Jernih.co

China Tuding AS-Israel Biang Kerok Lumpuhnya Selat Hormuz

Harga minyak meroket 65% dan inflasi global mulai mencekik. Di tengah ancaman resesi besar, China memegang kartu as yang tidak dimiliki Amerika Serikat.

WWW.JERNIH.CO –  China secara terbuka menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai biang keladi tertutupnya Selat Hormuz—jalur nadi energi dunia yang kini lumpuh total.

Blokade ini memicu kekacauan pada ekspor minyak dan gas global, mengancam stabilitas ekonomi dari negara adidaya hingga ke dapur rumah tangga kita.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa “akar penyebab” dari blokade ini adalah aktivitas militer ilegal AS dan Israel terhadap Iran. Menurut Beijing, keamanan jalur pelayaran internasional hanya bisa dijamin melalui gencatan senjata dan pemulihan perdamaian di kawasan Teluk.

Kronologi memanas sejak 28 Februari, saat AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Teheran membalas dengan ancaman mematikan: menutup Selat Hormuz. Karena posisi geografisnya yang sangat dekat dengan garis pantai Iran, AS nyaris mustahil memberikan perlindungan militer bagi kapal dagang. Hasilnya? Hanya segelintir kapal tanker yang diizinkan lewat, itu pun harus atas restu langsung dari Teheran.

Selat Hormuz mengalirkan 20% minyak mentah dan 20% gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya. Penutupan ini adalah senjata paling ampuh Iran untuk mengguncang ekonomi global. Data Energy Information Administration menunjukkan harga minyak telah meroket 65% sejak perang pecah.

Dari bensin kendaraan pribadi, solar truk logistik, hingga bahan bakar jet, semuanya naik. Ini akan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok secara universal.

Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan mengejutkan dengan menyebut bahwa tanggung jawab keamanan selat berada di tangan negara-negara pengimpor, bukan AS. Ia bahkan mempertimbangkan untuk membiarkan selat tetap tertutup dan menyerahkan urusan pembukaan jalur kepada para sekutu.

Di tengah kebuntuan militer, diplomasi China muncul sebagai satu-satunya harapan. Mengapa?

Hampir 90% ekspor minyak mentah Iran ditujukan ke China. Secara ekonomi, Iran bergantung hidup pada Beijing. Saat ini, hanya China yang masih bisa mendapatkan pasokan minyak melalui selat tersebut.

China memiliki pengaruh (leverage) terbesar untuk menekan Teheran agar membuka kembali jalur tersebut tanpa perlu mengangkat senjata.

Meski China saat ini mungkin merasa aman dengan pasokan minyaknya, perlambatan perdagangan global dan lonjakan biaya logistik pada akhirnya akan menghantam ekonomi mereka juga.

Kini, mata dunia tertuju pada Beijing: Akankah mereka menggunakan pengaruhnya demi stabilitas global, atau membiarkan krisis ini terus membara?(*)

BACA JUGA: Gen Z Amerika Mulai “Pindah Haluan” dan Mengidolakan China

Exit mobile version