Masuk ke tahun 2026, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menghadapi krisis eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya: gelombang massal gangguan jiwa dan psikosis klinis.
WWW.JERNIH.CO – Krisis yang dihadapi oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tidak lagi hanya terjadi di medan tempur fisik, melainkan telah bergeser ke ranah psikologis.
Rangkaian pertempuran intensif sejak Oktober 2023 hingga memasuki tahun 2026 telah memicu gelombang gangguan mental yang masif dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah militer modern mereka. Berbagai riset empiris, laporan internal kementerian, serta wawancara klinis menunjukkan bahwa ribuan tentara zionis kini mengalami tekanan psikis berat yang mengarah pada disfungsi mental kronis atau gangguan jiwa.
Berdasarkan data resmi dari Departemen Rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel serta studi epidemiologi militer terbaru, angka-angka berikut mencerminkan skala kerusakan psikologis yang terjadi.
Hingga awal tahun 2026, lebih dari 12.000 hingga 15.000 tentara telah didaftarkan ke Departemen Rehabilitasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 35% hingga 40% didiagnosis menderita gangguan psikologis akut, utamanya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau Gangguan Stres Pascatrauma.
Riset dari pusat kesehatan mental militer Israel mengungkapkan bahwa 1 dari 3 tentara yang ditarik dari zona pertempuran aktif menunjukkan gejala kecemasan ekstrem (acute anxiety), depresi berat, dan psikosis klinis.
Laporan medis nasional mencatat adanya peningkatan hingga 10 kali lipat dalam resep pertama obat-obatan golongan benzodiazepine (penenang dosis tinggi) di kalangan personel aktif dan cadangan guna meredam serangan panik malam hari.
Menurut data klinis yang dirilis oleh jaringan rumah sakit psikatri Israel, terjadi peningkatan sebesar 46% dalam kunjungan psikiatri darurat yang melibatkan tentara muda (usia 18–27 tahun) yang mengalami gangguan fungsi kognitif dan disintegrasi perilaku akibat trauma perang.
Penelitian empiris kualitatif yang mengompilasi wawancara dengan para psikolog lapangan dan tentara yang didemobilisasi memetakan beberapa pemicu utama ambruknya mental pasukan zionis.
“Mereka kembali ke rumah dalam kondisi fisik utuh, namun secara mental mereka lumpuh. Banyak yang mengalami halusinasi pendengaran, ketakutan histeris terhadap suara keras, dan ketidakmampuan total untuk berinteraksi sosial secara normal,” ujar seorang psikiater militer di Tel Aviv memberikan saksi.
Para tentara cadangan (reservists) yang diwawancarai menyatakan bahwa tekanan berulang dari paparan langsung terhadap kematian rekannya, durasi tugas yang berkepanjangan tanpa jeda memadai, serta taktik perang asimetris perkotaan telah mengikis ketahanan mental mereka.
Fenomena ini diperparah oleh hilangnya komparasi ruang aman; sekembalinya mereka ke masyarakat sipil, trauma tersebut termanifestasi dalam bentuk agresi domestik, insomnia kronis, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri (self-harm).
Kondisi psikologis yang memburuk ini berdampak langsung pada kesiapan operasional militer Israel. Menurut laporan komisi pengawas negara (State Comptroller and Ombudsman of Israel), sistem jaminan kesehatan mental militer mengalami overload. Kekurangan tenaga psikiater terlatih dan panjangnya antrean terapi membuat ribuan veteran tidak tertangani dengan baik.
Tekanan psikis yang berujung pada “sakit jiwa” ini tidak lagi sekadar angka statistik, melainkan krisis eksistensial internal yang menurunkan moral tempur dan memicu gelombang penolakan penugasan kembali di kalangan tentara cadangan.
Krisis ini membuktikan bahwa biaya psikologis dari sebuah perang jangka panjang sering kali jauh lebih menghancurkan daripada kehilangan materi di medan laga.(*)
BACA JUGA: Tentara Israel di Lebanon Lecehkan Patung Bunda Maria
