Semua itu dimulai dari mimpi, beludru merah terang bercahaya yang jatuh di wuwungan rumahku. Ibu Papuana saksinya, saat aku menyampaikan mimpiku di tengah malam bulan Desember. Koreksi, aku tidak ingat bulan apa dan tahun berapa. Si sulung masih bayi, masih belajar bicara fufu fafa.
Cerpen : Marlin Dinamikanto

JERNIH–Aku Sang Raja. Sebelumnya bukan siapa-siapa. Hanya bocah kurus yang tinggal di bantaran sungai. Tidak punya bakat istimewa. Saat sekolah sejak sekolah dasar hingga menyandang titel Bachelor of Science (BSc) nilaiku biasa-biasa saja, bahkan sedikit di bawah rata-rata.
Tapi di Karanglo gelar doktorandus disematkan di depan namaku. Aku pun bingung. Di Jayakarta gelarku berubah lagi jadi insinyur. Padahal mestinya hanya BSc.
Sekarang aku dikejar-kejar soal ijazah yang katanya palsu. Kenapa bisa begitu? Sebenarnya ingin aku tulis cerita hidup yang sempat terang bercahaya Tapi aku bukan penulis.
Kata Sulis, stafku, aku tidak bisa menulis karena tidak hobi membaca. Literasi jeblok. Maka aku hanya rekam di handphone. Sulis yang sudah menulis beberapa buku dengan suka rela menjadikannya sebuah buku berjudul “Sang Beludru Merah Terang Bercahaya”. “Buku ini bisa best seller, Pak,’ katanya.
“Tenane?” tanggapku
Tapi aku tidak mau menghakimi diri sendiri. Hanya sekedar mengenang jalan hidup yang aku sendiri kaget, bisa sangat luar biasa seperti ini.
Semua itu dimulai dari mimpi, beludru merah terang bercahaya yang jatuh di wuwungan rumahku. Ibu Papuana saksinya, saat aku menyampaikan mimpiku di tengah malam bulan Desember. Koreksi, aku tidak ingat bulan apa dan tahun berapa. Si sulung masih bayi, masih belajar bicara fufu fafa.
Sebagai orang jawa aku percaya, mimpi bukan kembangnya orang tidur, melainkan sasmita yang aku terjemahkan sebagai jalan kemuliaan yang terang bercahaya. Dari pulung beludru merah terang itu semua cerita berasal.
Betul juga. Tidak lama setelah itu perusahaan mebelku diundang oleh Pak Menteri Perindustrian Luhur Budi Paramarta ikut road show pameran produk-produk furniture di luar negeri. Dimulai dari Abu Dhabi berlanjut ke Zurich dan beberapa kota besar Eropa lainnya.
Sejak itu kehidupan keluargaku membaik. Ekspor furniture lancar. Mas Wiwit, begitu aku biasa dipanggil, bukan lagi juragan mebel kecil-kecilan. Melainkan berkat bantuan Pak Menteri sudah go international.
Pak Menteri yang sudah pensiun rupanya secara informal meeting entah di mana tempatnya rajin mengumpulkan para juragan. Mereka sudah mengendus datangnya era populisme alias kerakyatan. Untuk itu mereka butuh sosok populisme yang sekaligus dapat dikendalikan oleh para juragan. Untuk itu pak Luhur ditunjuk sebagai Koordinator Para Juragan.
Suatu saat Pak Luhur menyuruhku bersiap diri mencalonkan diri jadi walikota. Nanti, katanya, aku didampingi ketua partai terbesar di kota Karanglo yang karena pemeluk agama minoritas atas nama stabilitas tidak bisa menjadi Walikota meskipun kala itu masih dipilih oleh DPRD.
“Siap ya dik?” kata Pak Luhur Budi Paramarta.
“Sendika dhawuh. Selalu always tidak pernah never pokoknya,” jawabku membuat Pak Luhur terbahak-bahak.
Beludru merah terang terhampar. Meskipun ngomong masih kagok, terkesan plonga-plongo dan imbas-imbis, tapi justru itulah kekuatan utama yang mesti ditampilkan di depan publik. Dunia sedang bergolak. Publik tidak percaya lagi tampang priyayi yang ngomongnya tinggi dan pekerjaannya berbohong. Namun cara berbohongnya sudah ketinggalan jaman. Tidak canggih.
