Site icon Jernih.co

Kapolri Listyo Sigit Prabowo Usulkan Tepung Ubi Jadi Bahan Pemadam Kebakaran

Pemanfaatan pati ubi menawarkan cara pemadaman api yang efektif, ekonomis, dan bebas bahan kimia beracun.

WWW.JERNIH.CO  – Wacana pemanfaatan inovasi berbasis komoditas lokal mengemuka setelah usulan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi penggunaan tepung ubi sebagai bahan pemadam kebakaran.

Usulan ini dilandasi oleh riset pengembangan tepung ubi—seperti ubi kayu/singkong, ubi jalar, maupun pati modifikasinya—sebagai bahan baku Alat Pemadam Api Ringan (APAR) ramah lingkungan serta biopolimer penahan api (fire retardant).

Berbeda dengan bahan pemadam kimia sintetis yang berpotensi merusak lingkungan, kandungan pati (starch) berdensitas tinggi dalam tepung ubi memiliki karakteristik fisika-kimia unggul yang mampu memadamkan api sekaligus menghentikan perambatannya secara efektif jika diproses dengan formulasi yang tepat.

Empat Tahap

Mekanisme kerja inovasi ini memadukan aksi fisik dan reaksi kimia termal melalui empat tahap utama. Pertama, ketika terkena panas tinggi, molekul karbohidrat kompleks pada pati mengalami pirolisis dan karamelisasi yang membentuk lapisan arang padat pelindung (intumescent/char layer). Lapisan ini berfungsi sebagai isolator termal yang menghalangi aksesi oksigen ke bahan bakar.

Kedua, timbul efek pengisolasian oksigen (smothering) akibat dekomposisi pati yang melepaskan uap air (H2O) dan gas karbon dioksida (CO2), sehingga mengencerkan kadar oksigen di sekitar titik api. Ketiga, terjadi penyerapan panas secara masif (cooling effect) karena struktur gel pati mengikat molekul air dalam jumlah besar, menyerap kalor radiasi saat menguap, dan menurunkan suhu objek di bawah titik nyalanya (flash point).

Keempat, sifat alami pati yang lengket saat dipanaskan memberikan daya tempel (adhesion) tinggi, membuat cairan pemadam menempel erat pada bidang vertikal maupun vegetasi sehingga mencegah risiko pembentukan kembali kantong api (re-ignition).

Secara akademis, efektivitas pati ubi telah dibuktikan dalam berbagai studi dan pendaftaran paten. Pati diformulasikan sebagai bio-based foam pengganti busa sintetis berbahaya (AFFF), dicampur dengan garam anorganik alami untuk meningkatkan daya padam kebakaran Kelas A dan B, serta dimanfaatkan sebagai aditif penambah efisiensi air (water enhancer).

Inovasi ini menawarkan keunggulan berupa sifatnya yang ramah lingkungan, biodegradable, tidak beracun bagi manusia, serta mengoptimalkan komoditas lokal yang melimpah. Meski demikian, riset berkesinambungan masih terus dilakukan untuk mengatasi tantangan teknis, seperti masa simpan (shelf life) larutan pati yang rentan membusuk dan penyesuaian viskositas cairan agar tidak menyumbat nozzle atau sistem pompa tabung APAR.

Formula Hydrogel

Potensi terbesar dari formulasi berbasis ubi ini terletak pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala luas. Dalam operasi pengeboman air dari udara (water bombing), campuran pati ubi mengubah air menjadi gel kental sehingga air tidak mudah menguap di udara sebelum menyentuh tanah dan mampu menembus tajuk pohon yang lebat.

Pada pemadaman lahan gambut, gel ini meresap dalam-dalam untuk memadamkan bara api di bawah permukaan tanah (smoldering fire). Selain itu, cairan ini efektif disemprotkan sebagai sekat bakar alami (long-term fire retardant) di sepanjang jalur perambatan api.

Namun, tentu saja pengerahan skala besar menuntut ketersediaan pasokan logistik bahan baku yang stabil, ketersediaan fasilitas pencampuran berkapasitas besar di posko bencana, serta penyesuaian alat semprot.

Penting untuk dipahami bahwa tepung ubi dalam aplikasi ini tidak pernah ditaburkan dalam bentuk bubuk mentah kering, karena debu organik yang terhambur di udara justru berisiko memicu ledakan debu (dust explosion).

Formulasi yang digunakan murni berupa hydrogel, campuran cair, atau bubuk terproses kimia yang aman. Secara sains, mekanisme dan keandalan pati ubi sebagai media pemadam api telah tervalidasi sepenuhnya. Kini, fokus pengembangannya berada pada transisi dari skala laboratorium dan uji coba lapangan menuju standarisasi produksi massal yang siap bersaing dengan APAR konvensional di pasar global.(*)

BACA JUGA: Malaysia Keluhkan Asap dari Kebakaran Hutan di Indonesia

Exit mobile version