POTPOURRISpiritus

Setetes Embun: Benih dan Kesabaran

Benih iman itu awalnya kecil. Dia ditaburkan melalui pewartaan, cerita atau kesaksian hidup. Dia bertumbuh dalam hati dan pikiran manusia secara perlahan-lahan. Dari satu pribadi ke pribadi yang lain. Benih itu bertumbuh ketika manusia mengakui adanya Tuhan, melaksanakan kehendakNya dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. 

Penulis: P. Kimy Ndelo, CSsR

JERNIH-Seorang anak kelas 3 SD ditanya oleh gurunya: ” Berapa banyak orang besar pernah lahir di kota kita?” Anak itu menjawab: “Tak ada”. Gurunya kaget: “Apakah kamu tidak mengenal tokoh-tokoh besar yang pernah tercatat dalam sejarah kita?” Anak itu: ” Ya saya tahu. Tapi yang lahir di kota kita selamanya adalah bayi yang kecil yang kemudian menjadi orang-orang besar”.

Pikiran besar dan talenta hebat dalam banyak pribadi tak bisa dirancang terburu-buru. Bagaikan tanaman yang sehat, hal itu bertumbuh perlahan-lahan. Kadang bahkan amat meragukan, normal atau tidak. Kesabaran dalam proses banyak memberi bukti.

Thomas Edison, ketika masih kecil, oleh gurunya dianggap terlalu bodoh dan tidak bisa belajar sesuatu. Orangtuanya diminta mengeluarkan dia dari sekolah. Albert Einstein pada masa sekolah dianggap terlalu lamban dan lambat paham sehingga orangtuanya berpikir dia secara mental terbelakang. Sr. Rita Antoinette Rizza, dari keluarga miskin, menjadi biarawati ordo miskin, berhasil mendirikan jaringan televisi EWTN khusus untuk pelayanan iman, dengan modal awal beberapa ratus dolar amerika.

**

Kerajaan Allah berkembang dalam cara yang sama. Sejak awal, oleh Yesus, Kerajaan Allah diumpamakan benih yang kecil, ditanam dan bertumbuh menjadi besar. Dari sekelompok murid-murid yang nampaknya tak begitu pintar, berbakat, hebat, mereka berkembang, bertambah dan menjadi Gereja. Pelan tapi pasti Gereja ini berkembang seluas dunia dan menjadi seperti yang kita saksikan saat ini.

Benih iman itu awalnya kecil. Dia ditaburkan melalui pewartaan, cerita atau kesaksian hidup. Dia bertumbuh dalam hati dan pikiran manusia secara perlahan-lahan. Dari satu pribadi ke pribadi yang lain. Benih itu bertumbuh ketika manusia mengakui adanya Tuhan, melaksanakan kehendakNya dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. 

Proses itu bisa jadi sangat lambat dan pelan-pelan. Kadang bahkan seperti sia-sia. Dalam situasi ini ada bahaya orang bisa kehilangan harapan. Disinilah kita diajak melihat misteri karya Tuhan. 

Santo Paulus mengatakan: “Yang penting bukanlah yang menaman atau yang menyiram melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor 3,7).

Kita perlu sabar dan pantang menyerah karena kadang-kadang pertumbuhan mengambil waktu lebih lama dari yang kita bayangkan. Tuhan seringkali bekerja dalam cara yang tak kita pahami.

Allah tidak memanggil kita untuk melakukan SEGALA SESUATU. Allah memanggil kita untuk melakukan SESUATU. Tugas kita menaburkan benih. Bagaimana benih bertumbuh, itu urusan Tuhan.

Benih itu bisa berupa kebaikan, ketulusan, kejujuran, keadilan dan sebagainya. Semua bermula dari hal-hal kecil. Tapi lama-lama menjadi besar dan menjadi karya tak terlupakan.

Tak ada orang besar yang lahir. Mereka menjadi atau dibentuk. Tetapi proses itu bisa jadi lambat dan pelan-pelan. Untuk itu kita harus belajar untuk melatih kesabaran menanti hasil suatu kebaikan yang ditabur. Dalam dunia yang serba instan, kesabaran kadang menjadi barang mahal dan jarang ditemukan.

Bacaan kitab suci hari mengajar dan mengajak kita untuk melatih kesabaran. Kesabaran bukan sekedar kemampuan untuk menunggu, melainkan tentang bagaimana perilaku kita selama menunggu.

(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Weetebula, Sumba tanpa Wa)

Back to top button