Wafatnya sang maestro bisnis Michael Bambang Hartono menandai babak baru bagi Grup Djarum. Empat anak kandungnya kini resmi memegang kendali atas warisan saham senilai triliunan rupiah di entitas induk, termasuk porsi kepemilikan di PT Bank Central Asia Tbk.
WWW.JERNIH.CO – Setelah sang maestro bisnis, Michael Bambang Hartono, berpulang pada Maret 2026 di usia 86 tahun, kepemilikan sahamnya secara resmi dialihkan kepada empat anak kandungnya. Setiap anak menerima bagian saham perusahaan induk (holding) dengan nilai yang fantastis, yaitu sekitar 2,93 miliar dolar atau setara dengan Rp47 triliun hingga Rp55 triliun per orang, tergantung estimasi nilai tukar valuta asing dan kapitalisasi pasar.
Transaksi pengalihan ini bahkan tercatat sebagai salah satu peristiwa transfer kekayaan keluarga terbesar yang pernah terjadi di kawasan Asia.
Empat ahli waris mendiang Michael Bambang Hartono yang menerima warisan tersebut adalah Roberto Setiabudi Hartono, Tessa Natalia Hartono, Stefanus Wijaya Hartono, dan Vanessa Ratnasari Hartono. Selama ini, keempatnya telah memegang peran strategis di berbagai lini ekosistem bisnis Grup Djarum.
Roberto Setiabudi Hartono fokus mengawal sektor manufaktur, elektronik, dan teknologi consumer goods grup, salah satunya dalam jajaran kepemimpinan PT Hartono Istana Teknologi yang memproduksi merek Polytron.
Sementara itu, Tessa Natalia Hartono aktif mengelola sektor properti, ritel, dan hospitality komersial tingkat atas, termasuk memegang posisi pimpinan di Grand Indonesia.
Stefanus Wijaya Hartono memainkan peran penting pada pengembangan sektor infrastruktur telekomunikasi dan bisnis pendukung grup, seperti entitas yang terhubung dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Adapun Vanessa Ratnasari Hartono berperan aktif dalam pengawasan portofolio investasi internal serta lini ekspansi bisnis ekosistem Grup Djarum.
Bentuk warisan yang dialihkan kepada keempat anak tersebut tidak berupa dana tunai langsung, melainkan kepemilikan saham dalam entitas holding utama. Mendiang Michael Hartono sebelumnya menguasai 49% saham PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), yang kemudian dibagi rata kepada keempat anaknya sehingga masing-masing mendapatkan sekitar 12,25% kepemilikan.
Pengalihan saham PT Dwimuria Investama Andalan ini secara otomatis memberikan kepemilikan efektif di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), mengingat perusahaan holding tersebut merupakan pemegang saham pengendali utama dari emiten BBCA yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Oleh karena itu, sebagian besar nilai warisan triliunan rupiah tersebut bersumber dari nilai kapitalisasi saham BCA. Selain perbankan, kepemilikan saham di entitas induk juga memberikan porsi kontrol pada portofolio bisnis terintegrasi lainnya, meliputi industri rokok kretek PT Djarum, menara telekomunikasi, perkebunan, ritel e-commerce, hingga properti bernilai tinggi.
Pembagian warisan ini menjadi momen penting yang menandai transisi formal generasi ketiga dalam struktur kepemilikan keluarga Hartono. Meskipun porsi kepemilikan modal kini terbagi di antara para ahli waris, koordinasi strategis kerajaan bisnis keluarga tetap terjaga sangat kuat.
Pengelolaan bisnis secara makro tetap bersinergi dengan paman mereka, Robert Budi Hartono, serta jajaran generasi ketiga keluarga Hartono lainnya seperti Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Langkah transisi dan sinergi yang harmonis ini memastikan keberlanjutan kepemimpinan serta menjaga stabilitas pada grup konglomerasi terkaya di Indonesia tersebut.(*)
