Jernih.co

Badai Keamanan di Meksiko, Nasib Piala Dunia 2026 Pasca-Tewasnya El Mencho

Bukannya makin tenang, suasana Meksiko malah mencekam pasca perang narkoba yang brutal di Jalisco. Padahal gelaran Piala Dunia 2026 tinggal 100 hari lagi.

WWW.JERNIH.CO – Dunia sepak bola kini tengah menahan napas. Hingga hari ini, 24 Februari 2026, situasi keamanan di Meksiko merosot tajam ke titik yang paling mengkhawatirkan dalam satu dekade terakhir. Peristiwa tewasnya gembong narkoba paling dicari di dunia, Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes, pada akhir pekan lalu bukan sekadar kemenangan bagi aparat penegak hukum, melainkan pemicu “kiamat kecil” di jalanan Meksiko.

Hanya sekitar 100 hari menjelang kick-off Piala Dunia 2026, salah satu tuan rumah terbesar ini justru berada dalam status siaga merah, menempatkan turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut dalam posisi paling rentan sepanjang sejarahnya.

Kematian El Mencho dalam operasi militer presisi di Tapalpa telah memicu reaksi berantai yang sangat brutal dari kartel Jalisco New Generation (CJNG). Sebagai bentuk balas dendam dan unjuk kekuatan, anggota kartel melancarkan aksi yang dikenal sebagai “narcobloqueos”—blokade jalan besar-besaran dengan membakar bus, truk, dan kendaraan pribadi. Sejak Senin malam, tercatat lebih dari 250 blokade jalan di seluruh negeri, dengan eskalasi tertinggi berada di negara bagian Jalisco.

Guadalajara, kota yang seharusnya bersiap menyambut ribuan suporter internasional di Estadio Akron, kini menjadi pusat pertempuran. Kota ini hampir lumpuh total; sekolah-sekolah ditutup, apotek berhenti beroperasi, dan transportasi publik ditarik dari jalanan demi menghindari pembakaran massa.

Yang paling mencekam, aksi pembakaran kendaraan dilaporkan terjadi tepat di akses utama menuju stadion, menciptakan pemandangan mengerikan yang sangat kontras dengan semangat olahraga. Laporan terbaru mengonfirmasi sedikitnya 25 anggota Garda Nasional dan 30 anggota kartel tewas dalam baku tembak selama 48 jam terakhir, memaksa pemerintah federal mengirimkan tambahan 2.500 tentara untuk merebut kembali kendali wilayah tersebut.

Krisis ini bukan lagi sekadar potensi gangguan, melainkan sudah melumpuhkan agenda sepak bola nasional Meksiko. Liga MX secara resmi telah menunda seluruh pertandingan pekan ini karena pihak keamanan menyatakan ketidaksanggupan mereka dalam menjamin keselamatan pemain maupun penonton.

Duel legendaris Clásico Nacional antara Chivas dan América—yang biasanya menjadi pesta rakyat—terpaksa dibatalkan saat ribuan aparat justru ditarik ke garis depan pertempuran kartel.

Kekhawatiran kini bergeser ke level internasional. FIFA tengah melakukan evaluasi serius terhadap rencana pertandingan play-off antarkonfederasi yang dijadwalkan pada akhir Maret 2026 di Guadalajara.

Muncul wacana kuat di internal otoritas sepak bola dunia untuk memindahkan laga-laga krusial, seperti pertemuan antara Kaledonia Baru dan Kongo, ke lokasi yang lebih stabil seperti Monterrey, atau bahkan memindahkannya ke luar perbatasan Meksiko demi alasan keselamatan jiwa.

Secara publik, FIFA masih mencoba menjaga ketenangan dengan menyatakan kepercayaan pada koordinasi keamanan pemerintah federal Meksiko. Namun, di balik pintu tertutup di Zurich, suasananya sangat berbeda

 Laporan internal yang bocor menunjukkan adanya tingkat kepanikan manajerial yang tinggi. FIFA telah memerintahkan kantor perwakilannya di Meksiko untuk menyusun laporan risiko mendalam terkait insiden berdarah yang terjadi antara tanggal 22 hingga 24 Februari ini.

Berdasarkan regulasi Piala Dunia 2026, FIFA memiliki hak unilateral untuk memindahkan lokasi pertandingan secara sepihak jika terjadi kondisi force majeure atau ancaman keamanan yang luar biasa.

Tekanan juga datang dari luar; negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada telah memperbarui travel advisory mereka ke tingkat tertinggi, mendesak warga negara mereka untuk melakukan shelter in place atau tetap di dalam ruangan. Jika sponsor-sponsor utama mulai menarik dukungan karena masalah jaminan keselamatan staf dan aset, FIFA mungkin tidak punya pilihan selain mengambil keputusan pahit.

Apakah kondisi ini benar-benar membahayakan penyelenggaraan Piala Dunia? Jawabannya adalah ya. Sejarah menunjukkan bahwa kekosongan kekuasaan pasca-tewasnya pemimpin kartel besar biasanya diikuti oleh “perang suksesi” yang berdarah dan berkepanjangan. Faksi-faksi kecil di dalam CJNG maupun kartel rival seperti Kartel Sinaloa kemungkinan besar akan bertempur untuk memperebutkan wilayah kekuasaan El Mencho.

Meksiko kini berpacu dengan waktu yang sangat sempit. Mereka hanya memiliki waktu kurang dari empat bulan untuk memulihkan stabilitas nasional. Jika dalam 30 hari ke depan gelombang kekerasan tidak mereda secara signifikan, reputasi global Meksiko sebagai tuan rumah akan hancur. (*)

BACA JUGA: El Mencho sang Gembong Narkoba Meksiko Tewas

Exit mobile version