“Memang saya disiden,” ucap Rocky Gerung dengan nada kelakar yang khas saat merespons kepemimpinan Prabowo Subianto. Namun, di balik “wajah bercanda” itu, tersimpan sebuah posisi politik yang amat serius.
WWW.JERNIH.CO – Dinamika politik Indonesia selalu menyuguhkan tontonan yang menarik, terutama ketika melibatkan sosok intelektual publik seperti Rocky Gerung. Sosok Rocky malah lebih mencuat saat acara pelantikan kabinet reshuffle terbaru pada 27 April 2026.
Usai pelantikan Presiden Prabowo menanyakan posisi Rocky yang desiden, seketika muncul pembicaraan netizen. Lalu, “Tapi anda lihat wajahnya wajah bercanda. Memang saya disiden,” ucap Rocky.
Pernyataan ini menjadi krusial karena di balik selipan humor tersebut, terkandung ketegasan prinsip. Mengaku sebagai disiden di hadapan atau terhadap penguasa bukan sekadar gaya bahasa, melainkan sebuah pernyataan posisi moral dan politik yang mendalam untuk menjaga jarak dengan kekuasaan.
Secara etimologis, istilah disiden berasal dari bahasa Latin dissidere, yang berarti “duduk terpisah”. Dalam konteks politik, disiden adalah seseorang yang secara aktif menantang doktrin, kebijakan, atau hukum yang ditetapkan oleh otoritas yang berkuasa.
Menjadi disiden tak sekadar “asal beda” atau oposisi yang mencari kursi kekuasaan. Seorang disiden sejati biasanya bergerak atas dasar integritas moral, ia mempertahankan kebenaran yang diyakini meski bertentangan dengan arus utama.
Selain itu ia mesti memiliki independensi intelektual dan menolak untuk didikte oleh narasi tunggal pemerintah. Bahkan ia siap menghadapi konsekuensi sosial maupun hukum demi menyuarakan kritik.
Mengapa pernyataan Rocky Gerung ini penting bagi kepemimpinan Prabowo? Sebuah pemerintahan yang sehat justru membutuhkan kritik yang tajam. Tanpa adanya disiden, kekuasaan akan terjebak dalam echo chamber (ruang gema), di mana semua orang hanya mengatakan “asal bapak senang”.
Rocky Gerung ingin memastikan bahwa di masa pemerintahan Prabowo, ruang publik tetap diisi oleh argumen, bukan sekadar sentimen dukungan. Dengan mengaku sebagai disiden—meski disampaikan dengan “wajah bercanda”—ia memberikan sinyal bahwa dukungan pribadinya hanya diberikan kepada prinsip-prinsip demokrasi, bukan kepada personifikasi jabatan.
Dalam kasus Rocky Gerung, ia memosisikan diri sebagai pengawas nalar publik. Baginya, kekuasaan cenderung korup jika tidak ada pikiran yang “duduk terpisah” untuk terus mengujinya.
Sejarah mencatat bahwa banyak tokoh besar yang memilih “jalan sunyi” sebagai disiden, mengorbankan kenyamanan pribadi demi prinsip yang lebih besar. Langkah mereka membuktikan bahwa kritik yang konsisten terhadap otoritas yang tidak adil mampu mengubah jalannya peradaban.
Salah satu contoh paling ikonik adalah Vaclav Havel di Cekoslowakia. Sebagai seorang penulis dan dramawan, Havel tidak menggunakan senjata, melainkan kata-kata untuk menelanjangi kebobrokan rezim komunis. Meski sempat dipenjara, integritas moralnya membawa ia bertransformasi dari seorang disiden menjadi presiden pertama negara tersebut yang dipilih secara demokratis.
Di belahan dunia lain, Nelson Mandela menjadi simbol disiden paling gigih dalam sejarah modern. Selama puluhan tahun, ia mendekam di balik jeruji besi karena keberaniannya menentang sistem Apartheid yang rasis di Afrika Selatan.
Mandela menunjukkan bahwa seorang disiden tidak hanya bertugas mengkritik, tetapi juga menjaga api harapan bagi kesetaraan ras. Keteguhannya akhirnya meruntuhkan tembok diskriminasi dan mengantarkannya sebagai pemimpin yang mampu mempersatukan bangsa yang sebelumnya terpecah belah.
Selain itu, sosok Andrei Sakharov dari Uni Soviet memberikan pelajaran berharga tentang transformasi intelektual. Sebagai seorang fisikawan nuklir jenius yang turut andil dalam pengembangan bom hidrogen, ia justru berbalik arah menjadi kritikus tajam terhadap perlombaan senjata dan pelanggaran hak asasi manusia oleh negaranya sendiri.
Meskipun menghadapi tekanan berat dari otoritas Soviet, Sakharov tetap teguh pada kemanusiaan dan perdamaian, membuktikan bahwa seorang disiden sejati berani melawan arus demi kebenaran universal, bahkan jika ia harus berhadapan dengan sistem yang ia bantu bangun sebelumnya.(*)
BACA JUGA: Rocky Gerung: Kristal Pertama Prabowo Adalah Sosialisme
