Kini, sang jenderal pemikir telah tiada. Namun, api reformasi dan semangat supremasi sipil yang ia nyalakan harus tetap dijaga.
WWW.JERNIH.CO – Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kabar duka yang menyelimuti tanah air atas berpulangnya Letnan Jenderal TNI (Purn.) Agus Widjojo seorang purnawirawan berpangkat tinggi, yang juga salah satu kompas moral dan intelektual dalam sejarah militer modern Indonesia. Agus Widjojo adalah sosok yang membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang prajurit tidak hanya terletak pada ujung bayonet, tetapi pada ketajaman pikiran dan keberanian untuk melakukan perubahan dari dalam.
Lahir di Solo pada 8 Juni 1947, Agus Widjojo tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai patriotisme sekaligus tragedi. Sebagai putra dari Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo—salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa kelam G30S/PKI—Agus memiliki setiap alasan untuk memelihara dendam sejarah. Namun, ia memilih jalan yang berbeda. Ia mengubah kepedihan masa lalu menjadi energi untuk membangun masa depan bangsa yang lebih sehat.
Setelah lulus dari Akademi Militer (Akabri) pada tahun 1970, karier Agus tidak hanya dihabiskan di lapangan hijau, tetapi juga di ruang-ruang akademik. Pendidikan tingginya di Amerika Serikat, termasuk gelar Master dari National Defense University, membentuk profilnya menjadi seorang “Jenderal Intelektual”. Ia memahami bahwa tantangan keamanan global dan domestik tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pendekatan keamanan tradisional, melainkan harus melibatkan strategi keamanan nasional yang komprehensif dan demokratis.
Puncak kontribusi Agus Widjojo terjadi pada masa-masa krusial transisi demokrasi Indonesia setelah tahun 1998. Di saat banyak pihak masih gamang melepaskan peran politik militer, Agus berdiri di garis depan sebagai perumus utama “Paradigma Baru TNI”. Ia adalah sosok kunci yang mendorong penghapusan Fraksi TNI/Polri di parlemen, sebuah langkah berani yang mengakhiri era Dwifungsi ABRI.
Agus percaya bahwa agar TNI menjadi institusi yang profesional dan disegani secara internasional, militer harus kembali ke jati dirinya sebagai alat pertahanan negara dan melepaskan diri dari urusan politik praktis. Baginya, profesionalisme militer adalah harga mati yang hanya bisa dicapai jika ada batas yang tegas antara wilayah sipil dan militer.
Salah satu refleksi pemikiran beliau yang paling membekas adalah: “Tugas tentara bukan untuk memerintah, melainkan untuk melindungi kedaulatan negara di bawah sistem demokrasi yang sehat.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah filosofi mendalam tentang supremasi sipil.
Elaborasi dari pemikiran ini menunjukkan bahwa dalam sebuah negara hukum, kekuatan bersenjata harus berada di bawah kendali otoritas sipil yang dipilih secara demokratis. Agus Widjojo memahami bahwa ketika militer mulai masuk ke ranah pemerintahan atau politik, fungsi utamanya sebagai penjaga kedaulatan akan terdistorsi.
Dengan berada di luar politik, militer justru mendapatkan legitimasi yang lebih kuat dari rakyat sebagai pelindung seluruh golongan, bukan alat kepentingan politik tertentu. Inilah yang beliau maksud dengan “demokrasi yang sehat”—sebuah ekosistem di mana setiap lembaga berfungsi sesuai porsinya masing-masing.
Prestasi Agus tidak berhenti di barak militer. Saat menjabat sebagai Gubernur Lemhannas (2016–2022), ia menyulap lembaga tersebut menjadi pusat pemikiran strategis yang inklusif. Salah satu langkahnya yang paling kontroversial namun mulia adalah memprakarsai Simposium Nasional 1965.
Sebagai putra pahlawan yang menjadi korban dalam tragedi tersebut, langkah Agus untuk duduk bersama keluarga korban dari sisi “seberang” adalah sebuah keteladanan moral yang luar biasa. Ia mengajarkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang berani berdamai dengan sejarahnya sendiri demi persatuan yang lebih kokoh.
Di akhir hayatnya, pengabdian Agus berlanjut di jalur diplomasi sebagai Duta Besar RI untuk Filipina. Di sana, ia membawa misi perdamaian dan kerja sama regional, menunjukkan bahwa seorang jenderal bisa menjadi diplomat yang ulung dengan pendekatan dialog yang elegan.
Letjen Agus Widjojo meninggalkan warisan yang sangat berharga: sebuah cetak biru tentang bagaimana menjadi seorang abdi negara yang berintegritas. Ia dikenang sebagai sosok yang rendah hati namun sangat keras dalam memegang prinsip. Keberanian intelektualnya memberikan pesan bagi para perwira muda bahwa mengkritisi institusi demi perbaikan adalah bentuk tertinggi dari loyalitas.(*)
BACA JUGA: TNI Pejuang Demokrasi