***
Aku adalah kita. Bukan Le ‘etat c’est moi ucapan Raja Louis XIV yang pada praktiknya ditiru oleh beberapa kepala pemerintahan di sejumlah negara. Itu lah pesan kebersahayaan yang menempel begitu lekat di kepala para pemilih. Aku sendiri bingung bagaimana orang-orang itu berdatangan. Mengorganisir diri dalam kelompok-kelompok relawan di seluruh pelosok Karangkadempel.
Sebelum meniti tangga terakhir, rekam jejakku saat menjabat walikota Karanglo memang dibuat moncer. Penertiban pedagang pasar barang bekas yang selalu gagal dilakukan oleh walikota sebelumnya dapat aku selesaikan dalam waktu 3 bulan. Meskipun negosiasi yang terkesan alot itu sesungguhnya hanya semacam dramaturgi yang harus aku mainkan.
Supaya dunia kagum atas hadirnya bintang politik yang berpenampilan sederhana, public speakingnya kacau balau, dan inilah Harapan Baru sebagaimana ditulis majalah Time saat aku dilantik menjadi Presiden Republik Karangkadempel.
Dengan kata lain, sejak aku menjadi walikota, Karangkadempel memiliki ikon baru, calon presiden baru yang selalu blusukan untuk memastikan program kerja dijalankan hingga level birokrasi terbawah. Aku tidak tahu apakah metode blusukan ini sudah masuk kurikulum mahasiswa ilmu pemerintahan.
Kemana-mana aku kendarai motor bebek merah mendatangi warga yang sedang kesusahan seperti korban banjir atau korban kebakaran. Nama Pak Wiwit menggelora bukan hanya di eks karesidenan Karanglo Raya. Melainkan sudah menyebar ke kota-kota lain di Republik Karangkadempel.
Beludru merah terang semakin kinclong. Untuk diterima kalangan yang kritis aku disuruh pura-pura sebagai penggemar berat musik rock. Biar tidak terkesan ndesa seperti wajahku yang memang tidak bisa diubah oleh tekhnologi artificial inteligency generasi awal. Photoshop hanya bisa membuat wajahku lebih cerah, tidak kumal, tapi selalu gagal memoles wajah pasaran ini menjadi lebih ganteng dan indah.
Sesuai plot yang harus aku mainkan, antrean di pelayanan umum dibuat seperti nasabah mengantri di konter bank swasta terbesar di Republik ini. Warga tidak perlu berpanas-panas, tinggal ambil nomer antrian dan duduk manis di ruang tunggu yang sejuk dan nyaman.
Untuk itu ribuan unit AC didrop ke kantor-kantor kelurahan, kecamatan, dukcapil, pertanahan dan sebagainya. Itu semua bukan dari anggaran kota. Melainkan dari CSR perusahaan swasta yang anehnya dari seluruh Republik Karangkadempel. Padahal aku hanya walikota Karanglo yang berpenduduk 400-an ribu jiwa.
Jalanan di Kota Karanglo selalu mulus. Bagaimana tidak mulus? Setiap ada lobang tinggal telepon ke nomer tertentu jalanan segera diperbaiki. Katanya sih bantuan dari dunia usaha. Sejujurnya semua itu sudah ada dalam plot berjudul Rodmap Beludru Merah Terang menuju Erka Satu. Aku, Pak Wiwit, hanya sekedar menjalani peran yang seketika membuatku spektakuler, dielu-elukan warga melebihi penghormatan kepada siapa pun orang penting yang datang ke Karanglo.
Singkat cerita walikota Karanglo segera mendapatkan pujian dari berbagai kalangan. Majalah Tempe dengan moto enak digoreng dan perlu mentahbiskan aku masuk 10 Kepala Daerah Terbaik 2010. Kota yang tadinya kumuh menjadi kota yang begitu bercahaya. Aku sendiri kaget, kok bisa? Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak punya cita-cita menjadi ini itu.
“Ya ndak tahu. Kok tanya saya,” jawabku kepada wartawan.
“Terus, tanya siapa dong?” desak wartawan.
“Kata mas Ebiet kan sudah jelas. Tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang,” jawabku mulai pandai berkelit setiap ditanya wartawan.
Orang-orang itu tentu saja tidak tahu. Saat aku didatangi Pak Luhur Budi Paramarta selaku koordinator para juragan, persisnya aku lupa, dia berpesan agar aku menjalani semacam ritual tapa asu. Apa itu? Bertapa laksana anjing. Tidur tidak boleh lebih dari tiga jam. Pasang pendengaran agar gerakan anti priyayi tidak menyasar ke para juragan yang jumlahnya kecil tapi sangat berkuasa.
