POTPOURRI

Khalifah Al-Mutawakkil Dibunuh Konspirasi Anaknya Sendiri

JAKARTA—Hari ini, 11 Desember tahun 861, menjadi saat bersejarah yang ditangisi sebagian kalangan Muslim. Khalifah Abu Fadl Ja’far bin Muhammad al-Mu’tasim Billah atau lebih dikenal dengan nama resmi Khalifah Al-Mutawakkil Alallah, dibunuh pasukan penjaganya sendiri asal Turki, Janissari. Sejarah menulis keterkaitan putranya, al-Muntasir, dalam pembunuhan politik tersebut.

Sebagaimana Harun Al-Rasyid, Al-Mutawakkil sering disebut-sebut sejarah sebagai salah satu khalifah yang paling cemerlang dari Dinasti Abbasiyah. Dinasti yang diisi para keturunan paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib, itu mulai manggung setelah meruntuhkan kekhalifahan sebelumnya Dinasti Umayyah, pada tahun 750.  

Naiknya Al-Mutawakkil ke tampuk kekuasaan kekhalifahan, juga datang tak terduga. Lahir dari seorang selir, Al-Mutawakkil sebelumnya tak pernah bermimpi jadi khalifah. Semua karena khalifah sebelumnya, al-Watsiq meninggal sebelum menunjuk penggantinya. Itulah yang membuat Ja’far al-Mutawakkil yang berusia 26 tahun diangkat menjadi khalifah oleh para pejabat tinggi Abbasiyah saat itu. Ada tiga pejabat utama yang sejak lama dominan memainkan khalifah sebagai boneka, termasuk Khalifah Al-Watsiq. Mereka adalah Perdana Menteri Ibnu Zayyat, Ketua Pengadilan Ahmad bin Abi Du’ad, serta Jenderal Itakh dari pasukan Janissari, pasukan beretnis Turki yang sudah berbilang masa menjadi pasukan kepercayaan Dinasti Abbasiyah.

Semula bukan Ja’far yang ketiban pulung. Para elit istana lebih memilih Muhammad bin al-Watsiq. Namun anak itu masih kecil. Hal seperti itu memang telah lama menjadi kebiasaan, sebagaimana saat para elit memilih pengganti Khalifah Al-Amin, dengan anaknya, Musa yang masih menyusu.

Dari kisah itu muncul sebuah syair yang diabadaikan Imam As-Suyuthi dalam kitabnya ‘Tarikh Al-Khulafa’.

“Khilafah akan binasa karena tipuan Menteri

Kita baiat seorang bocah

Yang tak bisa bersihkan kemaluannya

Yang tak bisa bersihkan kencingnya…”

Dalam kejadian pascakematian al-Watsiq, para elit istana teringat akan Ja’far, saudara tiri Khalifah, yang saat itu menunggu di luar kamar. Mereka pun memanggil Ja’far, memilihnya sebagai khalifah dan membaiatnya pada tahun 847. Mereka berharap, sebagaimana khalifah-khalifah terdahulu, Ja’far pun bisa dijadikan boneka mereka.

Para elit Istana Bagdad itu keleru. Ja’far alias Al-Mutawakkil tak sebodoh dan selemah sangkaan mereka. Alih-alih berterima kasih, Khalifah al-Mutawakkil justru segera mencopot Perdana Menteri Bin Zayyat dari kursinya. Penulis sejarah Islam At-Thabari menulis, di masa muda Ja’far, sang Perdsana Menteri pernah memperlakukannya dengan buruk. Tak hanya menyebut Ja’far muda sebagai pesolek yang kebanci-bancian, Bin Zayyat pernah mempermalukan al-Mutawakkil dengan menamparnya di depan public. Tak hanya Zayyat, Khalifah al-Watsiq pun ikut-ikutan mempermalukan adik tirinya itu dengan memotong rambut dan memukul wajahnya.

Jenderal Itakh, atas petrintah Mutawakkil menangkap Bin Zayyat, merampas semua yang ia miliki dan menjebloskannya ke penjara pada 22 September 847. Setelah disiksa sampai terampun-ampun, Bin Zayyat pun mati dan dikubur laiknya penjahat kambuhan, hanya 40 hari setelah ditangkap.

