lagi angka, melainkan pernyataan. Di kota yang sejak awal dibangun untuk memukau dunia, Dubai, kemewahan bukan sekadar fasilitas, melainkan kompetisi.
Dan setiap Februari, ketika Valentine tiba, panggung itu berubah menjadi arena pertarungan tak kasatmata antar hotel dan restoran bintang lima: siapa yang mampu menawarkan pengalaman paling mahal, paling langka, dan paling tak masuk akal.
Paket Valentine “1 Juta” yang sering menjadi perbincangan memang nyata. Bahkan, bukan hanya satu versi. Ada paket seharga sekitar Rp6,3 miliar—yang pernah dipopulerkan oleh Anantara The Palm Dubai Resort.
Apakah paket seperti ini tersedia setiap tahun? Ya—namun dengan “menu” yang selalu berubah. Dubai hidup dari sensasi dan rekor. Jika tahun lalu hadiahnya jam tangan eksklusif dari Cartier, tahun berikutnya bisa berupa berlian custom-made yang dirancang khusus untuk satu orang di dunia. Hotel-hotel di kota ini memahami bahwa klien mereka tidak mencari hal yang sama dua kali. Mereka mencari sesuatu yang belum pernah ada.
Lalu, siapa yang benar-benar membeli pengalaman bernilai miliaran rupiah ini? Identitas mereka hampir selalu dirahasiakan lewat Non-Disclosure Agreement (NDA) yang ketat. Namun, profilnya dapat ditebak: pangeran dari kawasan Teluk, keluarga kerajaan GCC, miliarder teknologi yang kekayaannya melampaui PDB negara kecil, taipan minyak, atau selebritas A-list yang mendambakan privasi total dari kejaran paparazzi. Tak jarang, paket ini hanya tersedia untuk satu pasangan di seluruh dunia dalam satu tahun. Siapa cepat, dia yang dapat—dan tentu saja, siapa paling kaya, dia yang diprioritaskan.
Namun yang membuat paket ini terasa seperti di luar nalar bukan hanya harganya, melainkan detailnya.
Akomodasi yang ditawarkan bukan sekadar kamar hotel. Di properti seperti Burj Al Arab atau vila eksklusif Anantara, pasangan akan menempati Royal Overwater Villa atau Presidential Suite yang luasnya bisa melebihi rumah mewah pada umumnya. Interiornya bukan hanya “berwarna emas”, tetapi benar-benar menggunakan logam mulia pada detail-detail kecil: gagang pintu, bingkai cermin, bahkan peralatan makan. Tempat tidur dilapisi sprei dari katun Mesir dengan thread count ekstrem atau serat sutra langka yang terasa selembut bisikan. Setiap sudut ruangan dirancang bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi untuk mengukuhkan status.
Lalu hadir bagian yang paling teatrikal: makan malam. Menu dirancang oleh koki peraih bintang Michelin, menghadirkan simfoni rasa yang jarang disentuh lidah manusia biasa. Kaviar Beluga, yang berasal dari ikan sturgeon berusia puluhan tahun, menjadi pembuka. Hampir setiap hidangan ditaburi emas 24 karat yang dapat dimakan—bukan untuk rasa, tetapi sebagai simbol kemakmuran. Champagne yang disajikan sering kali berasal dari tahun legendaris, seperti Dom Pérignon P2 atau keluaran prestisius dari Krug, yang harga per botolnya bisa menyamai mobil mewah. Di meja makan itu, setiap tegukan adalah sejarah, setiap gigitan adalah deklarasi.
Puncaknya adalah hadiah perhiasan—grand finale yang menguras sebagian besar biaya paket. Cincin berlian 5 karat, jam tangan edisi terbatas yang tidak tersedia di butik mana pun, atau perhiasan custom-made yang hanya ada satu di dunia. Bayangkan hadiah tersebut disajikan dalam kotak bunga berisi 5.000 hingga 10.000 tangkai mawar merah segar, atau di atas nampan perak yang diantarkan oleh butler pribadi dengan sarung tangan putih.
Momen itu biasanya diatur dengan presisi dramatis: musik orkestra kecil mengalun, kembang api meledak tepat ketika kotak dibuka, dan langit malam Dubai menjadi saksi pertanyaan paling mahal dalam hidup seseorang.
Namun kemewahan ini tidak hanya soal benda. Yang paling mahal adalah privasi dan atmosfer. Sebuah hotel yang biasanya ramai bisa dibuat terasa sunyi, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk dua orang. Butler pribadi mempelajari preferensi parfum ruangan Anda, suhu ideal kamar, hingga jenis musik favorit yang dimainkan secara live. Bahkan detail kecil—seperti kecepatan penyajian makanan atau intensitas cahaya lilin—dikalkulasi agar sempurna.
Mengapa harganya bisa mencapai miliaran? Jawabannya ada pada logistik ekstrem di balik layar. Menutup helipad untuk kedatangan privat memerlukan biaya kompensasi yang tidak kecil. Mengimpor ribuan mawar segar dari Ekuador menggunakan pesawat kargo khusus agar tidak layu dalam perjalanan lintas benua. Menghadirkan koki ternama dengan jadwal yang sudah penuh berbulan-bulan sebelumnya. Menyediakan keamanan tingkat tinggi, termasuk bodyguard tak terlihat yang memastikan tidak ada gangguan sekecil apa pun. Setiap detail adalah operasi militer yang dibalut romantisme.
Pada akhirnya, paket Valentine miliaran rupiah di Dubai adalah narasi tentang kekuasaan finansial, tentang kemampuan membeli pengalaman yang hampir mustahil ditiru. Bagi 99,9% penduduk bumi, ini terdengar seperti dongeng modern. Namun bagi segelintir orang, ini adalah cara lain untuk mengatakan, “Aku mencintaimu”—dengan skala yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup di puncak piramida kekayaan dunia.
Di kota yang menjadikan kemewahan sebagai identitas, cinta pun dikemas dalam angka-angka fantastis. Dan di balik kilau emas 24 karat serta kembang api yang menyala di langit gurun, tersimpan satu pesan sederhana: bagi sebagian orang, kenangan terbaik adalah yang tak terjangkau oleh siapa pun selain dirinya.(*)
BACA JUGA: Rupa-rupa Perayaan Valentine di 10 Negara
