Jernih.co

Merah Putih, Puisi Yudi Latif untuk 81 Tahun Indonesia

Tapi keberanian macam apa

yang tersisa,

ketika kepala terlalu lama belajar menunduk

dan mata mulai lupa

bagaimana rasanya menatap lurus?

Yudi Latif

Merah  Putih

Di seluruh pelosok negeri,

merah dan putih masih berkibar.

Kainnya menua,

warnanya memudar.

Bersama usia bendera,

maknanya pun perlahan luntur.

Merah, kata orang,

adalah keberanian.

Tapi keberanian macam apa

yang tersisa,

ketika kepala terlalu lama belajar menunduk

dan mata mulai lupa

bagaimana rasanya menatap lurus?

Putih, kata orang,

adalah kesucian—

tetap utuh

ketika diberi amanah,

ketika diberi kuasa,

ketika tak seorang pun menyaksikan.

Namun di negeri ini,

putih itu perlahan ternoda—

oleh amanah yang diperjualbelikan,

oleh kuasa yang melampaui batas,

oleh tangan-tangan di atas

yang tak lagi menghiraukan

arus bawah.

Mula-mula kita terkejut.

Lalu terbiasa.

Sampai pada suatu hari,

noda tak lagi tampak

sebagai noda.

Mungkin begitulah sebuah warna memudar.

Bukan karena kainnya tua,

melainkan karena maknanya

terlalu lama dibiarkan

tinggal sebagai kata.

Setiap tahun

merah dan putih kembali dinaikkan.

Kita berdiri di bawahnya,

mengulang dua kata

yang telah kita hafal sejak kecil:

berani. suci.

Lalu bendera diturunkan,

dan hari kembali berjalan.

Tinggal pertanyaan

yang tak ikut diturunkan:

ketika merah berkibar,

apakah kita masih berani

berdiri,

ketika berdiri ada harganya?

Ketika putih berkibar,

masihkah kita mampu tetap utuh

ketika amanah, kuasa,

dan kesempatan

diletakkan dalam genggaman kita? []

Exit mobile version