BMKG meminta agar pelaku usaha tani diminta menyesuaikan jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tanaman tahan kering, sementara pengelola SDA dan energi diwajibkan melakukan kalkulasi ketersediaan air baku serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA.
JERNIH-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan tentang dinamika iklim dan musim kemarau saat ini yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan.
Selanjutnya BMKG memberikan rekomendasi khusus pada sektor pertanian, sumber daya air (SDA), hingga energi guna menekan dampak buruk iklim. BMKG meminta agar pelaku usaha tani diminta menyesuaikan jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tanaman tahan kering, sementara pengelola SDA dan energi diwajibkan melakukan kalkulasi ketersediaan air baku serta mengantisipasi dinamika produksi listrik PLTA.
“Minimnya curah hujan selama musim kemarau juga berdampak langsung pada penurunan kualitas udara yang berpotensi meningkatkan penyakit ISPA. Seluruh pihak diminta mewaspadai ancaman ini, sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat terhadap dinamika sebaran penyakit DBD, malaria, hingga bahaya heatstroke akibat cuaca panas ekstrem,” tulis BMKG dalam keterangan resmi, dikutip beberapa waktu lalu.
“Di sektor kehutanan dan kebencanaan, kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) wajib ditingkatkan. Sebaliknya, para pelaku sektor perikanan dan tambak garam dapat memanfaatkan fenomena upwelling dan momentum kemarau ini untuk memaksimalkan hasil produksi,” tambah BMKG.
Sejak beberapa bulan lalu, BMKG gencar berkoordinasi lintas sektor guna mendorong langkah antisipasi dan mitigasi kekeringan secara masif. (tvl)