Nasib Jenderal Itakh sang pemimpin Janissari pun tak lebih baik. Usai melakukan tugasnya memberangus Bin Zayyat, ia diizinkan naik haji. Sederhana saja, Khalifah ingin ia terpisah dari pasukannya. Di perjalanan menuju Mekkah, Itakh ditangkap, dijebloskan ke penjara. Tanpa pernah diberi minum, jenderal itu mati setelah menderita haus luar biasa.

Adapun Bin Abi Du’ad, sang ketua pengadilan, Khalifah tak perlu turun tangan. Hakim yang banyak menyengsarakan ulama Ahlus Sunnah itu terkena stroke yang membuat tubuhnya lumpuh. Dalam ‘Tarikh Al-Khulafa’, Imam As-Suyuthi mensyukuri kejadian itu dan mendoakan Abi Du’ad mati tanpa membawa pahala sedikit pun. Secara resmi pada tahun 851 Khalifah al-Mutawakkil mencopot Bin Abi Du’ad dan sejumlah hakim lain yang bermazhab Mu’tazilah. Mazhab tersebut berpandangan bahwa Alquran adalah makhluk.

Banyak kebaikan Khalifah Al-Mutawakkil. Ia secara resmi menghentikan ‘mihnah’ (pengadilan keagamaan) yang telah berlangsung sejak tahun 833. Imam  Besar Mazhab Hambali, Ahmad bin Hanbal, dibebaskan dari penjara. Ia juga memerintahkan agar tubuh Ahmad bin Nashr al-Khuza’i yang telah tergantung tanpa kepala di gerbang Kota Kuffah selama enam tahun, diturunkan, disalatkan dan dikuburkan dengan layak.

Masjid-masjid besar didirikan, termasuk Masjid Agung Samarra yang waktu itu menjadi masjid terbesar di dunia, dengan minaret setinggi 55 meter berbentuk spiral. Masjid itu disebut-sebut memiliki 17 gang dan dindingnya dilapisi mosaik kaca biru tua.

Khalifah juga membangun 20 istana lainnya, membangun dam dan kanal-kanal pengairan. Selain membangun Samarra, ia juga membangun kota baru al-Jaʻfariyya di Tigris,  sekitar delapan belas kilometer dari Samarra.

Namun daftar keburukannya pun tak kalah panjang. Dialah khalifah Abbasiyah yang tega menahan Alī al-Hadī, keturunan Al-Hussein di penjara hingga meninggalnya.

Di pula yang memerintahkan kuburan Sayidina Husein diratakan dengan tanah, dijadikan ladang yang membuat orang tak lagi tahu letaknya. Dia juga mengeluarkan instruksi agar orang-orang Nasrani dan Yahudi (kafir Dzimmi) memakai gelang kuning, penanda sebagai non Muslim. Gambar setan dan Baphomet dipakukan ke pintu-pintu rumah mereka.

Yang tragis terjadi pada Bin Sikkit, ahli sastra Arab yang menjadi guru kedua putra Khalifah, al-Mu’tazz dan al-Mu’ayyad. Al-Mutawakkil bertanya kepada Bin Sikkit, “Siapa yang lebih engkau senangi: dua anakku atau Hassan dan Husein, dua anak Ali bin Abi Thalib?” 

Bin Sikkit bukan ulama penjilat yang bertebaran di zaman now. Ia menjawab,” Bagiku, bahkan Qanbar, budak Sayidina Ali bin Abi Thalib, lebih kusenangi dibanding kedua anakmu.”

Khalifah gendeng itu pun marah dan memerintahkan agar perut Bin Sikkit diinjak hingga meninggal. Dalam kitabnya Imam As-Suyuthi mencatat, ada riwayat mengatakan al-Mutawakkil juga memerintahkan pengawalnya mencabut lidah Bin Sikkit sebelum wafat.

Selain As-Suyuthi, At-Thabari juga mencatat bahwa di masa-masa Al-Mutawakkil banyak terjadi bencana alam.

Al-Mutawakkil pun disebut-sebut sangat menyukai kenikmatan dunia. Ia disebut-sebut menyenangi minuman keras. Ia juga dikabarkan memiliki empat ribu budak perempuan, yang dalam ‘Tarikh Al-Khulafa’ dikatakan semua pernah digauli khalifah tersebut.

Tapi semua ada akhirnya. Akhir Mutawakkil sangat pahit, sepahit pembunuh 5000 ulama di Jawa, Amangkurat I. Sebagaimana Amangkurat, ia pun dibunuh anaknya sendiri, Al-Muntashir. Tun. Dah, gitu aja. [ ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close