Jernih.co

SISI POSITIF HARI PUISI INDONESIA

SK Deklarasi Hari Puisi Indonesia, 26 Juli 2025, oleh Kemenbud Fadli Zon

Oleh Doddi Ahmad Fauji *

Doddi Ahmad Fauji berfoto bersama penyair Sutardji Calzoum Bachri, salah satu deklarator Hari Puisi Indonesia

Bahwa apapun bisa ada sisi negatifnya, tapi juga ada sisi positifnya. HIV misalnya, menjadi tantangan untuk dunia kedokteran dalam melawan virus mematikan itu. Tentu kita sepakat, mengambil sesuatu untuk di-apa-kan, karena sisi positifnya lebih banyak dari pada sisi negatifnya.

Perayaan Hari Puisi Indonesia yang mengambil tanggal 26 Juli, dengan mengacu pada sisi kelahiran Penyair Chairil Anwar yang menjadi penyair paling ikonik, di mana hampir semua orang yang pernah mengenyam bangku sekolah apalagi kuliah, pernah setidaknya membaca dalam pelajaran bahasa Indonesia, atau tahu dari guru bahwa ada penyair Chairil Anwar yang melahirkan puisi berjudul Aku.

Teman-teman yang tidak setuju Yayasan HPI mengusulkan hari kelahiran penyair Chairil ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia oleh Pemerintah melalalui Kemenbud, akan menyetujui bahwa Chairil adalah salah satu ikon kepenyairan Indonesia, kalow pun tak mau menyebut sebagai penyair Indonesia paling ikonik.

Perlu diketakui juga, bagi yang belum tahu, ada juga perayaan Hari Puisi Nasional yang mengambil hari wafatnya Chairil Anwar, yaitu pada 28 April.

Boleh juga kalow ada yang mau usul, Hari Puisi Nasional Indonesia Bagian Timur, dll. Ini era demokratis, usul boleh, tap ya kerjakan sendiri, jangan hanya usul dong. Jangan dikira orang lain tidak punya ide dan usulan. Pengusul yang baik, menurut saya, sekaligus menjadi pelaksana usulannya, sebab ide seseorang, dikerjakan oleh orang lain, bisa jadi tidak sesuai hasilnya dengan kenyataan: das sollen das sein.

Ada yang usul, jangan mengambil hari lahir atau hari wafat seseorang dong untuk menyatakan hari A ata hari B. Usulan yang bagus, dan sebenarnya bisa dilaksanakan. Oleh siapa? Ya oleh diri sendiri yang punya gagasan dan ide.

Doddi Ahmad Fauji, penulis berita ini, bertemu Hasan Aspahani, salah satu pemenang Buku Utama dalam Lomba Buku Puisi tahun 2016.

HPI jatuh pada 26 Juli itu bukan usulan pemerintah, dan mungkin pemerintah tidak akan tergerak jika tidak ada yang usul. Yang usul, perlu ditegaskan, adalah Yayasan Hari Puisi Indonesia, yang tentunya telah mendiskusikannya panjang lebar dengan para pengurus YHPI dan tamu undangan. Bahwa tidak semua penyair atau yang terlibat dengan perpuisian dapat diundang, pasti alasannya karena klasik, si Dana dan kawan-kawannya.

Mengapa harus mengambil hari lahir, dan bukan di hari pertama ia menulis puisi atau di hari pertama puisinya dipublikasikan dalam media massa? Jawabannya, semua pasti punya alasan ketika menetapkan hari A mengacu pada anu atau anu. Menurut Asrizal Nur selaku Ketua YHPI melalui telepon, penetapan hari lahir itu sekaligus untuk mengenang hari ulang tahun Chairil Anwar sendiri, dan hari kebangkitan atau perpindahan dari alam rahim ke buana marcapada. Mengenang kelahiran, menurut Asrizal, lebih bagus daripada mengenang hari kematian. Kita lahir dan berpindah ke alam nyata yang sarat pergolakan.

