Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit bagi Sijjil untuk menjangkau Tel Aviv dari jantung Iran. Sijjil bukan adalah mimpi buruk bagi sistem pertahanan udara tercanggih di dunia.
WWW.JERNIH.CO – Rudal Sijjil (juga dikenal sebagai Sejjil atau Ashoura) merupakan simbol kemandirian teknologi militer Iran yang paling ditakuti oleh lawan-lawannya. Sejak pertama kali muncul, Sijjil telah mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, memberikan Iran kemampuan untuk menyerang target sejauh Tel Aviv hingga Eropa Tenggara dengan persiapan yang sangat singkat.
Rudal Sijjil dirancang dan diproduksi sepenuhnya di dalam negeri oleh Organisasi Industri Kedirgantaraan Iran (AIO), dengan unit operasional utama di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pengembangannya diperkirakan dimulai pada akhir 1990-an sebagai evolusi dari program rudal Zelzal (bahan bakar padat jarak pendek).
Uji coba pertama dilakukan pada November 2008, di mana rudal ini mampu terbang sejauh 800 km. Namun, tonggak sejarahnya baru benar-benar tercatat pada Juni 2025, ketika Iran untuk pertama kalinya meluncurkan Sijjil dalam konflik aktif (Operasi True Promise 3) untuk menembus pertahanan udara Israel.

Sijjil adalah rudal balistik jarak menengah (MRBM) dua tahap yang menggunakan mesin propelan padat. Penggunaan dua tahap memungkinkan rudal mencapai kecepatan tinggi dan jangkauan yang lebih jauh dibandingkan rudal satu tahap.
Rudal Sijjil hadir dengan spesifikasi teknis yang sangat impresif, memiliki panjang sekitar 18 meter dan diameter 1,25 meter, serta bobot peluncuran mencapai 23.600 kg. Senjata mematikan ini mampu membawa hulu ledak High Explosive seberat 700 kg hingga 1.000 kg untuk menghantam target pada jangkauan strategis antara 2.000 km hingga 2.500 km.
Selain jangkauannya yang luas, keunggulan utamanya terletak pada aspek kinetik, di mana rudal ini mampu mencapai kecepatan ekstrem antara Mach 12 hingga Mach 14 saat memasuki kembali atmosfer, menjadikannya target yang sangat sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional mana pun.
Mengapa Sijjil begitu istimewa dibandingkan seri Shahab atau rudal lainnya? Jawabannya terletak pada bahan bakar padat.
Berbeda dengan rudal berbahan bakar cair (seperti Shahab-3) yang harus diisi bahan bakarnya sesaat sebelum diluncurkan (proses yang memakan waktu lama dan mudah dideteksi satelit), Sijjil sudah terisi bahan bakar padat di dalam motornya. Ia bisa diluncurkan dalam hitungan menit.
Karena tidak memerlukan konvoi truk tangki bahan bakar yang besar, Sijjil sangat mudah dipindahkan menggunakan platform peluncur mobile (TEL). Hal ini membuatnya sangat sulit dilacak dan dihancurkan melalui serangan preventif.
Kecepatan re-entry yang mencapai Mach 12 (sekitar 15.000 km/jam) membuatnya sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara seperti Iron Dome milik Israel atau Patriot milik AS.
Jika dibandingkan dengan rudal balistik milik AS (seperti Minuteman III) atau Israel (seperti seri Jericho), Sijjil berada di kelas yang berbeda secara operasional.
Israel memiliki Jericho III yang berjarak tempuh lebih jauh (ICBM), namun Sijjil dirancang khusus sebagai senjata taktis regional yang bisa diproduksi secara massal untuk “menjenuhkan” (overwhelmed) sistem pertahanan lawan dengan jumlah yang banyak.
AS lebih mengandalkan rudal jelajah presisi dan supremasi udara. Sijjil adalah jawaban asimetris Iran; karena tidak memiliki angkatan udara yang mampu menandingi AS, Iran menggunakan Sijjil sebagai “artileri jarak jauh” yang tidak bisa dihentikan oleh jet tempur.
Hingga awal tahun 2026, diperkirakan Iran memiliki total stok rudal balistik sekitar 2.500 unit (berbagai jenis). Meskipun jumlah spesifik varian Sijjil dirahasiakan, para analis militer meyakini Sijjil merupakan komponen inti dari ratusan rudal jarak menengah yang disiagakan di pangkalan bawah tanah (sering disebut “kota rudal”).
Fungsi utama Sijjil adalah sebagai instrumen pencegahan (deterrence). Ia dirancang untuk menghancurkan target bernilai tinggi seperti pangkalan militer, pelabuhan, dan infrastruktur energi lawan. Dengan kemampuannya menjangkau seluruh wilayah Israel dan pangkalan AS di Teluk Arab, Sijjil memastikan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan kehancuran serupa di pihak lawan dalam waktu kurang dari 10 menit.
Biaya produksi satu unit rudal Sijjil diperkirakan berada di rentang Rp 8 miliar hingga Rp 24 miliar.(*)