“Biar dik Wiwit selalu ingat jati diri. Anjing tidak pernah lupa siapa yang memberi makan,” pesan Pak Luhur yang selalu menancap di hati.
Padahal dari sisi fisik aku bukan jenis anjing mahal seperti Tibetan Mastiff, Samoyed, Rottweiler, Akita, atau Bernese Mountain Dog. Aku hanya anjing kampung yang biasa dijadikan tongseng asu oleh warga Karanglo. Tapi aku sangat setia kepada para ndoro yang hidupnya semakin kaya raya.
Dari Karanglo ke Jayakarta. Berkendara mobil Esemku. Beritanya headline (belum ada istilah viral) di semua media mapan baik cetak maupun elektronik. Laksana vampire, berita itu menggigit banyak isi pikiran orang-orang di Republik Karangkadempel.
Dalam sekejap, drakula pemujaku terus membesar dan menyebar hingga pelosok-pelosok terpencil Republik Karangkadempel. Mereka tidak tahu, aku hanya seekor anjing yang menjaga kawanan domba seperti dalam film kartun Shaun the Sheep.
Tidak perlu ke Gunung Kawi. Tidak perlu pula mencari tahu keberadaan Nyi Blorong. Pesugihan itu datang sendiri. Membawa beludru merah terang. Satu anak tangga, dua anak tangga, hingga ke anak tangga terakhir yang mesti dilintasi menuju Puncak Keprabon.
Banyak kepala yang mesti diinjak. Ada gubernur Fauzi Bowo, ada bakal calon wakil gubernur Adang Ruchiatna, Tapi di luaran masyarakat antusias menyambutku. Mereka selalu eforia menyambut Sang Beludru Merah Terang dengan riang gembira. Semacam lirik lagu Led Zappelin: “di sana ada perempuan yang menganggap semua yang bercahaya adalah emas. Itu tangga ke surga”.
***
“Oh ya, ya nasib. Nasibku bukan nasibmu.”
Tiba-tiba saja aku tertawa. Pundakku yang kurus seperti jerangkong bergoyang-goyang mendengar lagu Iwan Fals dari dashboard mobil. Bukan mobil Esemku tentunya. Karena esemku, atau dalam bahasa Karangkadempel senyumku, kata orang tidak begitu bagus.
Maka aku tidak akan pernah mau ikut-ikutan kursus soft skill, kepribadian dan public speaking di John Robert Power cabang Republik Karangkadempel seperti presiden sebelumnya. Sudah tidak jamannya lagi pemimpin tampil mbagusi yang tutur kata dan gerak geriknya serba diatur.
Jargon mas Wiwit adalah kita itu bukan kebetulan. Sudah ada plot. Termasuk beternak orang-orang miskin melalui rupa-rupa bantuan sosial. Mereka tidak boleh pintar. Bahaya bagi para juragan yang memberikan aku dan keluargaku kemuliaan yang luar biasa.
Beludru merah terang menjadi sangat bercahaya berkat sentuhan midas para juragan lewat beragam platform media sosial dengan jutaan akun sarang lebah. Mereka militan, rajin patroli membunuh karakter orang-orang skeptis yang mulai meragukan kepemimpinanku.
Terus terang aku tidak tahu siapa persisnya yang memfasilitasi jutaan akun sarang lebah itu. Tapi aku tahu itu pasti datang dari kantor-kantor gelap para juragan yang kabarnya membentuk Satgasus Merah Terang Bercahaya. Itu urusan mereka. Urusanku adalah bagi-bagi roti dan bermain sirkus, biar rakyat kenyang dan terhibur.
Rakyat memang terhibur saat ada pejabat yang ditangkap dalam kasus korupsi. Itu lah Taman Hiburan Rakyat (THR) era millenial. Bukan lagi kedai ndangdutan, bukan lagi lawak Srimulat, bukan lagi warung remang, bukan lagi layar tancep yang filmnya itu-itu saja, bukan lagi konser musik, bukan lagi water boom, apa lagi tarian striptis yang sering digeruduk kaum puritan. Melainkan hanya dengan cara menangkap koruptor di berbagai lapisan pejabat negara dan pejabat pemerintahan.
Kalau itu dijalankan rakyat senangnya bukan main. Karena suasana rata-rata penduduk dunia memang sedang anti priyayi. Kata Sulis, stafku sejak di Karanglo, gejala itu lazim disebut populisme.
