Jernih.co

Ryan Wedding, Atlet Kanada yang Menjadi Raja Kokain Dunia Ditangkap

Ia pernah membawa bendera negaranya di Olimpiade. Dua dekade kemudian, namanya justru terpampang di daftar “10 Paling Dicari” FBI, memimpin aliran kokain senilai triliunan rupiah dan memerintahkan pembunuhan lintas negara.

WWW.JERNIH.CO –  Kisah hidup Ryan James Wedding (44) mencatat salah satu perubahan nasib paling ekstrem dalam sejarah kejahatan internasional. Mantan atlet seluncur salju asal Kanada ini, yang pernah berlaga di Olimpiade Musim Dingin 2002, akhirnya ditangkap di Mexico City pada 22 Januari 2026. Penangkapan tersebut mengakhiri pelariannya sebagai salah satu gembong narkoba paling berbahaya dan paling diburu oleh Biro Investigasi Federal (FBI).

Ryan Wedding semula dikenal sebagai atlet profesional yang mewakili Kanada pada Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City. Ia turun di nomor parallel giant slalom dan finis di peringkat ke-24. Meski tidak meraih medali, penampilannya kala itu menempatkannya sebagai sosok atlet berpotensi. Namun, setelah Olimpiade, karier olahraganya perlahan meredup dan kehidupannya justru berbelok tajam ke arah yang gelap.

Menurut penyelidikan aparat penegak hukum, Wedding kemudian menjelma menjadi pemimpin kelompok kejahatan terorganisir lintas negara. Di dunia kriminal, ia dikenal dengan sejumlah alias, antara lain “El Jefe”, “Giant”, dan “Public Enemy”. Dari balik bayang-bayang, ia mengendalikan jaringan perdagangan narkoba berskala internasional yang membentang dari Amerika Selatan hingga Amerika Utara.

Wedding didakwa sebagai otak di balik sindikat penyelundupan kokain raksasa yang beroperasi di Kolombia, Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Ia dituduh bertanggung jawab atas pengiriman sekitar 60 ton kokain setiap tahun, yang diselundupkan dari Kolombia, melewati Meksiko, menuju California Selatan, sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah Amerika Utara.

Selain narkoba, Wedding juga dituding memerintahkan serangkaian aksi kekerasan dan pembunuhan, termasuk terhadap warga sipil dan saksi federal, sebagai bentuk balas dendam atas pencurian kiriman narkoba.

Aktivitas kriminalnya tidak berhenti di lapangan. Sindikat Wedding memanfaatkan mata uang kripto sebagai sarana pencucian uang untuk menyamarkan aliran dana ilegal. Transaksi digital digunakan untuk mengaburkan jejak keuangan, menjadikannya semakin sulit dilacak oleh otoritas.

Skala kejahatan dan kekejamannya membuat nama Ryan Wedding masuk ke dalam daftar FBI Ten Most Wanted Fugitives pada Maret 2025. Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah hingga Rp247,5 miliar, bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Untuk memburunya, aparat Amerika Serikat dan Kanada meluncurkan operasi gabungan bertajuk “Operation Giant Slalom”, sebuah ironi yang merujuk pada cabang olahraga yang pernah membesarkan namanya.

Setelah bertahun-tahun bersembunyi dengan perlindungan kartel narkoba di Meksiko, Wedding akhirnya ditangkap oleh otoritas setempat di Mexico City pada akhir Januari 2026. Saat ini, ia tengah menjalani proses ekstradisi ke Amerika Serikat dan akan diadili di Los Angeles. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara seumur hidup.

Dari jaringan narkoba tersebut, Ryan Wedding membangun kekayaan luar biasa. Pendapatan sindikatnya diperkirakan mencapai Rp16,5 triliun. Salah satu temuan paling mencengangkan adalah koleksi 62 unit motor balap langka—meliputi MotoGP, Moto2, dan Moto3—yang disimpan di sebuah garasi di Meksiko. Nilai koleksi ini ditaksir mencapai Rp660 miliar. Di dalamnya terdapat motor yang pernah digunakan legenda seperti Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, dan Marc Márquez, termasuk Aprilia 125cc yang dipakai Rossi saat meraih gelar juara dunia pertamanya.

Selain itu, FBI juga menyita berbagai aset mewah lainnya. Di antaranya adalah Mercedes CLK-GTR, mobil super langka bernilai Rp214,5 miliar, serta perhiasan dan karya seni bernilai jutaan dolar yang digunakan sebagai instrumen pencucian uang.

Dari aset digital, penyelidikan mengungkap bahwa Wedding menerima aliran dana kripto dalam jumlah sangat besar. Salah satu anak buahnya diduga mengirim lebih dari USD 200 juta dalam bentuk Tether (USDT) hanya dalam kurun enam bulan, yang jika dirupiahkan mencapai sekitar Rp3,3 triliun.

Transformasi Wedding dari atlet Olimpiade menjadi gembong narkoba tidak terjadi secara instan. Setelah karier olahraganya meredup, ia sempat bekerja sebagai penjaga keamanan kelab malam dan mencoba peruntungan di bisnis properti.

Langkah awalnya ke dunia kriminal dimulai dari produksi ganja skala besar di British Columbia, Kanada, melalui jaringan yang dikenal sebagai Eighteen Carrot Farms.

Menurut FBI, Wedding memiliki dorongan kompetitif dan adrenalin khas atlet, tetapi diarahkan ke jalur yang salah. Ambisi untuk “menaklukkan gunung” di arena olahraga berubah menjadi ambisi menguasai jalur distribusi kokain internasional.

Ia juga tercatat sebagai residivis. Pada 2010, Wedding pernah dijatuhi hukuman empat tahun penjara di Amerika Serikat karena berusaha membeli 24 kilogram kokain.

Alih-alih jera, setelah bebas ia justru membangun jaringan kriminal yang jauh lebih besar, bersekutu dengan Kartel Sinaloa dan menjadi salah satu figur paling ditakuti di dunia narkotika.(*)

BACA JUGA: Trump Sebut Kemungkinan akan Menyerang Kartel Narkoba ke Wilayah Meksiko

Exit mobile version