Jerome Powell sudah waktunya pensiun, meski kerap disebut tak sesuai dengan kebijakan Trump. Siapakah Warsh yang menggantikannya?
WWW.JERNIH.CO – Kevin Warsh resmi dikonfirmasi oleh Senat AS sebagai Ketua The Fed yang baru, menggantikan Jerome Powell. Pergantian ini adalah sebuah momentum yang membawa potensi “perubahan rezim” dalam kebijakan moneter dunia.
Alasan utama pergantian ini adalah berakhirnya masa jabatan resmi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada 15 Mei 2026. Berbeda dengan isu pemecatan sepihak, transisi ini terjadi karena siklus kepemimpinan yang normatif, meskipun diwarnai ketegangan politik yang tinggi.
Selama beberapa waktu terakhir, hubungan Powell dengan Gedung Putih di bawah Presiden Donald Trump memang kerap menegang akibat perbedaan pandangan mengenai tingkat suku bunga. Powell kerap disebut Trump sudah tak sesuai menjadi pucuk pimpinan The Fed.
Berdasarkan hukum di Amerika Serikat, kekuasaan untuk menentukan Ketua Federal Reserve berada di tangan Presiden Amerika Serikat, yang memiliki hak prerogatif untuk menominasikan kandidat baru. Namun, nominasi tersebut tidak bisa langsung sah. Kandidat harus melewati proses dengar pendapat dan mendapatkan persetujuan melalui pemungutan suara di Senat AS.
BACA JUGA: Jerome Powell VS Donald Trump, Pertarungan Institusi dan Kekuasaan
Dalam kasus Kevin Warsh, Presiden Trump menominasikannya pada awal tahun 2026, dan Senat secara ketat mengonfirmasinya dengan voting 54-45—salah satu pemungutan suara paling membelah sejarah The Fed.
Kevin Warsh bukanlah orang baru di lingkungan bank sentral. Pria kelahiran 1970 ini merupakan seorang bankir investasi dan pengacara berlatar belakang akademis dari Stanford University dan Harvard Law School.
Ia sempat bekerja di Wall Street bersama Morgan Stanley, berfokus pada bidang merger dan akuisisi. Warsh kemudian bergabung dengan Gedung Putih sebagai penasihat ekonomi utama di bawah Presiden George W. Bush.
Pada tahun 2006, dalam usia yang sangat muda (35 tahun), ia ditunjuk menjadi salah satu anggota Dewan Gubernur Federal Reserve. Ia berada di jantung kebijakan moneter saat dunia dihantam Krisis Finansial Global 2008, menjadikannya salah satu negosiator kunci The Fed dengan pasar keuangan saat itu, sebelum akhirnya mundur pada tahun 2011.
Selepas dari The Fed, ia aktif di dunia investasi privat (Duquesne Family Office) dan menjadi pengajar di Hoover Institution, Stanford University.
Transisi ke kepemimpinan Kevin Warsh membawa efek riak (ripple effect) yang signifikan ke panggung ekonomi global.

Warsh mewarisi kondisi ekonomi global yang rumit: inflasi AS menyentuh 3,8% dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Karena Warsh ingin mengurangi komunikasi publik The Fed, pasar saham dan obligasi global (termasuk pasar berkembang/emerging markets) harus bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi karena arah kebijakan moneter AS menjadi lebih sulit ditebak.
Banyak analis mengkhawatirkan independensi The Fed di bawah kepemimpinan Warsh. Mengingat ia dipilih oleh Trump yang berulang kali menuntut suku bunga rendah, pergeseran kebijakan apa pun yang diambil Warsh akan diawasi secara ketat oleh investor global. Jika pasar menilai The Fed tunduk pada tekanan politik, kepercayaan terhadap mata uang Dolar AS bisa tergerus.
Untuk jangka pendek, para ahli memperkirakan suku bunga AS akan tetap ditahan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Namun, jika ke depannya Warsh memutuskan untuk memangkas suku bunga secara agresif demi menyenangkan domestik AS, hal ini dapat melemahkan dolar secara relatif, memberi ruang napas bagi bank sentral di negara-negara berkembang (seperti Bank Indonesia) untuk ikut melonggarkan kebijakan moneter mereka tanpa takut modal asing keluar (capital outflow).(*)
BACA JUGA: Jerome Powell “Turun Gunung” Bahas Dampak AI Anthropic bagi Masa Depan Uang Anda