Pembekalan materi untuk melatari FGD, antara lain dari Bupati Majalengka, Eman Suherman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Indra Sofyan, dan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Hariyanto.
Oleh : Doddi Ahmad Fauji
JERNIH– Penguatan Jejaring Pariwisata Edu Heritage kawasan Rebana diangkat ke dalam diskusi grup terpumpun pada 27 Juni 2025, bertempat di Ciboer Pass, Desa Wisata Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Acara ini selenggarakan oleh Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah I, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastuktur, Kementerian Pariwisata.
Acara FGD (Focussing group Discussionn) atau diskusi grup terpumpun ini dapat dimaknai sebagai penempaan di kawah candradimuka, agar kelak melahirkan gerakan ringkas, akurat, bermanfaat, serta masyarakat ikut menikmatinya. FGD diawli oleh sambutan-sambutan pemerkaya wawasan dan pembekalan materi untuk melatari FGD, antara lain dari Bupati Majalengka, Eman Suherman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Indra Sofyan, dan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Hariyanto.
Paparan materi lebih menukik pada masalah terkait pariwisata kawasan Rebana disampaikan oleh Dedi Mulyadi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat dengan tema “Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat dalam Mendukung Kawasan Rebana”.
Selanjutnya paparan bertema “Kolaborasi Peningkatan Industri Pariwisata Kawasan Rebana” disampaikan oleh Bernardus Djonoputro, Kepala Badan Pengelola Kawasan Rebana, lalu dari Reza Permadi yang menjabat CEO Atourin memaparkan materi tentang “Kolaborasi Peningkatan Industri Pariwisata Kawasan Rebana”, dan sesi paparan ini ditutup oleh paparan dari Dr. Indra A. Budiman, Rektor Universitas Majalengka yang menuturkan kesiapan pihak akademisi dalam membantu riset ilmiah serta menyediakan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kawasan Rebana.

Setelah istirahat Jumatan, dikusi dilanjutkan dengan inventarisasi saran dan gagasan dari para peserta yang mewamiliki unsur pentahelik, yaitu pemerintah yang diwakili oleh para eksponen Dinas Pariwisata dari kawasan Rebana, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Sesi inventarisasi gagasan ini dipimpin H. Idan, Kadisparbud Majalengka dan Ida Irawati dari Asosiasi Kawasan Wisata Indonesia.
Perlu dijelaskan kawasan Rebana ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan. Perpres ini bertujuan untuk mempercepat pembangunan kawasan yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru di Jawa Barat. Daerah yang termasuk ke dalam kawasan Rebana adalah Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.
Perpres juga lahir untuk menindaklanjuti pembangunan Pelabuhan Petikemas internasional terbesar di Asia Tenggara yaitu Pelabuhan Petikemas Petimban di Kabupaten Subang, serta Bandara International Jawa Barat Kertajati yang berada di Kabupaten Majalengka. Idealnya, dua infrastuktur tersebut dapat langsung beroperasi dengan baik dan mendatangkan pemasukkan yang diharapkan. Namun hingga sekarang, terutama karena dipengaruhi oleh Pandemi Covid 2019, seperti yang dituturkan oleh Dodo dari BIJB Kertajati mengatakan selalu nombok dan nunggak utang, sementara dalam tayangan kontennya, Gubernur Jawa Barat KDM menuturkan tombokan dana per bulan untuk BIJB Kertajati mencapai Rp30 miliar. “Keun weh heula, tapi urang pikiran (biar saja dulu, tapi tetap kita pikirkan,” kata KDM dalam kontennya di sosmed, maupun yang dimuat dalam laman: https://jabar.tribunnews.com/2025/06/07/dedi-mulyadi-pusing-bandara-kertajati-bikin-pemprov-boncos-tiap-tahun-tombok-rp-30-miliar.
Fakta ini dapat memunculkan pertanyaan, apakah pengelolaan BIJB Kertajati harus diambil oleh pemerintah pusat atau tetap oleh pemerintah Jabar namun dengan dukungan pemerintah pusat dalam membuat regulasi yang mendukung, misalnya memindahkan aneka rapat dan kegiatan pusat dalam bentuk MICE ke kawasan BIJB. MICE adalah singkatan dari Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions.
Reza Permadi dari Atourin mencontahkan dalam paparannya di FGD Jumat lalu itu, bandara udara Brenderburg di di Berlin, Jerman, tergoloong sepi dan merugi. Lalu pemerintah pusat memutuskan mulai memindahkan berbagai acara MICE ke Berlin, membuat bandara tersebut ramai kembali dan mendapatkan keuntungan.
Kondisi anggaran tahun 2025 ini tergolong sulit bergerak karena adanya efisiensi, namun untuk tahun 2026, Bambang Cahyo Murdoko dalam sambutan penutupan acara FGD menyampaikan bahwa pemerintah telah mengusulkan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diajukan oleh seluruh kementerian yang jumlahnya mencapai Rp 153 triliun rupiah. Tentu saja bila DAK ini disetujui DPR, akan dapat digunakan untuk memacu dan menstimulus pembangunan di berbagai daeraj termasuk kawasan Rebana, termasuk penyuntikan dana bagi pembangunan infrastruktur di BIJB Kertajati, misalnya untuk pembangunan-pembangunan infratruktur MICE.
Dari DAK tersebut, beberapa kementerian yang beririsan, seperti Kementerian Parisiwata, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perdagangan, Kementerian Industri, bahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, bisa ikut mendukung pembangunan kawasan Rebana dan Jawa Barat Selatan sesuai Perpres No. 87 tahun 2021.
Sementara itu, Ida Irawati Ardiwilaga daeri Asosiasi Kawasan Wisata Indonesia menuturkan, perlunya segera didirikan Badan Pengembangan Pariwisata Rebana sebagai pelaksana dari aneka usulan yang telah dirumuskan melalui serangkaian FGD maupun diskusi lanjutan. Sebab wacana saja tidak akan membuahkan hasil bila tidak ada pelaksanaan. Hal ini juga ditegaskan Mohammad Hasan dari GAIDO Connection yang mengatakan, bahwa ide atau rencana A, B, C itu bisa bagus semua, namun akan hampa zonk bila tidak ada pelaksanannya.
“Gaido siap bekerjasama untuk mendorong kemajuan kawasan Rebana,” katanya. Hasan hadir sebagai salah satu unsur pentahelik dalam FGD di Broer Pass itu.
Mengenai gagasan dan usulan-usulan para peserta FGD dari unsur pentahelik, serta esay membaca kawasan Rebana dari unsur geowisata, dipaparkan dalam tulisan terpisah.