JERNIH – Ekonomi Jerman menghadapi krisis yang semakin dalam ditandai dengan pertumbuhan nol, meningkatnya pengangguran, dan biaya energi yang tinggi. Jerman membutuhkan program pemulihan ekonomi komprehensif.
Menteri Ekonomi Jerman Katherina Reiche telah memperingatkan bahwa negaranya menghadapi situasi serius karena berjuang melawan stagnasi ekonomi yang terus-menerus, meningkatnya pengangguran, dan tantangan struktural yang semakin besar.
“Situasinya serius. Saat ini kita memiliki tiga juta pengangguran. Sejak 2019, kita berada dalam fase tanpa pertumbuhan, dengan nol pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal terakhir” ujar Reiche dalam wawancara dengan Bild yang diterbitkan Minggu (21/9/2025).
Meskipun ada periode perbaikan yang singkat, Reiche menghubungkannya dengan percepatan ekspor ke AS menjelang tarif baru yang diberlakukan, bukan dengan pemulihan ekonomi fundamental apa pun.
Menteri tersebut menunjuk pada harga energi yang tinggi dan biaya tenaga kerja non-upah yang sangat tinggi sebagai kontributor utama terhadap krisis. Ia mencatat bahwa Jerman membutuhkan program pemulihan ekonomi komprehensif, tetapi memperingatkan bahwa reformasi yang berarti akan memerlukan waktu.
CDU Janjikan Reformasi, tapi belum ada Pemulihan
Kanselir Friedrich Merz, Pemimpin Uni Demokratik Kristen (CDU) yang konservatif, telah berjanji membalikkan kemerosotan ekonomi pada akhir musim panas. Namun, para ekonom menyalahkan pemerintah terlalu lambat dalam reformasi struktural, terutama pensiun. Sementara seruan Merz melonggarkan “rem utang” Jerman yang ketat guna meningkatkan belanja pertahanan dan infrastruktur telah menuai kecaman dari kaum konservatif fiskal.
Reiche, yang menjabat sebagai menteri ekonomi pada bulan Mei, menekankan pentingnya investasi jangka panjang. “Kurangnya investasi dalam perekonomian akan menjadi faktor penentu selama 20 tahun atau lebih,” ujarnya.
Menurut statistik resmi, ekonomi Jerman mengalami kontraksi sebesar 0,2% pada 2024, menandai tahun kedua berturut-turut penurunannya. Kesepakatan perdagangan Uni Eropa (UE)-AS memperburuk tekanan ekonomi.
Pada 27 Juli, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden AS Donald Trump menandatangani perjanjian perdagangan yang mengenakan tarif sebesar 15% pada sebagian besar ekspor UE ke AS.
Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Brussels setuju membeli produk energi Amerika senilai $750 miliar dan memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Jerman, yang sudah bergulat dengan tingginya biaya energi domestik dan ketidakseimbangan perdagangan.
