Bermodal makalah buatan AI dan menyamar dengan mengubah model jilbab di panggung, dua oknum peneliti independen asal Indonesia dituding sukses bobol sistem kurasi ISPPD 2026 di Denmark.
WWW.JERNIH.CO – Heboh menyelimuti dunia akademik dan riset. Dua nama peneliti muda, Rifaldy Fajar dan Prihantini, mendadak viral di berbagai platform media sosial seperti Threads, X, hingga Reddit. Keduanya menjadi sorotan tajam publik setelah mencuatnya dugaan skandal manipulasi riset berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta pemalsuan identitas dalam sebuah konferensi ilmiah internasional bereputasi.
Sengkarut ini pertama kali meledak ke permukaan setelah sebuah akun Threads membongkar sejumlah kejanggalan dalam perhelatan International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD 2026). Konferensi internasional ISPPD-14 ini berlangsung pada tanggal 17 – 21 Mei 2026 di Bella Center Copenhagen, Kopenhagen, Denmark.
Dalam utas yang viral tersebut, sang pengunggah membeberkan bukti-bukti yang mengarah pada dugaan penipuan akademik secara masif dan terstruktur oleh kedua peneliti tersebut. Komunitas sains Indonesia di media sosial pun bergerak cepat melakukan penelusuran lebih dalam, hingga menemukan pola-pola janggal yang mengejutkan.
Berdasarkan investigasi kolektif dari netizen dan komunitas peneliti, ada empat modus utama yang diduga kuat dijalankan oleh Rifaldy dan Prihantini. Pertama, pemalsuan identitas di mana Prihantini diduga melakukan aksi “bunglon” saat sesi presentasi ilmiah.
Akun pengunggah menyebutkan bahwa presenter berganti-ganti nama, memanipulasi model jilbab, hingga nekat memalsukan nametag demi bisa maju mempresentasikan beberapa jurnal ilmiah yang berbeda di atas panggung.
Kedua, penelitian yang mereka ajukan dituding kuat sebagai riset fiktif yang tidak pernah benar-benar ada di dunia nyata. Seluruh data visual, grafik, bagan, hingga narasi akademisnya disinyalir merupakan hasil buatan (generate) dari Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT atau AI generatif sejenis.
Ketiga, diduga ada kejanggalan makin nyata saat melihat lokasi penelitian mereka. Sebagai peneliti asal Indonesia, jurnal-jurnal ilmiah mereka justru mengklaim telah melakukan riset di wilayah ekstrem dan terpencil dunia, mulai dari pegunungan Peru, Ethiopia, Guatemala, Bangladesh, Lebanon, hingga Sudan Selatan. Anehnya, tidak ada satu pun nama kolaborator atau peneliti lokal dari negara setempat yang dicantumkan dalam makalah tersebut.
Keempat, komunitas peneliti menduga kuat bahwa kejar-tayang puluhan jurnal fiktif ini sengaja dilakukan demi memburu travel grant (dana bantuan perjalanan gratis) dan akomodasi dari penyelenggara konferensi internasional. Modus ini terbukti “sukses” di masa lalu; rekam jejak digital menunjukkan nama keduanya kerap terdaftar sebagai penerima dana hibah dan pembicara muda di berbagai forum medis global, bahkan sempat meraih penghargaan Young Investigator Award.
Siapa sebenarnya Rifaldy Fajar dan Prihantini? Penelusuran rekam jejak akademis di platform seperti ResearchGate dan Google Scholar menunjukkan bahwa keduanya kerap berganti-ganti mencantumkan nama institusi besar, antara lain.
Rifaldy Fajar sering mencantumkan afiliasi sebagai mahasiswa atau alumni dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun di beberapa dokumen, ia juga kedapatan mengklaim afiliasi luar negeri seperti Karlstad University di Swedia.
Sementara Prihantini tercatat menggunakan nama kampus top Indonesia, salah satunya Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ketika tidak menggunakan nama kampus, mereka mendaftarkan diri di bawah bendera sebuah lembaga riset mandiri bentukan mereka bernama IMCD-BioMed, Indonesia.
Secara formal di Kopenhagen, mereka bertindak sebagai peneliti independen. Namun di mata publik saat ini, mereka dituding sebagai oknum “pemburu dana hibah bodong” yang memanfaatkan celah sistem kurasi konferensi internasional.
Sebagai forum ilmiah internasional dua tahunan (biennial meeting) terkemuka di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokus, ISPPD-14 diselenggarakan menggunakan format gabungan akademis standar tinggi. Forum ini memfasilitasi pertukaran ilmu melalui Sesi Pleno dan Ceramah Utama (Keynote Lectures & Symposia) yang menghadirkan pakar kesehatan, klinisi, serta peneliti senior dunia untuk memaparkan perkembangan terbaru seputar vaksin dan epidemiologi.
Selain itu, para peneliti yang makalah atau abstraknya telah lolos kurasi ketat diberikan kesempatan dalam Presentasi Lisan (Oral Presentation) untuk memaparkan temuan mereka secara langsung di atas panggung di hadapan panelis dan audiens.
Di samping sesi formal di panggung utama, konferensi ini juga menyediakan Sesi Poster (Poster Exhibition) yang berlangsung di aula besar. Melalui metode ini, para peneliti dapat menampilkan hasil riset mereka dalam bentuk infografis atau poster cetak yang interaktif. Format ini sengaja dirancang agar para peserta konferensi dapat berkeliling secara fleksibel, membaca materi secara mendalam, serta melakukan diskusi dan tanya jawab langsung secara lebih kasual dengan pemilik riset.
Merespons gelombang hujatan dan tudingan miring yang mengarah pada dirinya, Rifaldy Fajar akhirnya sempat buka suara. Ia menyatakan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun penjelasan secara kronologis untuk memberikan klarifikasi menyeluruh kepada publik.
Rifaldy juga mengklaim bahwa tidak semua informasi yang telanjur viral di media sosial saat ini sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan. Kita tunggu saja pertanggungjawabannya.(*)
BACA JUGA: Tim Riset Vaksin Covid tak Cemas Ada Kelompok Anti Vaksin
