Jernih.co

Pesawat Tempur KAAN Turki Pesanan Indonesia Mulai Uji Coba

TAI mulai memproduksi dan menguji pesawat andalannya, KAAN yang dipesan pemerintah Indonesia. Proyek ini akan selesai dalam tempo 10 tahun.

WWW.JERNIH.CO – Indonesia kembali membuat langkah strategis dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan menyepakati pembelian 48 unit jet tempur KAAN buatan pabrikan Turkish Aerospace Industries (TAI/TUSAŞ) asal Turki. Nilai kontrak pengadaan jet tempur generasi kelima ini diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp180 triliun. Angka fantastis tersebut menjadikannya salah satu kesepakatan ekspor industri pertahanan terbesar dalam sejarah Turki sekaligus proyek akuisisi udara berskala raksasa bagi TNI Angkatan Udara.

Sebagai platform tempur canggih, KAAN dirancang khusus sebagai pesawat tempur siluman (stealth fighter) multi-peran generasi kelima yang mengombinasikan kemampuan superioritas udara (air superiority) dengan serangan darat presisi tinggi. Keunggulan teknologisnya mencakup penampang radar rendah (Low Radar Cross-Section) serta ruang penyimpanan senjata internal (internal weapons bay) agar sulit terdeteksi oleh radar musuh saat menembus wilayah udara lawan.

Selain itu, pesawat ini dibekali sistem avionik lanjut dan sensor fusion berupa radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang terintegrasi dengan electro-optical targeting system (EOTS) dan Infrared Search and Track (IRST) guna memberikan kesadaran situasional tinggi bagi pilot. Performa udaranya didukung dua mesin turbojet yang mampu mendorong pesawat hingga kecepatan maksimum Mach 1.8–2.0 serta fitur supercruise untuk terbang supersonik tanpa menyalakan afterburner.

Menariknya, KAAN juga disiapkan untuk skenario pertempuran masa depan melalui konsep Manned-Unmanned Teaming (MUM-T), yang memungkinkannya memimpin kawanan drone tempur seperti Bayraktar Kızılelma atau ANKA-3.

Keputusan Indonesia memborong jet tempur ini didasari oleh sejumlah pertimbangan strategis nasional. Luasnya wilayah udara Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menuntut kehadiran armada udara modern generasi kelima untuk meremajakan platform lama seperti F-16 yang mulai menua. Selain faktor keandalan tempur, skema kerja sama dengan Turki menawarkan paket Transfer of Technology (ToT) serta kolaborasi manufaktur dengan industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Langkah ini sekaligus memperkuat kemandirian strategis dan diversifikasi alutsista nasional di samping pengadaan jet tempur Rafale asal Prancis, sehingga Indonesia tidak bergantung pada satu blok atau satu negara produsen saja.

Rencana akuisisi ini mencakup total 48 unit jet tempur KAAN yang pengirimannya diproyeksikan berlangsung secara bertahap selama jangka waktu 10 tahun. Kesepakatan bernilai tinggi tersebut tidak hanya meliputi unit fisik pesawat, melainkan juga paket komprehensif berupa dukungan logistik, pelatihan penerbang dan teknisi, penyediaan simulator, hingga integrasi sistem produksi komponen di dalam negeri.

Di kancah internasional, KAAN berkompetisi langsung dengan jajaran jet tempur generasi kelima buatan negara-negara maju. Pesaing utamanya antara lain Lockheed Martin F-35 Lightning II asal Amerika Serikat yang sangat populer namun terikat regulasi ketat, Sukhoi Su-57 buatan Rusia dengan fokus pertempuran jarak jauh dan manuver ekstrem, Chengdu J-20 milik Tiongkok yang mendominasi kawasan Asia Pasifik, serta KAI KF-21 Boramae dari Korea Selatan yang sebelumnya juga melibatkan Indonesia sebagai mitra pengembang. (*)

BACA JUGA: 42 Chengdu J-10 Total Anggaran Rp 146 T

Exit mobile version