Dari panggung Dublin hingga puncak Dolby Theatre, perjalanan Jessie Buckley adalah sebuah simfoni tentang keteguhan dan kejujuran artistik. Lewat tangan dingin Chloé Zhao ia melakukan dekonstruksi terhadap duka, cinta, dan sejarah.
WWW.JERNIH.CO – Malam penganugerahan Academy Awards ke-98 di Dolby Theatre menjadi saksi sejarah baru bagi industri perfilman dunia. Jessie Buckley, aktris asal Irlandia, resmi dinobatkan sebagai Aktris Terbaik Oscar 2026 berkat performa fenomenalnya dalam film Hamnet.
Kemenangan ini merupakan puncak dari perjalanan panjang seorang seniman yang dikenal dengan keberaniannya menghidupkan karakter-karakter mentah, kompleks, dan penuh empati. Sebagai wanita Irlandia pertama yang memenangkan kategori ini, Buckley mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan besar yang mampu menjembatani duka masa lalu dengan relevansi emosi modern.

Dalam film Hamnet arahan sutradara Chloé Zhao, Buckley memerankan Agnes Shakespeare, istri dari pujangga besar William Shakespeare. Performa ini disebut sebagai salah satu akting paling menguras emosi dalam sejarah sinema. Buckley membawa karakter Agnes dengan sentuhan yang sangat membumi—seorang wanita dengan koneksi mistis terhadap alam yang harus hancur akibat kehilangan putranya, Hamnet, karena wabah.
Kekuatan utama Buckley terletak pada kemampuannya berkomunikasi tanpa kata. Melalui tatapan matanya, ia menggambarkan pergeseran drastis dari cinta yang hangat menjadi keputusasaan yang sunyi.
BACA JUGA: Hamnet, Menguak Sisi Sunyi di Balik Nama Shakespeare
Salah satu momen paling ikonik adalah adegan di mana ia menyaksikan pertunjukan drama suaminya di London; Buckley berhasil menunjukkan transisi emosional yang luar biasa, dari rasa dikhianati hingga pemahaman mendalam tentang bagaimana seni menjadi kanal bagi rasa sakit manusia.
Karier Buckley adalah bukti nyata dari dedikasi terhadap seni peran. Bermula dari ajang bakat I’d Do Anything (2008), ia dengan cepat meninggalkan label bintang realitas melalui pendidikan formal di RADA. Ia membangun portofolio yang luar biasa luas, mulai dari sosok pemberontak di Wild Rose (2018), hingga karakter intelektual yang melankolis dalam I’m Thinking of Ending Things (2020).
Kecemerlangannya mulai terendus Academy saat ia meraih nominasi Aktris Pendukung Terbaik lewat The Lost Daughter (2021), disusul akting kolektif yang kuat dalam Women Talking (2022). Secara umum, gaya akting Buckley sering digambarkan sebagai visceral (berdasarkan insting) dan unfiltered. Ia memiliki keberanian langka untuk tampil rapuh atau tidak menarik secara visual demi menjaga kejujuran karakter yang ia mainkan.
Kemenangan di Oscar 2026 menyempurnakan statusnya sebagai pemenang “Grand Slam” musim ini. Selain membawa pulang piala berlapis emas tersebut, Buckley juga menyapu bersih penghargaan bergengsi lainnya. Antara lain BAFTA Award (Aktris Terbaik), Golden Globe Award (Aktris Terbaik Drama), SAG Award (Aktris Terbaik) dan Critics’ Choice Award (Aktris Terbaik)
Sebelumnya, ia telah memenangkan Olivier Award (2022) untuk perannya di musikal Cabaret, membuktikan bahwa bakatnya merambah dari panggung teater hingga layar lebar.
Di atas karpet merah, Buckley tampil memukau dalam gaun rancangan Chanel yang didesain khusus oleh Matthieu Blazy. Gaun two-tone dengan korset satin merah koral dan rok chiffon pink lembut ini merupakan penghormatan (homage) kepada gaya klasik Grace Kelly tahun 1956. Dipadukan dengan perhiasan Chanel High Jewelry dan rambut pixie-bob yang modern, penampilannya malam itu melambangkan transisi Buckley dari aktor karakter menjadi ikon global.
Kini, dunia menantikan proyek terbarunya, The Bride! karya Maggie Gyllenhaal, di mana ia akan bertransformasi kembali menjadi karakter yang provokatif dan penuh energi punk. Kemenangan di Oscar 2026 hanyalah satu babak baru bagi Jessie Buckley, sang bunglon industri film yang kini berdiri tegak di puncak dunia.(*)
BACA JUGA: Kejutan Oscar 2026: Dari Dominasi ‘Frankenstein’ Hingga Kemenangan Bersejarah K-Pop