Site icon Jernih.co

Rupiah Ambles ke Rp17.749 per Dolar AS, Pengamat Peringatkan Risiko Jebol ke Rp18.000 Pekan Ini

JERNIH — Tekanan terhadap mata uang rupiah kian mengkhawatirkan. Nilai tukar rupiah kembali tersungkur dan dibuka melemah ke level Rp17.749 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Pengamat pasar uang bahkan memberikan alarm bahwa rupiah berpotensi besar ambles ke level psikologis baru, yakni Rp18.000 per dolar AS, dalam pekan ini.

Guncangan ini dipicu oleh kombinasi sentimen buruk global akibat konflik bersenjata di Timur Tengah yang belum mereda, serta lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menegaskan bahwa tren pelemahan rupiah saat ini sudah berada dalam fase yang cukup mengkhawatirkan. Langkah intervensi yang sejauh ini digelontorkan oleh Bank Indonesia (BI) dinilai belum cukup kuat menahan gempuran dolar AS.

Kondisi ini diperparah dengan adanya libur nasional pada Rabu (27/5/2026), yang otomatis menghentikan aktivitas pasar keuangan domestik untuk sementara waktu.

“Pelemahan cukup tajam ini akan berdampak terhadap rupiah, dalam minggu ini kemungkinan besar target Rp18.000 akan tercapai. Besok di libur nasional tekanan ini akan cukup tinggi. BI tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara, sehingga hanya akan membuat rupiah mengalami pelemahan,” jelas Ibrahim di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Meskipun rupiah sedang babak belur, Bank Indonesia mengeklaim situasi ini murni akibat hantaman sentimen jangka pendek, bukan karena keroposnya ekonomi nasional.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengakui adanya ketidakseimbangan (mismatch) yang akut antara suplai dan permintaan dolar AS di dalam negeri. Setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat peredaran dolar AS di tanah air mendadak kering. Pertama sentimen global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih gonjang-ganjing. Kedua, faktor musiman yakni tingginya permintaan valas untuk kebutuhan musim haji 2026 serta terakhir repatriasi dana untuk pembayaran dividen ke luar negeri di paruh tahun oleh korporasi.

“Jadi memang kebutuhan dolar AS sangat tinggi. Antara suplai dan permintaan enggak imbang. Kemudian juga return spread di AS sekarang mulai melebar,” tambah Destry pada Senin (25/5/2026).

Di tengah proyeksi suram para analis pasar, BI optimistis mata uang Garuda memiliki fundamental yang sangat kuat untuk bangkit kembali (bounce back) ke posisi awal. Optimisme ini didorong oleh rapor hijau pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini yang sukses mencatatkan performa impresif yakni 5,61 persen atau tertinggi di beberapa kawasan.

Destry meyakini, bauran strategi dan program yang tengah dijalankan oleh pemerintah bersama bank sentral akan mampu mengembalikan stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang. Langkah ini diharapkan bisa terus memupuk tingkat kepercayaan (confidence) masyarakat, terutama para investor asing, agar tidak menarik modalnya keluar dari Indonesia.

Exit mobile version