Menteri Bahlil Lahadalia mewacanakan penggunaan CNG sebagai pengganti LPG 3 Kg subsidi. Apakah lebih menguntungkan? Dan bagaimana menyalurkannya?
WWW.JERNIH.CO – Di tengah upaya pemerintah untuk melakukan diversifikasi energi dan menekan beban subsidi, nama CNG (Compressed Natural Gas) mulai sering diperbincangkan sebagai alternatif dari LPG (Liquefied Petroleum Gas), khususnya tabung melon 3 kg yang selama ini mendominasi dapur masyarakat Indonesia.
Meskipun keduanya berfungsi sebagai bahan bakar gas, terdapat perbedaan mendasar dari sisi teknis, ekonomi, hingga dampak lingkungannya.
Secara kimiawi, LPG terdiri dari campuran gas Propana (C3H8) dan Butana (C4H10). Gas ini dicairkan melalui tekanan tinggi sehingga dapat disimpan dalam tabung portabel.
Karena massa jenisnya lebih berat dari udara, LPG cenderung mengendap di bawah jika terjadi kebocoran, yang meningkatkan risiko kebakaran jika tidak ada ventilasi yang baik di area lantai.
Sebaliknya, CNG adalah gas alam (Metana/CH4) yang dimampatkan. Berbeda dengan LPG yang berasal dari penyulingan minyak bumi, CNG biasanya didapat langsung dari sumur gas alam atau merupakan hasil pengolahan gas bumi.
Karakteristik utamanya adalah massa jenisnya yang lebih ringan dari udara. Jika terjadi kebocoran, CNG akan segera naik ke atmosfer dan menguap, sehingga risiko ledakan di dalam ruangan lebih kecil dibandingkan LPG.
Beralih ke CNG menawarkan sejumlah keuntungan yang signifikan, baik bagi konsumen individu maupun skala industri. Harga gas alam cenderung lebih stabil dibandingkan LPG yang harganya sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia (CP Aramco). Secara rata-rata, biaya operasional menggunakan CNG bisa 20-30% lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi.
CNG dikenal sebagai bahan bakar fosil paling bersih. Emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan jauh lebih rendah, serta hampir tidak menghasilkan partikulat atau sulfur.
Penggunaan CNG yang dialirkan melalui pipa (City Gas) atau tabung khusus memastikan tekanan gas yang keluar tetap stabil dari awal hingga akhir penggunaan, berbeda dengan LPG yang tekanannya seringkali menurun saat isi tabung mulai menipis.
Pertanyaan “mengapa harus diganti” berkaitan erat dengan ketahanan energi nasional. Saat ini, sebagian besar pasokan LPG di Indonesia berasal dari impor. Ketergantungan ini membebani neraca perdagangan dan APBN, terutama untuk menutup selisih harga subsidi pada tabung 3 kg.
Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan gas alam yang melimpah. Memaksimalkan penggunaan CNG berarti memanfaatkan kekayaan alam sendiri tanpa harus bergantung pada pasar global. Selain itu, sistem distribusi CNG melalui jaringan gas bumi (jargas) jauh lebih efisien secara logistik.
Kita tidak perlu lagi melihat antrean truk pengangkut tabung atau kelangkaan stok di tingkat pengecer, karena gas dialirkan langsung ke rumah atau tempat usaha secara berkelanjutan.(*)
BACA JUGA: Ini Rencana Pemerintah Terkait Harga LPG Tiga Kilogram
