Jernih.co

CNS Fujian dan J-35, Ancaman Senyap yang Mengguncang Pasifik Barat

Kapal induk terbesar Tiongkok kini beroperasi di garis depan, membawa jet siluman yang dirancang untuk menembus radar musuh—mengubah Selat Taiwan dari zona sengketa menjadi panggung uji supremasi laut modern.

WWW.JERNIH.CO –  Langkah-langkah operasional CNS Fujian dalam beberapa bulan terakhir menandai titik balik penting dalam evolusi kekuatan laut China. Sejak resmi masuk dinas aktif pada November 2025, kapal induk Type 003 ini tidak sekadar menjalani fase pengenalan, tetapi langsung ditempatkan pada panggung strategis paling sensitif di Asia-Pasifik.

Transitnya di Selat Taiwan pada Desember 2025 hingga Januari 2026, disusul keberhasilan uji coba jet tempur siluman J-35, memperlihatkan bahwa Fujian telah diproyeksikan sebagai ujung tombak baru proyeksi kekuatan Beijing di laut lepas.

Transit perdana Fujian melalui Selat Taiwan memiliki bobot politik dan militer yang jauh melampaui sekadar pelayaran rutin. Bagi Beijing, ini adalah demonstrasi power projection yang gamblang—sebuah pesan bahwa kapal induk terbarunya siap beroperasi di wilayah yang selama ini menjadi pusat ketegangan dengan Taiwan serta pengawasan ketat Amerika Serikat dan Jepang.

Berbeda dengan Liaoning dan Shandong yang lama berfokus pada latihan di Laut Kuning, Fujian justru diuji dengan pelayaran lintas wilayah menuju Laut China Selatan. Langkah ini tidak hanya menguji ketahanan platform dalam operasi jarak jauh dan perairan dalam, tetapi juga berfungsi menormalisasi kehadiran kapal induk China di Selat Taiwan, sekaligus mengikis konsep “garis tengah” yang selama ini diperlakukan sebagai batas tidak resmi.

Namun, sorotan utama dunia militer datang lebih awal, pada September 2025, ketika Fujian sukses meluncurkan dan mendaratkan jet tempur siluman Shenyang J-35.

Uji coba ini menjadi tonggak sejarah karena menjadikan J-35 sebagai jet siluman pertama di dunia yang dioperasikan dari kapal induk menggunakan EMALS (Electromagnetic Aircraft Launch System) secara fungsional. Meski Angkatan Laut AS telah lebih dulu mengadopsi teknologi serupa pada kelas Gerald R. Ford, keberhasilan China mengintegrasikan jet generasi kelima dengan katapel elektromagnetik dalam waktu relatif singkat dipandang sebagai “curi start” yang signifikan.

Keunggulan utama EMALS terletak pada kemampuan meluncurkan pesawat dengan muatan senjata penuh dan bahan bakar maksimal—sebuah lompatan besar dibandingkan keterbatasan dek ski-jump yang membebani operasi J-15 di kapal induk generasi sebelumnya.

Uji coba tersebut juga memperlihatkan konsep sinergi sayap udara yang matang. Selain J-35, Fujian meluncurkan J-15T untuk serangan berat dan pesawat peringatan dini KJ-600, menciptakan kombinasi mematikan antara “mata di langit” dan daya gempur siluman.

Dalam konfigurasi ini, J-35 diproyeksikan sebagai silent killer—penyusup berjejak radar rendah yang menonaktifkan radar dan pertahanan udara lawan—sebelum membuka koridor bagi gelombang serangan J-15T. Dengan desain dua mesin, J-35 juga diposisikan sebagai tandingan langsung F-35C milik Angkatan Laut AS, menawarkan keunggulan pada kecepatan dan daya angkut untuk operasi berbasis kapal induk.

Secara teknis, Fujian memang merepresentasikan lompatan generasi. Dengan bobot benaman sekitar 80.000–85.000 ton, panjang 316 meter, dan konfigurasi CATOBAR, kapal ini kerap disejajarkan dengan kapal induk kelas Kitty Hawk hingga Gerald R. Ford.

Meski masih menggunakan propulsi konvensional, sistem manajemen energinya dirancang untuk menopang kebutuhan listrik besar EMALS dan sensor modern, termasuk radar AESA Type 346B “Dragon Eye”.

Kapasitas sayap udara hingga 50–60 pesawat—mencakup J-15T, J-35, KJ-600, dan varian peperangan elektronik J-15D—memberikan fleksibilitas operasional yang sebelumnya tidak dimiliki Angkatan Laut China.

Dari sisi industri dan doktrin, Fujian adalah simbol transisi strategis. Dibangun sepenuhnya di dalam negeri di Jiangnan Shipyard, kapal ini menandai pergeseran dari desain berbasis Soviet menuju rancangan modern orisinal Tiongkok.

Prosesnya—dari peletakan lunas sekitar 2015, peluncuran pada Juni 2022, uji coba laut intensif sejak 2024, hingga komisioning pada 2025—menunjukkan kemampuan Beijing mempercepat kurva pembelajaran teknologi kompleks. Uji beban mati EMALS, integrasi sistem senjata, dan efisiensi operasional yang diklaim tinggi memperkuat kesan bahwa Fujian bukan sekadar proyek prestise, melainkan platform tempur yang siap pakai.

Pada akhirnya, kehadiran CNS Fujian menjawab kebutuhan strategis China akan proyeksi kekuatan blue water yakni melindungi jalur energi, memperkuat klaim kedaulatan regional, dan menantang dominasi teknologi Barat di laut.

Operasinya di Selat Taiwan dan keberhasilan uji coba J-35 menunjukkan bahwa Beijing tidak lagi hanya mengejar ketertinggalan, tetapi mulai menetapkan standar baru dalam peperangan laut modern. Di Pasifik Barat, Fujian kini berdiri sebagai simbol paling nyata dari ambisi maritim Tiongkok yang kian percaya diri.(*)

BACA JUGA: J-35, Sinyal Baru Kekuatan Udara China yang Siap Diproduksi Massal

Exit mobile version