Ada yang beranasir bahwa Menbud hendak ini atau itu, cuci tangan, membersihkan diri, dll. Ya boleh-boleh saja beranasir. Namun mari kita lihat sisi positifnya, bahwa dengan penetapan hari puisi terutama yang diusulkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia, setidaknya YHPI sudah pernah bersungguh-sungguh menjadikan puisi bagi para penyair Indonesia (tidak seluruhnya) sebagai agenda seting tahunan melalui lomba buku puisi yang pernah digelar sebanyak 12 kali (tahun) berturut-turut.

Alasan Menbud ketika menerima usulan dari YHPI pun, melihat sisi perjuangan YHPI sejak 2012 mengusulkan agar ada Hari Puisi Indonesia tiap 26 Juli. Setelah 13 tahun usulan itu baru menemukan buahnya.

Kenapa sih di Indonesia harus ada hari ini atau hari itu? Ini adalah langkah mengikuti trend dunia, di mana manusia memang gemar membuat monumen, tetengger, tapal batas, mailstone, dll., sejak anak cucu Idris yang gemar membuat menhir untuk mengenang jasa leluhurnya. Trend seperti itu terjadi di mana-mana, termasuk dilakukan oleh lembaga dunia seperti Unesco yang menetapkan hari puisi sedunia, hari musik sedunia, hari teater sedunia, hari bahasa ibu sedunia. Tentu saja Unesco tidak berkepentingan jika menetapkan Hari Burung Perkutut atau Hari Burung Garuda Sedunia.

Uneco menetapkan Hari Puisi Sedunia pada 21 Maret, ada alasannya, bisa ditanya ke Mbah Goo. Di Indonesia, ada penyair atau lembaga yang turut merayakan hari puisi sedunia pada 21 Maret itu. Mau protes atau mengeritik, boleh ko, layangkan saja surat ke Unesco.

Ada yang bertanya atow usul, harusnya penetapan hari A dan B itu dilakukan melalui perdiskusian panjang, mengundang si A atow si B. Ya benar, dan itu sudah dilakukan oleh YHPI, termasuk YHPI menggelar acara-acara Lomba Buku Puisi yang telah diselenggarakan 12 kali, dan terpaksa berhenti karena lagi-lagi, salah si Dana dan kawan-kawannya. Lomba Buku Puisi versi HPI telah menjadi agenda seting, membuat para penyair (tidak seluruhnya tentu) berusaha menulis puisi sebaik-baiknya, dibukukan, dan ikut lomba.

Perlombaan menciptakan karya yang terbaik itu bagus, dianjurkan dalam ajaran tradisi maupun agama. Dalam Islam, dititahkan: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 148).

Dalam Ṛgveda VII.32.9, dapat ditemukan ajakan yang serupa:
“Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras capailah tujuan tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk meraih kekayaan. Orang yang bersemangat akan berhasil dan hidup sejahtera. Para dewa takkan menolong orang malas.”

Sedangkan dalam Injil surat Galatia 5:7 tertulis:
“Kamu telah berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalangi kamu sehingga kamu tidak menaati kebenaran?”

Saya termasuk menyayangkan lomba buku puisi HPI terhenti karena si Dana itu. Jika Yasan HPI dibawah kepemimpinan Dato Asrizal Nur berpaling ke Pemerintah berharap dapat kucuran anggaran untuk hadiah penyelenggaraan Lomba, saya termasuk setuju, sebab uang yang dikelola pemerintah itu pada dasarnya adalah uang rakyat, dan dikembalikan ke rakyat melalui lomba.

Sebelum dipimpin oleh Asrizal pun, saya yakin ada upaya YHPI minta pemerintah turun tangan, namun hasilnya kurang memuaskan.

Bahwa pemerintah mau memikirkan puisi pun, itu sudah ‘leuheung’ lah, di tengah seabreg persoalan bangsa yang lebih krusial, yaitu masalah penegakan keadilan, pensejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, dll. Percuma dibentuk Kementerian Kebudayaan RI kalow membantu mengurusi puisi kurang mampu. Ya, semoga hadiah untuk Lomba Buku Puisi mulai tahun 2026, nilainya lebih besar, finalisnya lebih banyak, dan pemenangnya lebih dari lima buku.

Der ah!

* Doddi Ahmad Fauji, Ketua Perkumpulan dan Koperasi Ekonomi Kreatif Partey Penulis Puisi.

Exit mobile version