Tapi rombongan pemain drama di lembaga anti rasuah itu sering lupakalau akulah sutradaranya. Mosok mereka tangkapi sahabat-sahabatku. Satu di antaranya ketua parlemen yang selalu menuruti perintahku. Maka aku marahi pimpinannya dan aku ubah peraturannya agar lebih tegas lagi menyebutkan aku sebagai sutradara kelompok sirkus anti rasuah itu.
Di sisi lain, aku juga harus pandai-pandai merawat kepentingan para ndoro yang ternyata tidak selalu sama antara yang satu dan lainnya, dan masing-masing pula ingin mendapatkan pelayanan prioritas. Layanan prioritas itu adalah melindungi para juragan dari sengketa perkara yang melibatkan mereka.
Akibatnya, kesenjangan sosial, kata mendiang ekonom Universitas Karangkadempel, semakin melebar. Utang negara semakin bongsor dan tidak ada yang bisa aku lakukan selain terus bermain drama. Selanjutnya menyiapkan putra mahkota. Sebab kalau aku tidak menyiapkan anak sulungku menjadi putra mahkota situasinya akan bertambah gawat.
Bisa-bisa aku menjadi presiden pertama Republik Karangkadempel yang diadili dengan banyak pasal: ada pasal penipuan, pasal pemalsuan dokumen, pasal dugaan korupsi dan masih banyak lagi. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau aku sendiri yang memainkan peran sebagai koordinator para juragan.
Pak Luhur Budi Paramarta yang rambut dan kumisnya dicat hitam legam biar tidak terlihat tua, tampaknya oke-oke saja asal aku selalu ingat bahwa aku sudah menjalani ritual tapa asu. Kenikmatan dunia yang aku reguk berasal dari ritual tapa asu itu.
Meskipun aku juga tahu di luaran sana sedang dihujat kaum cerdik pandai di seluruh wilayah Republik Karangkadempel.
***
Republik Karangkadempel terus bergolak. Sarang lebah tidak bisa diandalkan lagi mengusir para pembangkang yang makin banyak berjejal menduduki media sosial. Presiden baru yang pamornya semakin bercahaya sulit ditebak arahnya. Kadang membiarkan kericuhan terus berlanjut. Kadang pula tampak membela anak sulungku yang sebenarnya tidak perform tapi terus dipaksa oleh Ibu Papuana jadi wakilnya Pak Presiden yang sekarang berkuasa.
Sebagai koordinator para juragan aku sudah menempatkan petugas jagabaya di semua lini. Mereka diharapkan bisa mengunci kegiatan agar tetap fokus seperti yang aku mau. Presiden baru tidak boleh improvisasi yang aneh-aneh, antara lain dengan cara mengasingkan sang putra mahkota dari episentrum kekuasaan.
Tapi sekarang arahnya tampak semakin kacau. Aku curiga koordinator para juragan yang lama diam-diam masih cawe-cawe sehingga apa pun plot yang aku rencanakan hancur berantakan, malah muncul garuda biru dan demonstrasi 22 Agustus 2024 yang membesar hampir di sekujur Karangkadempel.
Belum lagi tudingan penggunaan dokumen palsu yang membuat beludru merah terang tidak lagi bercahaya. Yang ada justru sambaran petir yang menghancurkan patung-patung di kantor walikota Karanglo. Sasmita itu yang semakin membuatku cemas. Mungkin aku ada utang dengan Nyi Blorong sehingga kulitku mengelupas? Aku bercermin sambil mengingat-ingat. Tapi tidak satu pun yang bisa aku ingat.
Sekarang aku bukan lagi sang raja. Bukan lagi koordinator para juragan. Kalau aku sang raja pasti sudah dibuatkan patungnya di salah satu pulau palsu yang berserak di Teluk Jayakarta. Kalau aku koordinator para juragan tentu Presiden yang baru mau berbagi peran dengan wakilnya. Tapi anak sulung baru mengumpulkan beberapa menteri saja sudah dibubarkan.
Ya, mungkin saja ibarat paketan internet sudah habis dan aku tidak ada jalan lagi membelinya. Atau sesungguhnya aku ini tumbal Nyi Blorong? Oh, semua sudah di luar kendali. Tidak ada lagi orkestra yang bisa dimainkan. Selain hanya numpang berteduh dari badai dan gejolak di ketiak presiden yang baru. []
Proklamasi, 18 Juli 2025