JERNIH – Ambisi Korea Selatan untuk menyuntikkan dana sebesar 350 miliar dolar AS (setara Rp5.500 triliun) ke sektor strategis Amerika Serikat dipastikan melambat. Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, menyatakan rencana investasi raksasa tersebut kemungkinan besar tidak akan dimulai pada awal 2026 akibat anjloknya nilai tukar won dan volatilitas pasar yang mengkhawatirkan.
Langkah penundaan ini menjadi “napas buatan” sementara bagi pasar mata uang Seoul yang sempat tegang karena kekhawatiran akan pelarian dolar (dollar outflow) besar-besaran yang bisa kian menghancurkan nilai won.
Investasi ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang November 2025. Korea Selatan berjanji menanamkan modal jumbo di AS sebagai imbalan agar pemerintahan Donald Trump mencabut berbagai tarif impor yang memberatkan produk-produk Korea.
Meskipun kedua negara sepakat untuk membatasi aliran keluar dolar maksimal 20 miliar dolar AS per tahun demi menjaga stabilitas keuangan, Menteri Koo mengakui bahwa memulai proyek sebesar itu dalam waktu dekat adalah hal yang mustahil.
“Jika sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir terpilih, misalnya, ada proses panjang mulai dari pencarian lokasi, desain, hingga konstruksi. Jadi, aliran dana keluar di tahap awal mungkin akan jauh lebih kecil dari angka yang diperkirakan,” ujar Koo, Jumat (16/1/2026).
Mata Uang Won di Titik Nadir
Saat ini, nilai tukar won Korea Selatan berada di level terendah dalam 16 tahun terakhir, menyentuh angka 1.473,8 per dolar AS. Sejak awal tahun, won telah melemah lebih dari 2%, mendekati ambang batas psikologis 1.500 yang sangat dihindari pemerintah.
Menteri Koo memberikan peringatan keras kepada para spekulan pasar agar tidak mencoba-coba menguji ketahanan pemerintah. “Ada tekanan depresiasi di pasar valuta asing yang ternyata lebih besar dari perkiraan kami. Kami tidak akan mentoleransi spekulasi berlebih,” tegasnya.
Pemicu melemahnya won adalah jarak suku bunga antara AS dan Korea Selatan berada di titik terlebar sejak 1999. Investor Korea juga lebih memilih memburu saham di bursa luar negeri (AS) demi imbal hasil lebih tinggi. Selain itu juga terpengaruh masih adanya proses di pengadilan AS terkait legalitas tarif era Trump.
Meski belum ada proyek spesifik yang dikonfirmasi, Sekretaris Perdagangan AS Howard Lutnick telah memberi sinyal bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) akan menjadi fokus utama investasi ini. Pemerintah Korea Selatan sendiri berencana mengajukan draf undang-undang dana khusus untuk mendukung investasi ini ke parlemen pada Februari mendatang.
Namun, selama “perang” melawan pelemahan mata uang belum berakhir, pemerintah Korea kemungkinan akan terus mengerem aliran dolar keluar, termasuk mendesak dana pensiun nasional untuk menjual dolar dan meminta para eksportir segera mengonversi pendapatan luar negeri mereka ke dalam won.
