mati hanya sekali
takut berkali-kali
tajamkan kuku panasi tulang
robek segala pantang

Dendang Keadilan
keadilan berwarna ungu
namun sayang dia bermukim
di wilayah hukum abu-abu
wajahnya pucat
seperti langit yang dicat
mendung kelabu
dewi keadilan – wajahnya muram
bertikam gelap sepanjang abad
marwahnya laksana pedang tumpul
sebab kerap bercakap di ruang gelap
kantor-kantor para pengepul
alih-alih terbuat dari baja
pedang keadilan terbuat dari seng
mudah karatan – tak bisa lagi diasah
atau digenggam dewi keadilan
yang matanya tidak lagi buta
sebab senyum manis Benjamin Franklin
dalam pecahan dolar Amerika
masih bisa dilihatnya
tapi mendadak buta
saat bocah 10 tahun di Manggarai
bunuh diri hanya karena mamanya
tak bisa beli buku – tampaknya
dewi keadilan enggan bermukim
di gubuknya orang miskin
seperti kata Bung Karno
melainkan di panggung tonil
tempat orang-orang gagah
bertitah laksana bandit
saat merampok rumahnya
dendang keadilan bukan lagi ode
melainkan musik berdentam liar
tanpa irama – bukan lagi ekspresi
keagungan jiwa yang dititipkan Tuhan
kepada sosok bertoga
Yang Mulia, orang-orang memanggilnya
Benjamin Franklin pun tersenyum mesra
dari dalam pikirannya
—-Tugu Proklamasi, 22 Februari 2026
NAMRUD
gerus saja luka
dari dinding kaca
sebelum Namrud datang
di garis batas petang
duka tidak boleh dipajang
jadi etalase kemiskinan
berserak abadi sepanjang
fase-fase kekuasaan
lupakan otak kiri otak kanan
juga doa yang tidak lagi mujarab
singkirkan Namrud dari kekuasaan
bergerak lah sebelum gelap
tapi apakah itu bisa
saat kalian sibuk di jagat maya
bukan mengepung istana Namrud
yang titahnya begitu jumud
lenyapkan pedih peri
laksana Chairil Anwar berlari
tak peduli lagi binatang jalang
hingga kelak Namrud berpulang
mati hanya sekali
takut berkali-kali
tajamkan kuku panasi tulang
robek segala pantang
Hai anak muda, jadilah Ibrahim
Musa Yesus Muhammad atau siapa saja
sebelum Namrud bertunas dalam rahim
kemanusiaan yang kita jaga
—-Dusun Tanen, 25 Juli 2026
PENYAPU JALAN RADIAL
pagi terlihat datar
trotoar hening senyap
penyapu jalan lincah
bertekun riang basmi sampah
barangkali saja duit dari brangkas
terbang jauh ke radial?
oh, jangan berpikir cak itu
tekuni saja pekerjaanmu
kata penyapu jalan senior
sambil elap keringat yang dingin
mengendap di baju oranye
sedikit dekil tak apa
asal jalan radial bersih
dari sampah tentunya
bukan dari koruptor
yang membercak jiwa
para pemimpin di atas sana
terlihat semakin kotor
oh, jangan berpikir cak itu
tekuni saja pekerjaanmu
kata penyapu yang lebih senior
biasa tekuni sampah-sampah kotor
tapi bukan koruptor
——–Palembang, 13 Juli 2026