Tapi keberanian macam apa
yang tersisa,
ketika kepala terlalu lama belajar menunduk
dan mata mulai lupa
bagaimana rasanya menatap lurus?

Merah Putih
Di seluruh pelosok negeri,
merah dan putih masih berkibar.
Kainnya menua,
warnanya memudar.
Bersama usia bendera,
maknanya pun perlahan luntur.
Merah, kata orang,
adalah keberanian.
Tapi keberanian macam apa
yang tersisa,
ketika kepala terlalu lama belajar menunduk
dan mata mulai lupa
bagaimana rasanya menatap lurus?
Putih, kata orang,
adalah kesucian—
tetap utuh
ketika diberi amanah,
ketika diberi kuasa,
ketika tak seorang pun menyaksikan.
Namun di negeri ini,
putih itu perlahan ternoda—
oleh amanah yang diperjualbelikan,
oleh kuasa yang melampaui batas,
oleh tangan-tangan di atas
yang tak lagi menghiraukan
arus bawah.
Mula-mula kita terkejut.
Lalu terbiasa.
Sampai pada suatu hari,
noda tak lagi tampak
sebagai noda.
Mungkin begitulah sebuah warna memudar.
Bukan karena kainnya tua,
melainkan karena maknanya
terlalu lama dibiarkan
tinggal sebagai kata.
Setiap tahun
merah dan putih kembali dinaikkan.
Kita berdiri di bawahnya,
mengulang dua kata
yang telah kita hafal sejak kecil:
berani. suci.
Lalu bendera diturunkan,
dan hari kembali berjalan.
Tinggal pertanyaan
yang tak ikut diturunkan:
ketika merah berkibar,
apakah kita masih berani
berdiri,
ketika berdiri ada harganya?
Ketika putih berkibar,
masihkah kita mampu tetap utuh
ketika amanah, kuasa,
dan kesempatan
diletakkan dalam genggaman kita? []