Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kerap pasang badan menghadapi badai pertanyaan seputar ekonom Indonesia. Dan ia selalu menegaskan jurus fundamental ekonomi yang sangat solid. Apa sesungguhnya parameter fundamental ekonomi?
WWW.JERNIH.CO – Ekonomi global kerap kali membawa awan mendung bagi negara-negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Ketika isu pelemahan nilai tukar rupiah mencuat hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS, publik sering kali dilingkupi kecemasan akan bayang-bayang krisis masa lalu.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berulang kali menegaskan pesan optimistis yang kuat: Fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi yang sangat bagus dan solid.
Narasi ini mungkin terasa pemanis retorika politik. Di tengah gejolak pasar keuangan, ketidakpastian energi akibat perang, dan ancaman resesi global, fondasi ekonomi domestik justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “fundamental ekonomi” tersebut, faktor apa saja yang diukur, dan bagaimana semua itu menjadi perisai menghadapi guncangan dunia?
Secara harfiah, fundamental ekonomi adalah fondasi utama atau indikator-indikator dasar yang menopang kesehatan dan keberlanjutan ekonomi suatu negara. Jika diibaratkan sebuah bangunan, fundamental ekonomi adalah struktur cakar ayam dan tiang pancangnya. Ketika badai sentimen datang—baik berupa kepanikan pasar finansial maupun ketegangan geopolitik—bangunan dengan fundamental yang kokoh tidak akan mudah roboh, meskipun jendela atau dinding luarnya mungkin sedikit bergoyang.
Menteri Keuangan Purbaya menekankan bahwa pelemahan rupiah atau fluktuasi pasar saham saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor noise (sentimen jangka pendek) global, bukan karena pemburukan kondisi riil di dalam negeri. Kondisi hari ini jauh berbeda dengan krisis tahun 1998, di mana saat itu Indonesia dihantam resesi struktural dan instabilitas sosial-politik yang parah. Saat ini, mesin ekonomi Indonesia masih berputar dengan sangat kencang.
BACA JUGA: Ekonomi Indonesia: Antara Stagnasi dan Ekspektasi
Klaim atas kuatnya fundamental ekonomi Indonesia didasarkan pada pengukuran sejumlah indikator makroekonomi yang objektif dan diakui oleh lembaga rating dunia seperti S&P, Moody’s, JPMorgan, dan ADB. Paling tidak ada empat faktor yang menjadi parameter fundamental ekonomi.
Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Seperti kita tahu pemerintah telah mengumumkan tingkat pertumbuhan pada kuartal pertama 2026. Salah satu bukti konkret ketangguhan domestik adalah pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 yang berhasil mencapai 5,61% (yoy). Angka ini mencerminkan akselerasi yang cepat di tengah kelesuan ekonomi global.
Kedua, kesehatan fiskal dan APBN. Menkeu Purbaya menepis anggapan bahwa postur APBN berantakan. Kas negara dinilai sangat aman, didukung oleh Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang kuat serta penempatan dana likuid di perbankan (deposito on call). Pemerintah juga aktif memperkuat reformasi perpajakan demi menjaga kesinambungan fiskal.
Posisi APBN dikelola secara pruden. Pendapatan negara terus ditopang oleh reformasi perpajakan yang optimal, sementara defisit anggaran dijaga ketat di bawah batas aman undang-undang (3% dari PDB).
Subfaktor cadangan devisa juga mengambil peran penting di sini. Posisi cadangan devisa Indonesia berada pada level yang sangat mumpuni (jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor). Cadangan devisa yang tebal ini menjadi amunisi utama bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi ganda (dual intervention) di pasar valas guna menjaga stabilitas Rupiah
Parameter ketiga ialah aktivitas sektor swasta dan konsumsi rumah tangga. Benar memang unsur belanja negara terbukti jadi injeksi. Namun strategi belanja pemerintah kini diimbangi dengan optimalisasi sektor swasta. Bergeraknya sektor riil dan terjaganya daya beli masyarakat (konsumsi rumah tangga) menjadi motor utama pertumbuhan domestik.
Keempat adalah inflasi yang terkendali. Di kala banyak negara maju berjuang melawan hiperinflasi, tingkat inflasi di Indonesia relatif stabil, yang menjaga roda ekonomi tetap berputar tanpa membebani masyarakat secara ekstrem.
BACA JUGA: Ekonomi Indonesia Disebutkan Stabil, Ekonom Justru Curiga
Kekuatan fundamental inilah yang menjadi bantalan dinamis saat Indonesia diterpa ketidakpastian energi akibat perang maupun depresiasi mata uang.
Ketika bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi, dolar menguat secara global dan menekan rupiah. Namun, karena fundamental dalam negeri bagus, pemerintah dapat menerapkan kebijakan intervensi terukur tanpa kepanikan. Salah satu langkah konkrit yang diambil Kementerian Keuangan adalah masuk ke pasar obligasi (bond market) melalui skema Bond Stabilization Fund (BSF).
Begitu tekanan di pasar obligasi mereda dan investor asing kembali masuk, nilai tukar akan berangsur stabil secara alami. Menkeu bahkan mengimbau para investor pasar modal domestik memanfaatkan momentum koreksi teknikal ini untuk mengakumulasi saham berkualitas, karena prospek jangka panjang bursa efek sejalan dengan pertumbuhan ekonomi riil.
Perang global memicu lonjakan harga komoditas dan memutus rantai pasok energi. Indonesia mampu menghadapi shock ini karena reformasi struktural telah berjalan sebelum dampak negatif global meluas.
APBN ditempatkan dalam posisi siaga (safe mode) sebagai shock absorber untuk meredam lonjakan harga energi di tingkat masyarakat, sekaligus mendorong transisi ke energi ramah lingkungan serta hilirisasi industri untuk memperkuat nilai tambah domestik.
Barangkali begini yang dimaknai oleh Purbaya. Persoalannya, aksi untuk melakukan intervensi, juga perbaikan konsumsi masyarakat yang seharusnya menjadi tulang punggung terkuat ekonomi Indonesia belum terlihat jelas dan terukur, apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan ke depan.(*)
BACA JUGA: Percakapan Khayal Adam Smith–John Maynard Keynes tentang Ekonomi Indonesia
