Site icon Jernih.co

Rencana Penumbangan Rezim Iran Gagal, Dua Bos Intelijen Mossad Dipecat

Mossad merombak jajaran pimpinannya setelah strategi rahasia penumbangan pemerintah Iran pada Februari mengalami kegagalan fatal. Kepala Direktorat Intelijen dan Kepala Divisi Iran dicopot dari jabatannya setelah skenario infiltrasi gagal.

WWW.JERNIH.CO – Kepala Badan Intelijen Israel (Mossad), Roman Gofman, dilaporkan memecat dua pejabat seniornya setelah rencana operasional berskala besar untuk menggulingkan pemerintah Republik Islam Iran mengalami kegagalan dan dibatalkan sebelum terealisasi penuh di lapangan. Langkah tegas ini diambil menyusul runtuhnya strategi rahasia yang dirancang untuk melumpuhkan kekuasaan di Teheran pada fase awal pelaksanaannya.

Meskipun identitas spesifik kedua pejabat tersebut dirahasiakan rapat-rapat oleh otoritas keamanan Israel demi pertimbangan intelijen dan keselamatan operasional (classified), laporan dari media mengonfirmasi jabatan strategis yang mereka pegang.

Pejabat pertama adalah Kepala Direktorat Intelijen Mossad (Head of Intelligence Directorate) yang baru menjabat sejak Desember lalu, sedangkan pejabat kedua adalah Kepala Divisi Iran Mossad (Head of Iran Division) yang bertanggung jawab langsung atas seluruh operasi rahasia, pengumpulan informasi, serta strategi pemanduan aksi terhadap rezim Iran.

Di lingkungan lembaga intelijen Israel, identitas pejabat aktif tingkat tinggi umumnya hanya dikenal melalui huruf inisial abjad Ibrani (misalnya “Aleph”, “Bet”, atau “Gimel”)  atau gelar jabatan resminya. Kedua figur yang dikenal memiliki kontribusi besar dalam berbagai operasi keamanan Israel sebelumnya ini merupakan arsitek utama di balik penyusunan proposal operasional tertulis penggulingan rezim Iran.

Skenario rahasia yang dirancang oleh kedua pejabat tersebut melibatkan kombinasi serangan militer eksternal dan pemberontakan internal yang terkoordinasi secara terpadu. Operasi ambisius ini dijadwalkan untuk dilaksanakan pada bulan Februari, diawali dengan fokus penggalangan kekuatan dari kelompok minoritas etnis di Iran, khususnya pejuang Kurdi yang berbasis di wilayah Kurdistan dekat perbatasan Irak.

Sesuai rencana, Israel dijadwalkan melancarkan serangan udara presisi terhadap posisi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) di sepanjang perbatasan Irak-Iran guna membuka koridor darat. Pembukaan koridor tersebut dimaksudkan agar milisi Kurdi dapat merangsek masuk ke kota-kota di wilayah barat laut Iran, di mana Mossad memproyeksikan ribuan pemuda lokal akan bergabung dan memicu gelombang gerakan massa berantai hingga ke Teheran untuk menjatuhkan pemerintah.

Dokumen tersebut bahkan sudah menyusun skenario kepemimpinan alternatif untuk fase “pasca-rezim”, termasuk upaya rekrutmen politik terhadap figur-figur kunci di Iran. Proposal ini sendiri dikembangkan dalam koordinasi erat dengan pihak Amerika Serikat dan sempat dipresentasikan kepada Presiden AS Donald Trump sebelum tenggat pelaksanaan aksi militer tersebut.

Namun, ketika operasi mulai digulirkan pada Februari, rencana ambisius tersebut runtuh pada tahap paling awal. Milisi dan gerakan massa yang diharapkan dapat memicu gelombang perlawanan nasional gagal terbentuk di lapangan, sementara struktur kekuasaan serta aparat keamanan di Teheran tetap solid menghadapi tekanan dari luar. Karena strategi ini terhenti dan tidak dapat direalisasikan sesuai proyeksi, proposal tersebut akhirnya resmi dibatalkan.

Selain kegagalan eksekusi skenario di lapangan, sumber internal keamanan Israel mengungkapkan adanya ketegangan hubungan kerja antara Direktur Mossad yang baru, Roman Gofman, dengan kedua pejabat tersebut sejak awal masa jabatannya. Kombinasi antara kegagalan operasi strategis Iran dan keretakan hubungan kepemimpinan ini berujung pada kesepakatan pemecatan kedua pimpinan intelijen tersebut, yang sekaligus menjadi bagian dari reorganisasi berskala besar di tubuh Mossad untuk menata ulang prioritas serta konsolidasi internal.(*)

BACA JUGA: Di Balik Tirai Mossad, Mitos Invicibilitas dan Ketergantungan Mutlak pada Tangan Amerika

Exit mobile version