JERNIH — Dini hari di Jalan Raya Jakarta-Bogor, kawasan Nanggewer Mekar, Cibinong, mendadak berubah menjadi arena laga kolosal yang mencekam. Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 02.30 WIB, kilatan petasan membelah kegelapan, diselingi gemerincing gesekan bilah-bilah celurit raksasa di atas aspal.
Jalan arteri utama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor itu lumpuh total. Tak kurang dari 400 pemuda dengan menunggangi sekitar 200 hingga 250 sepeda motor secara brutal memblokir jalan. Mereka bukan sekadar lewat, melainkan tengah melakoni “pertempuran terencana”.
Peristiwa mengerikan ini bak cermin dari fenomena ghetto gang wars di pinggiran kota-kota besar Amerika Serikat atau fenomena kelam drill music rivalries di London, Inggris. Di sana, kelompok pemuda marjinal kerap memanfaatkan fitur siaran langsung (live) Instagram atau janji tanding via pesan tertutup (glorified gladiator fights) demi merebut gengsi, harga diri, dan eksposure di dunia maya.
“Berdasarkan hasil penyelidikan awal, bentrokan ini bukan merupakan aksi spontan, melainkan pertempuran yang sudah direncanakan melalui media sosial,” ungkap Kasat Samapta Polres Bogor, AKP Yogi Nugraha.
Video mencekam yang diunggah akun @cibinong24update mendadak viral, memperlihatkan betapa warga lokal dan pengguna jalan yang hendak memulai aktivitas pagi harus tertahan dalam ketakutan.
Kedatangan tim gabungan Dalmas dan Pamapta Polres Bogor memicu kekacauan spektakuler. Sirine polisi memecah konsentrasi massa. Ratusan sepeda motor kocar-kacir menancap gas, menciptakan adegan kejar-kejaran seru di sepanjang koridor Jalan Raya Jakarta-Bogor.
Dari penyergapan tersebut, polisi berhasil membekuk tiga orang terduga pelaku beserta tujuh bilah celurit berukuran besar yang ditinggalkan atau disembunyikan.
Aksi nekat ratusan anggota gangster ini langsung memantik keprihatinan mendalam dari Bupati Bogor, Rudy Susmanto. Ia menilai tradisi kelam tawuran yang kini mengadopsi taktik perorganisasian digital sudah berada di titik kritis dan membahayakan nyawa warga tak berdosa.
“Jangan sampai tawuran dan aksi kekerasan ini kembali memakan korban jiwa. Mari kita bersama-sama, khususnya orang tua dan tokoh masyarakat, memagari generasi muda kita agar Bogor tetap aman dan kondusif,” tegas Rudy.
Kini, kepolisian terus melacak akun-akun media sosial yang menjadi aktor intelektual di balik “undangan perang” tersebut untuk membongkar jaringan gangster siber yang meresahkan jalanan ibu kota dan penyangganya.
