Site icon Jernih.co

Anomali Pasar 2026: Mengapa Harga Emas Ambruk di Tengah Perang Iran vs AS-Israel?

Kebijakan suku bunga tinggi adalah musuh alami bagi logam mulia. Emas dikategorikan sebagai non-yielding asset (aset yang tidak memberikan imbal hasil langsung seperti dividen atau bunga). Keuntungan emas murni hanya bergantung pada kenaikan harga fisiknya.

JERNIH — Hukum baku ekonomi global baru saja patah di tahun 2026. Biasanya, saat perang atau krisis geopolitik pecah, harga emas akan melonjak tajam karena investor memburu logam mulia ini sebagai aset aman (safe haven) pelindung nilai dari inflasi. Namun, hal itu tidak berlaku dalam perang Timur Tengah kali ini.

Harga emas dunia terus berada di bawah tekanan hebat sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan agresi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Data pasar menunjukkan harga emas telah merosot drastis dari level tertingginya sebesar $$5.303 per troy ounce pada 28 Januari, menjadi hanya $$4.235 per troy ounce pada hari Jumat (12/06/2026).

Mengapa tren emas justru menukik turun? Jawabannya terletak pada respons bank sentral terhadap inflasi ekstrem yang dipicu oleh blokade maritim. Iran memblokir lalu lintas kapal di Selat Hormuz sejak awal perang sebagai bentuk pembalasan. Jalur ini merupakan urat nadi utama pengiriman minyak dan gas dunia. Akibatnya, harga energi global meroket dan memicu lonjakan inflasi.

Di Amerika Serikat, inflasi menyentuh angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yakni mencapai 4,2%. Karena inflasi terlalu tinggi sementara pasar tenaga kerja AS tetap kokoh, harapan investor agar Bank Sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga langsung sirna. Sebaliknya, The Fed kini diprediksi kuat akan kembali menaikkan suku bunga demi meredam harga-harga.

Pertarungan Suku Bunga Tinggi vs Daya Tarik Emas

Kebijakan suku bunga tinggi adalah musuh alami bagi logam mulia. Emas dikategorikan sebagai non-yielding asset (aset yang tidak memberikan imbal hasil langsung seperti dividen atau bunga). Keuntungan emas murni hanya bergantung pada kenaikan harga fisiknya.

“Emas adalah aset yang paling dekat dengan uang riil. Emas tidak mengumpulkan dividen, dan tidak menghasilkan nilai sampai harganya naik. Orang membeli emas murni untuk apresiasi nilainya,” kata Justin Cardwell, kepala analis opsi dari OptionSpreaders.com mengutip Al Jazeera.

Ketika suku bunga perbankan tinggi, daya tarik emas otomatis meredup. Investor lebih memilih memarkir uang mereka di mata uang Dolar AS atau obligasi yang memberikan bunga pasti.

Konflik Iran secara tidak langsung justru membawa berkah bagi mata uang Dolar AS. Karena transaksi emas dunia dihargai dalam dolar, pergerakan keduanya selalu berbanding terbalik (inversely). “Ketika dolar menguat, emas merasakan tekanannya. Saat ini, dolar berada di posisi yang sangat kuat, dan emas menanggung akibatnya,” jelas Collin Plume, CEO Noble Gold Investments.

Sebelum perang pecah, Presiden Donald Trump sempat melobi ketat agar The Fed memangkas suku bunga secara dramatis. Namun, data terbaru dari CME FedWatch Tool kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga (rate hike) oleh The Fed pada Desember nanti sudah menembus angka di atas 50%.

“Suku bunga dan inflasi adalah dua sisi dari jungkat-jungkit, dan emas duduk tepat di tengahnya. Sialnya di tahun 2026, kedua hal ini terjadi bersamaan—dan saat ini, sisi suku bunga yang menang. Itulah mengapa emas menghadapi angin sakal (headwinds),” tambah Plume.

Pada penutupan pasar hari Jumat (12/6/2026), harga emas terpantau sedikit merangkak naik menyusul beredarnya berita utama mengenai potensi adanya kesepakatan damai atau gencatan senjata antara AS dan Iran.

Cardwell menilai, rumor berakhirnya perang akan direspons positif oleh pasar emas karena memunculkan asumsi bahwa rantai pasok energi akan kembali normal dan inflasi bakal melandai. Namun, proses pemulihan harga emas diprediksi tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan.

“Rentang harga emas saat ini kemungkinan besar adalah titik pertahanan (support). Namun, bahkan ketika perang nanti berakhir, ada terlalu banyak faktor makroekonomi lain yang akan tetap menahan laju kenaikan harga emas,” tambah Cardwell.

Exit mobile version