Di tengah gertakan Donald Trump untuk menarik pasukan dalam hitungan minggu, Teheran justru memamerkan “napas panjang” militer yang mampu bertahan lebih dari setengah tahun dalam perang total.
WWW.JERNIH.CO – Para pakar militer mulai menyoroti ketangguhan Iran yang diklaim mampu bertahan dalam operasi tempur intensif selama lebih dari enam bulan. Sementara itu, di seberang samudra, pernyataan Donald Trump untuk menarik pasukan dalam waktu 2-3 minggu menciptakan kontradiksi strategis yang tajam.
Klaim dari utusan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, bahwa Iran sanggup berperang secara intensif selama minimal enam bulan bukanlah gertakan kosong. Kemampuan ini berakar pada indoktrinasi pertahanan mandiri yang dibangun selama puluhan tahun di bawah sanksi.
Iran telah mengembangkan basis industri pertahanan domestik yang masif, dengan data terbaru menunjukkan kepemilikan lebih dari 2.500 hingga 3.000 rudal balistik siap luncur.
Rudal seperti Sejjil dan Khorramshahr memiliki jangkauan hingga 2.000-3.000 km, mampu membawa hulu ledak seberat 1.500 kg. Ketahanan ini didukung oleh infrastruktur militer bawah tanah yang dikenal sebagai “Kota Rudal”.
Fasilitas ini, seperti yang terletak di Kermanshah dan Khorramabad, tersembunyi di kedalaman 30 hingga 80 meter di bawah pegunungan Zagros, membuat mereka hampir kebal terhadap serangan udara konvensional.
Dengan cadangan amunisi yang tersentralisasi dan terlindungi, Iran memiliki “napas” yang panjang untuk melancarkan serangan balasan meskipun infrastruktur permukaan mereka hancur.
Kekuatan darat Iran dibagi menjadi dua pilar utama dengan total personel aktif mencapai lebih dari 580.000 prajurit. Artesh (Tentara Reguler) memiliki sekitar 350.000 hingga 420.000 personel. Fokus pada pertahanan kedaulatan konvensional, didukung oleh sekitar 1.500 tank utama (termasuk varian T-72Z dan Karrar) serta hampir 7.000 sistem artileri.
BACA JUGA: IRGC Iran Hancurkan AWACS dalam Serangan terhadap Pangkalan AS di Al-Kharj Arab Saudi
Pasukan Basij yang merupakan kekuatan cadangan sukarelawan yang diperkirakan bisa dimobilisasi hingga angka jutaan. Mereka berfungsi sebagai elemen pertahanan teritorial yang menjadikan invasi darat bagi lawan sebagai mimpi buruk gerilya kota yang tak berujung.
Unit paling ditakuti, Pasukan Quds, bertindak sebagai instrumen perang asimetris. Mereka ahli dalam menggalang kekuatan proksi di seluruh Timur Tengah. Selain itu, kekuatan udara Iran kini diperkuat oleh armada drone yang masif, mencapai hampir 3.900 unit termasuk seri Shahed-136 yang memiliki jangkauan 2.500 km.
Secara geografis, Iran memiliki keuntungan alamiah yang luar biasa. Wilayahnya yang bergunung-gunung bertindak sebagai benteng alami. Di laut, kendali Iran atas sisi utara Selat Hormuz adalah kartu as mereka.
Dengan taktik perang laut “kerumunan” (swarming) menggunakan kapal cepat peluncur rudal, Iran mampu menutup jalur energi global yang dilalui 20% pasokan minyak dunia hanya dalam hitungan jam.
Donald Trump menyatakan akan menarik pasukan dalam waktu 2-3 minggu setelah melakukan serangan pre-emptif terhadap fasilitas nuklir dan rudal Iran (seperti di Khojir dan Parchin). Namun, janji ini menghadapi realitas militer yang brutal.
AS telah kewalahan telah mengerahkan aset raksasa seperti Carrier Strike Group 12 (USS Gerald R. Ford). Namun, pangkalan AS di Bahrain dan Qatar berada dalam jangkauan langsung rudal Fateh-110 Iran. Menarik pasukan di bawah ancaman saturasi drone dan rudal adalah risiko logistik yang sangat tinggi.
Iran tidak akan meladeni perang terbuka. Mereka akan menggunakan serangan siber dan serangan proksi di Irak dan Suriah. Saat AS mencoba “pergi”, serangan terhadap aset-aset ekonomi di Teluk (seperti yang terjadi pada Maret 2026 di UAE dengan lebih dari 1.600 deteksi serangan) akan memaksa AS untuk tetap tinggal atau menghadapi keruntuhan ekonomi sekutunya.
Penarikan pasukan secara terburu-buru sementara Iran masih memiliki ribuan rudal di “kota bawah tanah” akan meruntuhkan kepercayaan sekutu regional, menciptakan kekosongan kekuasaan yang justru akan diisi oleh pengaruh Iran yang lebih kuat.
Amerika mungkin bisa menghancurkan target-target strategis Iran dari udara dalam hitungan hari menggunakan F-35C dan rudal jelajah. Namun, untuk “menang” dan menetralisir Iran secara permanen, dibutuhkan invasi darat yang menurut para ahli adalah “misi bunuh diri” karena bentang alam yang ekstrem.
Iran telah menyiapkan diri untuk perang panjang yang melelahkan (war of attrition), sementara Amerika, di bawah tekanan politik domestik Trump, mungkin tidak memiliki napas panjang untuk menghadapi konflik yang melampaui durasi 6 bulan tersebut. Amerika harus hengkang.(*)
BACA JUGA: Perang Iran Membakar Habis Triliunan Dolar dan Reputasi Militer Amerika
